Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pabrik asal Solo Produksi 2,3 Juta Porsi Makanan RTE Untuk Haji
Wakil Komisi VIII DPR RI, Abdul Wahid meninjau pabrik makanan siap saji untuk katering jemaah haji Indonesia, PT Hati di Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
  • PT Halalan Thayyiban Hati asal Solo mengekspor 2,3 juta porsi makanan siap saji Armuzna untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arafah dan Mina.
  • Seluruh makanan dikirim lewat udara dari Bandara Soekarno-Hatta ke Jeddah agar tiba tepat waktu dan bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu pemanasan atau khawatir basi.
  • Makanan diproduksi dengan standar higienitas ketat, dikemas vakum, disterilisasi suhu tinggi, sehingga awet hingga 18 bulan tanpa pengawet dan tetap bercita rasa khas Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Boyolali, IDN Times - pabrik makanan siap saji asal Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu penopang utama konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi tahun ini. PT Halalan Thayyiban Hati (HATI) mengekspor sekitar 2,3 juta porsi makanan Ready to Eat (RTE) atau makanan siap saji untuk kebutuhan jemaah saat puncak ibadah haji di Arafah dan Mina.

Makanan berlabel Armuzna tersebut diproduksi khusus agar bisa langsung disantap tanpa perlu dipanaskan, direbus, maupun menggunakan microwave. Teknologi ini menjadi solusi distribusi konsumsi di tengah kepadatan jutaan jemaah yang berkumpul di kawasan terbatas selama puncak haji.

1. Dikonsumsi oleh jemaah haji Indonesia saat wukuf.

Makanan ready to eat atau siap saji produksi PT HATI yang dikonsumsi oleh jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. (IDN Times/Larasati Rey)

Owner PT Halalan Thayyiban (HATI), Puspo Wardoyo, mengatakan inovasi tersebut lahir dari pengalaman panjangnya menangani katering dan rumah makan Indonesia di Arab Saudi.

“Puncak haji itu sangat kompleks. Dua juta orang berkumpul di tempat yang sempit, transportasi macet, dapur terbatas. Dulu makanan sering terlambat bahkan basi. Karena itu kami berpikir harus ada solusi yang praktis tapi tetap bercita rasa Indonesia,” ujar Puspo, Jumat (15/5/2026).

Berdasarkan data Kementerian Agama, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia. Pada musim haji tahun ini, jumlah jemaah Indonesia mencapai lebih dari 241 ribu orang yang tersebar di Makkah, Madinah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Adapun puncak ibadah haji berlangsung pada 8–13 Zulhijjah, saat jutaan jemaah dari berbagai negara terkonsentrasi di Arafah dan Mina untuk menjalankan wukuf serta rangkaian lempar jumrah.

Menurut Puspo, kondisi itulah yang membuat distribusi makanan fresh sangat sulit dilakukan.

“Untuk manusia saja sudah sesak sekali di sana, apalagi mau bikin dapur besar. Truk makanan sering macet. Kalau terlambat sedikit saja makanan bisa basi,” katanya.

2. Distribusi Lewat Pesawat ke Jeddah.

Pabrik pembuatan makanan siap saji, Makanku yang berlokasi di Grogol, Sukoharjo. (IDN Times/Larasati Rey)

Seluruh makanan siap saji untuk musim haji tahun ini didistribusikan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah, Arab Saudi.

Pengiriman udara dipilih untuk memastikan ketepatan waktu distribusi mengingat kebutuhan konsumsi jemaah sangat besar dan harus tersedia tepat saat puncak haji berlangsung.

Setibanya di Jeddah, produk langsung didistribusikan ke titik layanan konsumsi jemaah di Arafah dan Mina.

Menurut Puspo, keunggulan utama makanan RTE adalah fleksibilitas distribusinya. Produk bisa dikirim lebih awal dan langsung dikonsumsi kapan saja tanpa khawatir basi.

“Kalau makanan fresh, proses dari masak sampai dimakan bisa 10 jam lebih. Di sana jemaah juga sering tidak langsung pulang ke hotel karena ibadah. Akhirnya makanan dingin atau rusak. Kalau Ready to Eat lebih praktis,” katanya.

Makanan produknya tersebut nantinya akan disantap oleh jemaah Haji Indonesia saat menjalani wukuf di Arafah.

3. Gunakan teknologi bisa awet tanpa bahan pengawet.

Owner PT HATI, Puspo Wardoyo menunjukkan hasil inovasinya yang dikonsumsi oleh jemaah haji Indonesia selama puncak haji di Arab Saudi. (IDN Times/Larasati Rey)

Produk Armuzna tersebut meliputi nasi lengkap dengan lauk seperti rendang ayam, opor ayam, semur ayam, hingga gulai kambing.

Direktur Utama PT HATI, Ir. Sugiri mengatakan dalam proses produksinya, seluruh pekerja wajib menjalani standar higienitas ketat. Sebelum masuk area produksi, pekerja harus mengganti alas kaki, mencuci tangan, serta menggunakan sarung tangan dan perlengkapan khusus sesuai SOP BPOM.

“Standar ini wajib. Diawasi atau tidak diawasi tetap harus dilakukan karena menyangkut keamanan pangan,” jelasnya.

Proses produksi dimulai dari pengolahan bahan baku dan rempah lokal Indonesia yang berasal dari petani dalam negeri. Setelah dimasak, makanan dikemas secara vakum agar udara di dalam kemasan hampir seluruhnya hilang.

Tahap berikutnya adalah sterilisasi menggunakan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan 2 bar untuk membunuh mikroba patogen.

“Ketika makanan sudah dikemas rapat lalu dipanaskan dengan suhu tinggi, mikroba mati hampir 100 persen. Dari luar juga tidak bisa masuk lagi karena kemasan sudah steril,” jelasnya.

Dengan teknologi tersebut, makanan mampu bertahan hingga 18 bulan dalam kondisi tertutup tanpa bahan pengawet.

Selain makanan siap saji, PT HATI juga memproduksi sekitar 300 ton pasta atau bumbu dasar khas Indonesia untuk kebutuhan dapur katering haji di Arab Saudi. Pasta tersebut digunakan agar rasa makanan tetap sesuai lidah jemaah Indonesia meski sebagian besar juru masak di Arab Saudi berasal dari India. Baik pasta maupun bumbu dapur tersebut juga diolah tanpa bahan pengawet dan tahan lama.

Topics

Editorial Team