Bagi pakar efisiensi energi Mada Ayu Habsari, langkah RS Roemani mematikan saklar dan mengganti alat boros adalah fondasi yang baik. Namun, dia menekankan bahwa akar permasalahan tagihan listrik rumah sakit yang membengkak seringkali terletak pada praktik manajemen fasilitas yang kurang efisien.
Secara khusus, sering terjadi penerapan suhu pendingin udara yang seragam dan tidak terdiferensiasi di seluruh area gedung, terlepas dari fungsi ruangan, tingkat hunian, atau kebutuhan spesifik pasien. Pendekatan "satu suhu untuk semua" itu mengabaikan potensi penghematan energi yang signifikan.
Ia mencontohkan, area administrasi yang tidak beroperasi 24 jam seharusnya tidak memerlukan pendinginan seintensif ruang operasi atau unit perawatan intensif (ICU) yang membutuhkan kondisi steril dan suhu yang sangat terkontrol.
“Inefisiensi tersebut menunjukkan perlunya audit energi yang komprehensif dan implementasi sistem manajemen gedung (Building Management System/BMS) yang lebih cerdas dan adaptif, yang mampu mengoptimalkan suhu berdasarkan zona, waktu, dan kebutuhan aktual, alih-alih mengandalkan pengaturan statis,” aku Mada saat dihubungi IDN Times, Jumat (10/4/2026).
Oleh karena itu, untuk jangka panjang, Mada juga menyarankan untuk penggunaan Building Automation System (BAS) agar kendali energi tidak semata bergantung pada patroli manusia.
Direktur 1000 Cahaya, Hening Parlan, juga memiliki pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa pengelolaan energi di rumah sakit sangatlah rumit, seperti berjalan di atas tali, karena gedung harus beroperasi 24 jam dengan standar keselamatan yang sangat ketat.
"Suhu dan ventilasi harus tepat. Penghematan tidak boleh dilakukan sembarangan," tegas Hening.
Menjawab tantangan tersebut, RS Roemani kini bersiap "naik kelas". Pada menara baru Gedung Ibrahim setinggi 13 lantai—yang rencananya diresmikan pertengahan 2026—manajemen akan menerapkan sistem pendingin sentral berjenis chiller. Kompresor cerdas tersebut diklaim mampu membaca kebutuhan ruangan dan otomatis menyesuaikan tarikan daya dengan jumlah orang di dalamnya.
Bangunan RS Roemani Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Efisiensi energi di RS Roemani pada akhirnya tidak hanya berdampak pada aspek keuangan, tetapi juga berhasil mengubah pola pikir karyawannya. Sebagai contoh, Mualiman, komandan keamanan, yang terbiasa menertibkan penggunaan listrik di tempat kerjanya, secara bertahap menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan pribadinya di rumah.
Kini, ia mengaku menjadi lebih hemat dalam pengeluaran luar, seperti memangkas jajan, demi menabung untuk pendidikan anaknya.
“Kita bisa sinau urip (belajar hidup) di rumah sakit ini,” tutur Mualiman. “Seakeh-akehe duit diterima di tangan, kalau tidak bersyukur ya kurang. Berapa pun yang kita dapat, dengan syukur pasti cukup,” renungnya.
Inti dari pengalaman itu adalah: penghematan di rumah sakit menuntut kedisiplinan dan perhitungan yang saksama. Pihak rumah sakit berupaya keras melakukan penghematan di sektor-sektor yang memungkinkan, namun mereka juga berani mengesampingkan upaya efisiensi tersebut jika keselamatan dan nyawa pasien menjadi prioritas utama yang harus diselamatkan.
Keberhasilan upaya penghematan tidak terletak pada jumlah saklar yang dimatikan, melainkan pada kecerdasan dalam menjaga batasan, demi memastikan setiap pasien bisa kembali ke rumah dengan selamat.