Sukoharjo, IDN Times - Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam melalui Assalam Observatory mengelar pemantauan fenomena gerhana bulan total, Selasa (3/3/2026) sore). Pantauan dilakukan di lantai atas gedung.
Pantauan Gerhana Bulan di Solo Tertutup Mendung, Kudus Terlihat

1. Gunakan teleskop
Kepala Pusat Astronomi Assalaam, AR Sugeng Riadi mengatakan berdasakan pantauan yang dilakuan oleh Assalam Observatory dengan menggunakan teleskop gerhana bulan total diperkirakan tidak bisa terlihat karen tetutup awan tebal. Kendati demikian pihaknya juga bekerjasama dengan enam observatorium untuk memantau fenomena langka tersebut.
“Kolaborasi ini menjadi bukti berkembangnya jejaring astronomi berbasis pesantren. Masing-masing titik bertugas memberikan laporan kondisi langit secara real time untuk memastikan dokumentasi fenomena tetap optimal meski berada di lokasi berbeda,” jelasnya.
keenam observatorium tersebut yakni, observatorium SD Muhammadiyah An-Najah Magelang, observatorium Ponpes MTA Gemolong, observatorium Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan Kudus, observatorium ponpes Al Islam Joresan Ponorogo, dan observatorium ponpes Maskumambang Greaik.
2. Mendung di Solo, Kudus berhasil tangkap fase totalitas
Cuaca mendung dan hujan lebat sempat menyelimuti sebagian besar wilayah pengamatan, termasuk pusat kendali di Surakarta. Namun, sistem jejaring yang dibangun mampu menjawab tantangan tersebut.
Observatorium Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan, Kudus, berhasil menangkap visual fase totalitas saat celah langit terbuka. Dokumentasi karya Nur Sidqon pada pukul 18.49 WIB menjadi visual utama yang disiarkan dalam live streaming nasional.
Dalam foto tersebut, Bulan tampak merona merah tembaga saat memasuki durasi totalitas selama 57 menit, dengan puncak gerhana terjadi pada pukul 19.03 WIB. Momen ini menjadi penentu keberhasilan siaran langsung setelah beberapa titik lain tertutup awan.
3. Integrasi sains dan ibadah lewat salat khusuf
Tak hanya fokus pada observasi ilmiah, kegiatan ini juga menghadirkan dimensi spiritual melalui pelaksanaan Sholat Gerhana (Khusuf) di Masjid PPMI Assalaam.
Sholat dipimpin oleh Ust. M. Faisal Rabbani, S.Pd. sebagai imam, dilanjutkan khutbah oleh Ust. Ammar Ali Shahbal. Rangkaian ibadah berjalan khidmat dan menjadi refleksi makna fenomena alam sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.
“Kegiatan ini adalah wujud nyata integrasi sains dan agama. Ketika teleskop kami terhalang mendung, keyakinan kami melalui hisab tetap teguh bahwa ayat Allah sedang bekerja di balik awan,” unarnya.
Keberhasilan koordinasi enam observatorium ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam edukasi astronomi berbasis pesantren. Gerhana tak hanya menjadi tontonan langit, tetapi juga sarana pembelajaran ilmiah dan penguatan nilai spiritual bagi masyarakat.