Semarang, IDN Times – Kelangkaan komponen chip semikonduktor dan gangguan rantai pasok global memicu kenaikan harga laptop. Salah satu produsen laptop, ASUS mengaku harus menaikkan harga di tingkat konsumen hingga 50 persen.
Komponen Global Langka, Harga Laptop ASUS Naik hingga 50 Persen

1. Ketergantungan industri terhadap pasokan komponan dari luar negeri tinggi
Head of Corporate Communication ASUS Indonesia, Muhammad Firman mengungkapkan, ketergantungan industri laptop terhadap pasokan komponen dari luar negeri sangat tinggi. Saat ini, kelangkaan dipicu oleh tingginya kebutuhan mikroprosesor untuk industri kecerdasan buatan (AI) serta konflik di Timur Tengah yang mengganggu pengiriman logistik global.
"Produsen semikonduktor, baik untuk prosesor, chip storage, SSD, hingga RAM, saat ini lebih fokus memasok kebutuhan untuk AI data center. Akibatnya, produsen komponen elektronik consumer mengalami shortage. Maka mau tidak mau, harganya pun meningkat," ungkapnya di Semarang, Jumat (26/6/2026).
Dampak kelangkaan komponen ini sangat terasa pada harga produk final di tahun 2026 jika dibandingkan dengan harga sebelum krisis pada tahun 2025. Laptop dengan spesifikasi yang sama kini mengalami kenaikan harga hingga 50 persen.
"Sebagai contoh, laptop dengan prosesor Core i3 yang pada tahun 2025 masih bisa didapatkan di harga Rp6 jutaan, tahun ini harganya naik menjadi sekitar Rp8 jutaan," jelas Firman.
Lebih lanjut, Firman memprediksi tren kenaikan ini masih akan berlanjut. Pada akhir tahun 2026, selisih kenaikan harga untuk produk yang sama dibanding tahun 2025 diproyeksikan bisa mencapai 150 hingga 170 persen, tergantung pada kondisi pasar, ketersediaan chip, dan masalah rantai pasok.
2. Hambat produsen hadirkan laptop berteknologi AI
Kondisi ini juga menghambat produsen untuk menghadirkan laptop berteknologi AI dengan harga yang lebih terjangkau. Padahal, dari sisi teknologi, prosesor dan VGA terbaru yang ada saat ini sebenarnya sudah sangat mendukung pemrosesan AI secara lokal.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada peta penjualan laptop. Menurut Firman, segmen entry level seperti pelajar dan mahasiswa menjadi pihak yang paling sensitif terhadap perubahan harga ini. Akibat kenaikan harga sekitar 50 persen ini, terjadi penurunan permintaan di segmen tersebut sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun lalu.
Sebaliknya, segmen flagship dan pasar bisnis (Business-to-Business/B2B) cenderung tidak terlalu terdampak karena memiliki anggaran belanja yang sudah ditetapkan dari tahun-tahun sebelumnya, meskipun kuantitas unit yang didapatkan akhirnya berkurang akibat penyesuaian harga.
Menyiasati situasi makro yang tidak menentu ini, ASUS Indonesia memutar otak dengan mengalihkan fokus bisnis mereka.
"Karena kami tidak bisa melawan kondisi yang terjadi, kami mengubah fokus. Dari yang tadinya fokus di segmen entry yang sensitif harga, kami beralih lebih fokus ke segmen B2B, komersial, atau proyek melalui ASUS Business Series (Expert Series)," terang Firman.
3. Harapkan TKDN bisa jadi solusi
Sementara untuk segmen konsumen entry level, ASUS menyiasatinya dengan menawarkan nilai lebih pada layanan purna jual guna mengimbangi kenaikan harga yang tidak bisa dihindari. Salah satu strateginya adalah melakukan pendekatan pengadaan langsung ke sekolah-sekolah dengan jaminan layanan perbaikan di tempat.
Dalam mengantisipasi masalah rantai pasok ini, Firman menilai kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang diterapkan pemerintah dapat menjadi solusi efektif untuk meredam ketidakpastian supply chain.
ASUS sendiri menyatakan telah siap dan sudah melakukan perakitan lokal di Batam bekerja sama dengan PT Satnusa. Menurutnya, jika komitmen pengadaan barang wajib TKDN diperketat, produsen dapat melakukan pemesanan komponen secara terencana dalam jumlah besar, yang secara otomatis mempermudah pemenuhan pasokan komponen dari prinsipal dibanding melakukan pembelian eceran di tengah masa kelangkaan.