Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menjaga Api di Balik Semangkuk Bubur Manado

Kota Semarang
4 min read
Menjaga Api di Balik Semangkuk Bubur Manado
Deborah Gita Sakinah (31) berinteraksi dengan pengunjung berhelm di jendela pelayanan Kedai Takeone, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/10/2026). Selain melayani pembeli yang datang langsung, usaha kuliner yang dirintis Deborah sejak 2018 ini menerima pesanan melalui layanan daring dan katering.
  • Deborah Gita Sakinah mengembangkan bubur Manado sebagai menu terlaris Kedai Takeone di Semarang sejak 2018, dengan menyesuaikan masakan Nusantara pada bahan yang tersedia lokal.

  • Daun gedi diganti selada air atau kenci, sementara sambal roa disulih pampis tuna; strategi ini menjaga karakter hidangan sekaligus menekan logistik dan ketergantungan pasokan antarpulau.

  • Kedai Takeone memakai Bright Gas nonsubsidi dan memesan melalui MyPertamina untuk menjaga operasional dapur; pekerja perempuan juga mandiri mengganti tabung serta memasang regulator.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Deborah meracik bubur Manado menggunakan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh di Semarang tanpa menanggalkan karakter asli hidangan asal Sulawesi Utara tersebut. Di dapur Kedai Takeone, adaptasi resep itu berjalan beriringan dengan ketangguhan pekerja perempuan, tata kelola pasokan digital melalui MyPertamina, serta penggunaan LPG nonsubsidi untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Semarang, IDN Times - Seorang perempuan bercelemek merah sigap memasukkan genggam demi genggam sayuran hijau ke dalam panci berisi bubur yang mengepul. Tidak jauh darinya, dua pekerja lain meracik bumbu dan menata lauk pelengkap di meja kerja. Sejak pagi pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB, kesibukan serupa rutin mengisi dapur Kedai Takeone di Kota Semarang, Jawa Tengah. Di kedai yang awalnya dirintis dengan mengandalkan menu tekwan Palembang ini, bubur Manado justru melesat menjadi hidangan paling laris.

Perjalanan kuliner itu dimulai pada 2018 ketika Deborah Gita Sakinah (31), lulusan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), membangun Kedai Takeone yang berlokasi di Jalan Taman Gedung Batu Raya Nomor 16 Simongan, tepatnya di sebelah persis Sam Poo Kong Semarang. Sejak awal, ia berupaya menghadirkan ragam masakan Nusantara yang akrab dengan lidah warga lokal sekaligus menyesuaikan ketersediaan bahan baku di pasar setempat. Ia memilih tidak memaksakan keaslian resep secara kaku.

Untuk seporsi bubur Manado, daun gedi yang langka di Semarang ia ganti dengan selada air atau kenci, sedangkan sambal roa disulih dengan pampis tuna. Kenci dipilih bukan tanpa alasan: teksturnya tetap renyah dan warnanya tetap segar saat terkena panas, berbeda dengan bayam yang lekas layu dan menghitam. Pendekatan serupa diterapkan pada menu lain, seperti tahu gejrot yang menggunakan tahu pong khas Semarang berpadu kuah cuko pempek.

Deborah Gita Sakinah (31), pemilik Kedai Takeone, berfoto di depan tanaman hijau di Semarang, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Deborah Gita Sakinah (31), pemilik Kedai Takeone, berfoto di depan tanaman hijau di Semarang, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Keputusan menyubstitusi bahan baku itu berdampak langsung pada efisiensi rantai pasok kedai. Dengan menyerap komoditas pasar lokal di Semarang, Deborah memangkas ketergantungan pada pengiriman bahan pangan antarpulau dari Sulawesi Utara. Langkah ini tidak hanya menekan biaya logistik dan menjaga kestabilan harga jual, tetapi juga memperpendek jarak angkut bahan pangan yang berimplikasi pada pengurangan jejak emisi karbon transportasi jarak jauh. Bagi Deborah, merawat identitas kuliner Nusantara tidak harus berarti mendatangkan seluruh bahan dari tanah kelahiran resep tersebut.

