Ilustrasi ruang isolasi (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Selain rumah hantu untuk karantina pemudik ngeyel, Pemkab Sragen juga menyiapkan Rumah Sakit (RS) Darurat untuk penanganan COVID - 19.
Di rumah sakti tersebut terdapat 108 tenaga medis, 12 di antaranya merupakan dokter sementara 48 lainnya adalah perawat. Tenaga medis dan paramedis ini berasal dari rumah sakit negeri dan swasta di Sragen.
"Jadi nanti kita sistem kloter. Satu kloternya 20 orang tenaga medis dan paramedis. Mereka nanti akan bekerja dalam 3 shift selama 14 hari pertama. Setelah itu mereka akan menjalani karantina selama 14 hari di lokasi yang sudah kita siapkan, sebelum diperbolehkan libur selama 14 hari. Lalu dilanjutkan oleh kloter berikutnya," kata Bupati.
RS Darurat ini memiliki 24 kamar yang masing-masing bakal diisi satu orang. Fasilitas di kamar tersebut setara dengan kamar kelas I di rumah sakit, ada tempat tidur, tabung oksigen, dan kamar mandi dalam.
"Nanti rumah sakit darurat ini kita gunakan untuk pasien PDP yang masih harus menunggu hasil swab, termasuk pasien ODP yang perlu perawatan lebih. Kalau kondisinya memburuk langsung kita rujuk ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro," paparnya.
Sragen dilaporkan ada sebanyak 7 orang pasien yang positif COVID-19. Enam orang masih dirawat dan satu meninggal dunia pada 8 April 2020.
Enam orang yang masih dirawat tersebut yakni satu orang dirawat di RSUS Wongsonegoro Ketileng Semarang, Tiga orang di RSUD Moewardi Solo dan dua orang di RSUD Soeratno Gemolong. Tujuh orang tersebut dilaporkan dalam kondisi baik.