Manuskrip Keraton Solo Menua, 21 Ribu Halaman Mulai Digitalisasi

- Sebanyak 21.000 halaman manuskrip kuno Karaton Kasunanan Surakarta mulai didigitalisasi selama sekitar dua tahun oleh Manasa dan Perpustakaan Nasional, didukung British Library.
- Program ini melindungi isi naskah yang fisiknya menua dan rentan rusak, sambil melibatkan mahasiswa UNS serta mencakup pendataan, metadata, dan katalog digital.
- Koleksi memuat pengetahuan agama, filsafat, pengobatan, pertanian, hingga arsitektur; hasil digitalisasi akan disimpan di beberapa lembaga untuk memperluas akses penelitian dan publik.
Solo, IDN Times - Ribuan halaman manuskrip kuno yang tersimpan di Sasono Pustoko Karaton Kasunanan Surakarta mulai didigitalisasi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga warisan pengetahuan berusia ratusan tahun agar tidak hilang akibat kerusakan fisik sekaligus membuka akses bagi masyarakat luas untuk mempelajari isinya.
Sebanyak 21.000 halaman manuskrip ditargetkan masuk dalam program digitalisasi yang resmi dimulai melalui kegiatan selamatan di Sasono Pustoko, Senin (28/9/2026). Program ini dikerjakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) bersama Perpustakaan Nasional RI, dengan dukungan British Library dari Inggris.
Digitalisasi tersebut direncanakan berlangsung selama sekitar dua tahun. Selain mendokumentasikan isi naskah, program ini juga mencakup pendataan, pembuatan metadata, dan katalog untuk memudahkan penelusuran koleksi secara digital.
1. Manuskrip Berusia Ratusan Tahun Berisiko Rusak

Sasana Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. (IDN Times/Larasati Rey) Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Kasunanan Surakarta, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan program digitalisasi telah dirancang sejak sekitar satu setengah tahun lalu. Pelaksanaannya baru bisa dimulai setelah seluruh proses administrasi selesai.
"Hari ini kita mengadakan selamatan untuk memulai proyek digitalisasi yang dibantu Manasa Pusat Surakarta dan Perpustakaan Nasional. Program ini sudah kami rancang sekitar satu setengah tahun lalu dan baru hari ini administrasinya selesai," ujar Gusti Moeng di Kraton Solo.
Menurutnya, koleksi yang kini tersimpan di Sasono Pustoko sebelumnya tersebar di sejumlah tempat sebelum dihimpun pada masa pemerintahan Paku Buwono X.
Digitalisasi diharapkan membantu menjaga isi manuskrip agar tetap dapat dipelajari meskipun kondisi fisik kertas terus menua. Sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) juga akan dilibatkan dalam proses pengerjaan proyek tersebut.
Sementara itu, KRAT Supardjo Dwijo Hadi Nagoro, abdi dalem Sasono Pustoko, berharap upaya digitalisasi diikuti dengan konservasi dan perbaikan terhadap naskah yang kondisinya mulai rusak.
"Diharapkan nanti yang kondisinya rusak juga dikonservasi, termasuk dilakukan reparasi supaya naskah bisa lebih awet," ujarnya.
2. Bukan Sekadar Sastra Jawa, Manuskrip Menyimpan Banyak Ilmu.

Sasana Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. (IDN Times/Larasati Rey) Alasan lain digitalisasi dilakukan adalah karena manuskrip keraton menyimpan beragam pengetahuan yang masih berpotensi dipelajari hingga sekarang.
Supardjo menjelaskan, isi naskah tidak terbatas pada kebudayaan Jawa. Koleksi tersebut juga mencakup pengetahuan agama, filsafat, kesenian, sastra, arsitektur, pengobatan, pertanian hingga primbon.
"Semua aspek kebutuhan manusia sebenarnya ada di dalam naskah. Karena itu, keberadaan naskah ini perlu diperhatikan dan dijaga," katanya.
Selama ini, Sasono Pustoko juga menjadi tempat penelitian bagi akademisi dari berbagai disiplin ilmu. Sejumlah peneliti memanfaatkan manuskrip untuk mengkaji tanaman herbal, ramuan tradisional, pertanian, hingga arsitektur bangunan Jawa.
Melalui digitalisasi, sumber pengetahuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan lebih luas tanpa harus selalu mengakses naskah fisik yang rentan mengalami kerusakan akibat usia maupun penanganan berulang.
3. Digitalisasi Buka Akses Pengetahuan Keraton ke Dunia.

Sasana Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. (IDN Times/Larasati Rey) Dari Perpustakaan Nasional RI, Aris Riyadi mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari digitalisasi berkode EAP1830 dalam Endangered Archives Programme (EAP), yang dicanangkan British Library dengan pendanaan Arcadia Foundation.
Program EAP bertujuan melestarikan dan mendigitalkan arsip berharga yang terancam rusak atau musnah di berbagai negara.
Aris menilai keterbukaan Karaton Kasunanan Surakarta terhadap digitalisasi menjadi langkah penting untuk memperluas akses terhadap manuskrip yang selama ini tersimpan di lingkungan keraton.
"Ini momen yang sangat penting bagi kami karena Keraton Kasunanan Surakarta menunjukkan keterbukaan yang sangat luas terhadap akses manuskrip yang ada di keraton," katanya.
Dalam pelaksanaannya, tim tidak hanya memotret halaman demi halaman manuskrip. Setiap naskah juga akan didata dan dilengkapi metadata serta katalog agar koleksi lebih mudah ditemukan melalui sistem digital.
"Jadi tidak hanya mengambil gambar atau memotret naskah, tetapi juga membuat metadata dan katalog. Dengan begitu proses pencarian di dalam sistem nantinya menjadi lebih mudah," jelas Aris.
Sebelum pemotretan dimulai, tim akan menjalani pelatihan untuk memastikan proses dokumentasi memperhatikan kondisi fisik naskah. Hasil digitalisasi nantinya disimpan di beberapa tempat, termasuk Sasono Pustoko, Perpustakaan Nasional, dan British Library.
Dengan target digitalisasi 21.000 halaman, proyek ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan informasi dalam manuskrip kuno sekaligus memperluas jangkauan pengetahuan yang tersimpan di Karaton Kasunanan Surakarta kepada peneliti, pegiat budaya, dan masyarakat internasional.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















