Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ngojek Sambil Momong Anak, Ratna Ojol di Semarang Tuntut Tarif Adil
Ratna seorang driver Ojol berdialog dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi. (Dok Humas Pemprov Jateng)
  • Ratna Yuniarti, driver ojol asal Semarang, sudah sembilan tahun bekerja sambil mengasuh anaknya demi menafkahi keluarga karena suaminya merantau ke Malaysia.
  • Ia mengeluhkan potongan komisi aplikasi yang besar hingga membuat penghasilan bersihnya menurun drastis dan berharap adanya fasilitas penitipan anak gratis bagi driver perempuan.
  • Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berjanji mengawal aspirasi para pengemudi ojol dengan membawa perwakilan mereka bertemu Menteri Perhubungan untuk membahas tarif dan regulasi yang lebih adil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Di balik riuh dan padatnya massa aksi unjuk rasa pengemudi ojek online (ojol) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026) kemarin, terdapat cerita perjuangan seorang ibu demi menafkahi keluarganya

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang turun langsung memantau situasi aksi, berdialog dengan seorang driver ojol perempuang Ratna Yuniarti (33). Ratna membagikan kisah pilu sekaligus ketangguhannya bertahan hidup di kerasnya jalanan Kota Semarang

1. Sembilan tahun jadi driver ojol demi hidupi tiga anak

Ratna seorang driver Ojol berdialog dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi. (Dok Humas Pemprov Jateng)

Ratna berkisah, dirinya sudah melakoni profesi sebagai driver ojol sejak tahun 2017 silam. Ibu tiga anak yang kini mengontrak rumah di daerah Lamper, Semarang ini, harus berjuang ekstra keras karena sang suami sedang merantau menjadi TKI di Malaysia.

Setiap hari, badai dan terik matahari menjadi temannya sejak pukul 05.30 WIB subuh hingga pukul 19.00 WIB malam. Keadaan memaksanya untuk membawa anak bungsunya yang masih balita ikut mengaspal di atas motor sepanjang hari, sementara dua anaknya yang lain ditinggal untuk bersekolah kelas 1 dan 3 SD.

“Saya ngojek online sambil momong anak dari pagi sampai sore. Kalau mau ambil orang buat momong, gak sanggup bayarnya,” tutur Ratna.

2. Jeritan hati soal potongan komisi aplikasi yang memberatkan

Massa buruh dan ojol di depan DPR (IDN Times/Lia Hutasoit)

Selama hampir sembilan tahun menjadi mitra transportasi daring, Ratna mengaku kondisinya semakin menjerit karena tarif bersih yang diterima terus merosot akibat tingginya potongan dari pihak perusahaan aplikasi.

Ratna memberikan gambaran betapa timpangnya pendapatan yang ia bawa pulang ke rumah untuk membeli susu anaknya.

"Sehari saya bisa dapat 10 orderan senilai Rp70 ribu sampai Rp80 ribu, tapi penghasilan bersih yang didapatkan (setelah dipotong aplikasi) hanya Rp40 ribu sampai Rp50 ribu," keluhnya.

Karena kondisi tersebut, Ratna sangat berharap Pemprov Jateng bisa merealisasikan fasilitas penitipan anak (day care) gratis khusus bagi para driver ojol perempuan, agar anak-anak mereka tidak perlu bertaruh nyawa menghadapi polusi dan bahaya di jalan raya.

3. Gubernur pastikan bawa aspirasi ojol ke Menteri Perhubungan

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Kadinkes melihat sejumlah perempuan yang ngantre ikut pemeriksaan Speling. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Mendengar cerita driver ojol dan tuntutan ribuan pengemudi lainnya, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Sehari sebelum aksi, Pemprov Jateng mengklaim telah melayangkan surat resmi kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait penataan tarif dan payung hukum ojol.

"Sudah saya sampaikan akan kita kawal. Kita sudah wadahi dan akan kawal terus. Persoalan ini tidak hanya di Jawa Tengah, tapi semua provinsi juga sama. Kita akan telusuri sumbatannya ada di mana," tegas Luthfi.

Dalam waktu dekat Ahmad Luthfi berjanji akan memboyong perwakilan driver ojol Jawa Tengah untuk bertolak ke Jakarta guna melakukan audiensi dan bertemu langsung dengan Menteri Perhubungan.

Editorial Team