Kelancaran olah bahan di dapur itu menuntut dukungan pasokan energi yang sama stabilnya, terlebih Kedai Takeone harus melayani pembeli makan di tempat, pesanan daring, hingga katering. Untuk menopang aktivitas memasak harian di dapur utama, Deborah menggunakan Bright Gas, produk LPG nonsubsidi dari Pertamina. Dibandingkan LPG 3 kilogram bersubsidi yang diperuntukkan bagi rumah tangga prasejahtera dan usaha mikro, kapasitas tabung Bright Gas dinilai lebih memadai untuk ritme kerja dapurnya.

Deborah menyiapkan bahan masakan di dekat panci yang terjerang di atas nyala api biru kompor LPG di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/
Deborah menyiapkan bahan masakan di dekat panci yang terjerang di atas nyala api biru kompor LPG di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Dari pengalaman transisi energinya, pemakaian tabung 3 kilogram di dapur utama membuat gas cepat habis di tengah jam sibuk sehingga frekuensi bongkar-pasang tabung menjadi terlalu tinggi.

Agar dapur tidak kehabisan bahan bakar di tengah pesanan yang padat, Deborah mengombinasikan dua jalur pengadaan. Selain mengandalkan agen pemasok langganan, Kedai Takeone memesan Bright Gas melalui fitur Pertamina Delivery Service pada aplikasi MyPertamina. Kemudahan pengadaan dari layar ponsel itu berlanjut dengan kemandirian para pekerja perempuan di ruang produksi. Ketika tabung pengganti tiba di kedai, para pekerja perempuan terbiasa mengangkat tabung hingga memasang sendiri katup regulator ke kompor. Mereka tidak perlu menunggu bantuan rekan kerja laki-laki saat gas habis di tengah proses memasak.

Dari keberanian mengganti daun gedi dengan kenci hingga kemandirian mengelola pasokan Bright Gas, Deborah menavigasi usahanya lewat keputusan-keputusan praktis yang mempertemukan tradisi kuliner dengan efisiensi bisnis. Semangkuk bubur Manado hangat yang tersaji di meja pelanggan pada akhirnya tidak hanya soal rasa, melainkan buah dari adaptasi bahan pangan lokal, kemandirian pekerja perempuan, dan keandalan pasokan energi yang menjaga api dapur Kedai Takeone tetap menyala.

  1. Kenci Pengganti Daun Gedi

    Deborah Gita Sakinah (31) memasukkan kenci atau selada air ke dalam panci bubur Manado di dapur Kedai Takeone, Kota Semarang, Jawa Tengah, R
    Deborah Gita Sakinah (31) memasukkan kenci atau selada air ke dalam panci bubur Manado di dapur Kedai Takeone, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/10/2026). Pemilik kedai, Deborah, mengganti daun gedi yang sulit diperoleh di Semarang dengan kenci agar pasokan bahan baku lebih terjamin dan ekonomis. Kenci dipilih karena teksturnya tetap segar saat dimasak, berbeda dengan bayam yang cepat layu dan menghitam. (IDN Times/Dhana Kencana)
  2. Ketika Bubur Manado Melampaui Tekwan

    Sejumlah pelanggan menikmati hidangan di ruang makan Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Saat dirintis Deborah pada 2018, kedai ini
    Sejumlah pelanggan menikmati hidangan di ruang makan Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Saat dirintis Deborah pada 2018, kedai ini semula menjagokan tekwan sebagai menu utama sebelum bubur Manado berbalik menjadi sajian paling diminati pelanggan. Tingginya minat pembeli menunjukkan kuliner tradisional Nusantara tetap kompetitif di tengah maraknya pilihan makanan modern. (IDN Times/Dhana Kencana)
  3. Meracik Rasa Lintas Daerah

    Deborah Gita Sakinah (kanan) dan pekerja menyiapkan bahan masakan dan pelengkap menu di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Se
    Deborah Gita Sakinah (kanan) dan pekerja menyiapkan bahan masakan dan pelengkap menu di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Selain bubur Manado dan tekwan, kedai ini menyajikan pempek, ketoprak, serta tahu gejrot yang diadaptasi menggunakan komoditas pasar setempat.
  4. Pesan Energi lewat Aplikasi Digital

