Owner PT HATI, Puspo Wardoyo menunjukkan hasil inovasinya yang dikonsumsi oleh jemaah haji Indonesia selama puncak haji di Arab Saudi. (IDN Times/Larasati Rey)
Produk Armuzna tersebut meliputi nasi lengkap dengan lauk seperti rendang ayam, opor ayam, semur ayam, hingga gulai kambing.
Direktur Utama PT HATI, Ir. Sugiri mengatakan dalam proses produksinya, seluruh pekerja wajib menjalani standar higienitas ketat. Sebelum masuk area produksi, pekerja harus mengganti alas kaki, mencuci tangan, serta menggunakan sarung tangan dan perlengkapan khusus sesuai SOP BPOM.
“Standar ini wajib. Diawasi atau tidak diawasi tetap harus dilakukan karena menyangkut keamanan pangan,” jelasnya.
Proses produksi dimulai dari pengolahan bahan baku dan rempah lokal Indonesia yang berasal dari petani dalam negeri. Setelah dimasak, makanan dikemas secara vakum agar udara di dalam kemasan hampir seluruhnya hilang.
Tahap berikutnya adalah sterilisasi menggunakan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan 2 bar untuk membunuh mikroba patogen.
“Ketika makanan sudah dikemas rapat lalu dipanaskan dengan suhu tinggi, mikroba mati hampir 100 persen. Dari luar juga tidak bisa masuk lagi karena kemasan sudah steril,” jelasnya.
Dengan teknologi tersebut, makanan mampu bertahan hingga 18 bulan dalam kondisi tertutup tanpa bahan pengawet.
Selain makanan siap saji, PT HATI juga memproduksi sekitar 300 ton pasta atau bumbu dasar khas Indonesia untuk kebutuhan dapur katering haji di Arab Saudi. Pasta tersebut digunakan agar rasa makanan tetap sesuai lidah jemaah Indonesia meski sebagian besar juru masak di Arab Saudi berasal dari India. Baik pasta maupun bumbu dapur tersebut juga diolah tanpa bahan pengawet dan tahan lama.