Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lampaui Target, Indonesia Bawa Pulang 15 Emas dari Asian Para Games

Kota Surakarta
6 min read
Lampaui Target, Indonesia Bawa Pulang 15 Emas dari Asian Para Games
Kepulangan kontingen Asian Para Games 2026. (Dok/Istimewa)
  • Kontingen Indonesia meraih 73 medali di Asian Para Games 2026 Nagoya, termasuk 15 emas, melampaui target pemerintah dan finis peringkat kedelapan klasemen akhir.
  • Sembilan cabang olahraga menyumbang medali; boccia meraih empat emas, sementara para atletik mengoleksi medali terbanyak dengan 22 medali.
  • NPC menyoroti kebutuhan pelatnas lebih panjang untuk memperkuat fisik atlet, sembari menyiapkan ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade Los Angeles 2028.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surkarta, IDN Times – Kontingen Indonesia menorehkan prestasi membanggakan di Asian Para Games 2026. Pulang dari Nagoya, Jepang, para atlet disabilitas Merah Putih membawa total 73 medali, terdiri dari 15 emas, 21 perak, dan 37 perunggu. Capaian ini sekaligus melampaui target pemerintah dan mengantarkan Indonesia finis di peringkat kedelapan klasemen akhir.

Kedatangan para atlet, pelatih, dan ofisial disambut di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Boyolali, Minggu (25/10/2026) pukul 18.00 WIB. Keberhasilan kontingen Indonesia menjadi bukti perjuangan dan kerja sama seluruh elemen dalam menghadapi persaingan ketat di pesta olahraga atlet disabilitas terbesar se-Asia tersebut.

Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia, Reda Manthovani, mengapresiasi kerja keras atlet, pelatih, National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, serta seluruh pihak yang memberikan dukungan.

“Kita hanya bersyukur, karena ini berkat kerja sama yang solid antara NPC, atlet, para pelatih, dan juga para pendukung lainnya. Dengan kekompakan ini, soliditas ini, akhirnya kita bahu-membahu di pertandingan,” ujar Reda.

  1. 1. Raih 15 Emas, Indonesia Lampaui Target Pemerintah.

    IMG_6717.jpeg
    Kepulangan kontingen Asian Para Games 2026. (Dok/Istimewa)

    Perolehan 15 medali emas menjadi pencapaian istimewa bagi kontingen Indonesia. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat target awal pemerintah, yakni tujuh emas, delapan perak, dan 17 perunggu.

    Secara keseluruhan, Indonesia mengumpulkan 73 medali, jauh melampaui target 32 medali yang telah ditetapkan sebelum keberangkatan ke Nagoya.

    Reda mengatakan target awal disusun berdasarkan catatan dan perhitungan sebelum pertandingan. Namun, menurutnya, prestasi sesungguhnya ditentukan oleh kemampuan atlet saat menghadapi lawan di arena.

    “Kalau dihitung di atas kertas, target kita kan hanya 7 emas, 8 perak, 17 perunggu, berdasarkan catatan. Tetapi saya selalu bilang, prestasi itu ditentukan di medan pertandingan, tidak di atas kertas. Karena di dalam pertandingan itu diperlukan stamina, strategi, dan mental juara,” tegasnya.

    Keberhasilan ini juga dinilai sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama misi keempat yang berkaitan dengan prestasi olahraga serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

    Sebanyak sembilan cabang olahraga menyumbangkan medali untuk Indonesia. Boccia menjadi salah satu cabang yang paling mencuri perhatian setelah meraih empat emas dari empat medali yang diperoleh.

    Sementara itu, para atletik menjadi penyumbang medali terbanyak dengan total 22 medali, terdiri dari tiga emas, delapan perak, dan 11 perunggu.

    Para bulu tangkis turut menyumbang tiga emas, tiga perak, dan enam perunggu. Para renang mengoleksi tiga emas, empat perak, dan dua perunggu. Adapun para balap sepeda menyumbangkan satu emas dan empat perunggu, sedangkan para tenis meja meraih satu emas dan enam perunggu.

    Cabang para angkat berat menambah dua perak dan lima perunggu. Para panahan menyumbangkan tiga perak dan satu perunggu, melampaui target dua medali perak. Sementara itu, para judo membawa pulang satu perak dan dua perunggu.

  2. 2. Boccia Bersinar, tetapi Persiapan Fisik Atlet Jadi Evaluasi.

    IMG_6715.jpeg
    Kepulangan kontingen Asian Para Games 2026. (Dok/Istimewa)

    Reda secara khusus menyoroti penampilan tim boccia Indonesia yang tampil dominan sejak babak kualifikasi. Menurutnya, perkembangan cabang olahraga tersebut menunjukkan hasil positif dari proses pembinaan yang dijalankan.