    Layar ponsel Deborah menampilkan katalog produk Bright Gas pada fitur Pertamina Delivery Service di aplikasi MyPertamina yang diakses dari K
    Layar ponsel Deborah menampilkan katalog produk Bright Gas pada fitur Pertamina Delivery Service di aplikasi MyPertamina yang diakses dari Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Selain memesan dari agen pemasok langganan, Deborah memanfaatkan kanal digital tersebut untuk menjaga ketersediaan LPG nonsubsidi bagi operasional dapurnya. Opsi pemesanan daring ini memudahkan kedai mengatur stok bahan bakar tanpa harus meninggalkan aktivitas produksi. (IDN Times/Dhana Kencana)
  5. Pasokan Energi di Tangan Pekerja Lintas Gender

    Seorang pekerja mengangkat tabung Bright Gas melintasi halaman samping Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Di kedai ini, urusan logi
    Seorang pekerja mengangkat tabung Bright Gas melintasi halaman samping Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Di kedai ini, urusan logistik dapur hingga pemindahan tabung LPG tidak hanya bertumpu pada pekerja laki-laki. Para pekerja perempuan ikut mengambil peran langsung dalam memastikan ketersediaan energi memasak setiap hari. (IDN Times/Dhana Kencana)
  6. Mandiri Memasang Regulator

    Deborah Gita Sakinah (31) memasang regulator pada katup tabung Bright Gas di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Deborah dan p
    Deborah Gita Sakinah (31) memasang regulator pada katup tabung Bright Gas di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Deborah dan para pekerja perempuan di dapur tersebut terbiasa mengganti tabung dan memasang regulator secara mandiri ketika tidak ada rekan kerja laki-laki. Kemandirian teknis ini membuat proses memasak tidak terhambat saat gas habis di jam sibuk. (IDN Times/Dhana Kencana)
  7. Beralih ke LPG Nonsubsidi di Dapur Utama

    Tabung Bright Gas terpasang di bawah meja kerja dekat kompor saat Deborah Gita Sakinah (31) memasak di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (
    Tabung Bright Gas terpasang di bawah meja kerja dekat kompor saat Deborah Gita Sakinah (31) memasak di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Kedai ini mengandalkan LPG nonsubsidi untuk operasional harian karena kapasitasnya lebih memadai dibandingkan tabung LPG 3 kilogram bersubsidi yang lebih cepat habis untuk ritme masak kedai. (IDN Times/Dhana Kencana)
  8. Menjaga Nyala Api Sepanjang Jam Operasional

    Deborah Gita Sakinah (31) mengaduk bubur Manado di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Beroperasi sejak 07.00 WIB hingga pukul
    Deborah Gita Sakinah (31) mengaduk bubur Manado di dapur Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Beroperasi sejak 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, dapur kedai membutuhkan pasokan api yang stabil untuk menyiapkan berbagai menu secara bergantian. Ketersediaan LPG berkapasitas memadai menjaga proses pemasakan dan pemanasan hidangan tetap lancar saat pesanan datang bersamaan. (IDN Times/Dhana Kencana)
  9. Rasa Manado, Adaptasi Semarang

    Semangkuk bubur Manado tersaji lengkap dengan lauk pampis tuna dan sambal di Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Selain mengganti da
    Semangkuk bubur Manado tersaji lengkap dengan lauk pampis tuna dan sambal di Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Selain mengganti daun gedi dengan kenci, Deborah menyulih sambal ikan roa khas Sulawesi Utara dengan olahan pampis tuna. Penyesuaian bahan ini menjaga cita rasa gurih-pedas khas Manado tetap hadir di lidah pelanggan sekaligus memangkas rantai pasok bahan baku dari luar pulau. (IDN Times/Dhana Kencana)
  10. Dari Dapur ke Meja Pelanggan

    Deborah Gita Sakinah (31) mengantarkan pesanan hidangan kepada pelanggan di Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Selain melayani pemb
    Deborah Gita Sakinah (31) mengantarkan pesanan hidangan kepada pelanggan di Kedai Takeone, Semarang, Rabu (28/10/2026). Selain melayani pembeli yang makan di tempat, kedai ini memenuhi pesanan melalui layanan pesan-antar daring serta katering. Perpaduan adaptasi bahan pangan lokal, kemandirian pekerja, dan tata kelola energi melalui Bright Gas serta MyPertamina menjadi fondasi operasional harian usaha tersebut. (IDN Times/Dhana Kencana)
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More