    Indonesia bahkan mampu mengalahkan Korea Selatan, negara yang sebelumnya menjadi tempat atlet boccia Indonesia mempelajari cabang olahraga tersebut.

    “Boccia memang dari prakualifikasi saja, sebelum ke Asian Para Games, itu ada pertandingan-pertandingan kualifikasi untuk mendapatkan tiket. Di situ memang kita juara. Kita belajar boccia ini di Korea Selatan, tapi bahkan kita bisa mengalahkan Korea Selatan,” ungkap Reda.

    Meski berhasil melampaui target, Reda menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi, terutama kondisi fisik atlet. Ia melihat beberapa atlet yang gagal meraih medali atau hanya mendapatkan perunggu memiliki kemampuan teknik dan strategi yang baik, tetapi belum cukup kuat secara fisik untuk bersaing hingga akhir pertandingan.

    Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah durasi pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang hanya berlangsung selama tiga bulan.

    “Saya melihat beberapa atlet yang belum mendapatkan medali, ataupun yang baru hanya perunggu, itu kalah lebih banyak karena fisik. Kalau teknik, strategi, mereka sudah bagus-bagus, tetapi kalah di fisik. Karena pelatnasnya cuma tiga bulan,” ujar Reda.

    Ia berharap pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dapat memberikan dukungan agar masa pelatnas diperpanjang. Dengan persiapan yang lebih panjang, atlet diharapkan memiliki kondisi fisik yang lebih optimal saat menghadapi kompetisi internasional.

    “Mudah-mudahan pemerintah, Kemenpora dalam hal ini, lebih bisa mendukung, supaya ada perpanjangan pelatnas,” katanya.

    Selain dukungan pemerintah, Reda juga membuka peluang keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pembinaan dan pengembangan atlet disabilitas Indonesia.

    “Kalau memang belum ada kesempatan dari Kemenpora, nanti kita harapkan para pengusaha yang punya CSR untuk membantu terciptanya atlet-atlet disabilitas yang berprestasi,” ujarnya.

  3. 3. Indonesia Bidik ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028.

    IMG_6714.jpeg
    Kepulangan kontingen Asian Para Games 2026. (Dok/Istimewa)

    Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun, turut mengapresiasi perjuangan para atlet di Asian Para Games 2026. Ia mengakui persaingan di Nagoya berlangsung ketat karena Indonesia harus berhadapan dengan atlet-atlet dari puluhan negara Asia.

    “Semuanya berat sih, semuanya berat. Tapi ini Asia, 45 negara,” kata Senny.

    Meski peringkat Indonesia turun dibandingkan edisi sebelumnya, Senny menilai perolehan 15 medali emas merupakan hasil yang sangat baik karena jauh melampaui target awal.

    “Kita dapat emas 15 dari target 7, sudah luar biasa,” imbuhnya.

    Senny menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi posisi Indonesia di klasemen akhir adalah tidak dipertandingkannya cabang para catur di Nagoya. Padahal, cabang tersebut menjadi salah satu penyumbang medali emas terbesar Indonesia pada Asian Para Games 2022 di Hangzhou, China.

    Pada edisi sebelumnya, para catur menyumbangkan 10 emas, tujuh perak, dan delapan perunggu bagi Indonesia.

    “Soalnya nggak ada catur. Alasannya itu, padahal catur penyumbang emas,” jelas Senny.

    Setelah menyelesaikan perjuangan di Nagoya, kontingen Indonesia kini bersiap menghadapi agenda olahraga internasional berikutnya. ASEAN Para Games 2027 di Malaysia menjadi target terdekat sebelum para atlet berjuang di Paralimpiade Los Angeles 2028.

    Reda berharap para atlet hanya mendapatkan waktu istirahat secukupnya sebelum kembali menjalani pelatnas. Menurutnya, kesinambungan latihan penting untuk menjaga kondisi fisik dan performa atlet agar tidak menurun setelah kompetisi.

    “Setelah pertandingan ini, ya dikasih istirahat sekadar, tapi saya harapkan bisa balik lagi, kalau memang Kemenpora bisa mendukung pelatnas ini. Karena di tahun depan sudah ada ASEAN Para Games 2027, dan di tahun 2028 ada Paralimpiade. Kalau kita nggak langsung pelatnas, mereka lepas, akhirnya bisa makan sembarangan,” jelasnya.

    Sementara itu, Senny menegaskan NPC Indonesia siap menjalankan arahan pemerintah untuk mempersiapkan atlet menghadapi ASEAN Para Games 2027. Ia berharap Indonesia mampu kembali bersaing di papan atas dan merebut gelar juara umum.

    Dengan torehan 15 emas di Asian Para Games 2026, Indonesia memiliki modal positif untuk melanjutkan pembinaan atlet disabilitas. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi prestasi melalui persiapan yang lebih matang, dukungan berkelanjutan, serta peningkatan kualitas latihan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More