Elga Sarapung Direktur Interfidei. IDN TImes/Febriana Sinta
Terwujudnya toleransi antarumat beragama tidak lepas dari peran seorang sosok yang berjuang mengorbankan jiwa dan raga untuk merealisasikannya.
Elga Sarapung, yang dikenal aktif dalam forum-forum keberagaman, terus menyuarakan toleransi antarumat di kalangan masyarakat sampai saat ini. Hal itu tak lepas dari pengalaman hidupnya yang lahir di tengah mayoritas umat Islam, meski dirinya seorang Kristiani.
Kamus-kamus toleransi pada diri Elga makin tebal usai berkuliah di jurusan Teologi di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) dan melanglang buana sekolah di Vancouver, Kanada juga Swiss.
"Pengalaman membuka pemikiran membuka perspektif saya, berarti Kristen yang saya kenal selama ini bagian dari begitu besar kelompok-kelompok Kristen yang berbeda. Ditambah dengan agama-agama yang ternyata tidak hanya Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Buddha, Hindu, tapi ada begitu banyak agama. Belum lagi secara intra masing-masing agama, begitu banyak," ungkap perempuan kelahiran Gorontalo, 1 Agustus 1961 itu kepada IDN Times, Jumat (3/12/2021).
Setelah menjadi pendeta, Elga bersama Dr. Sumartana dan sejumlah rekannya mendirikan Institute for Inter-Faith Dialogue in Indonesia (Interfidei)--atau juga dikenal dengan sebutan Institut Dialog Antar Iman di Indonesia (Institut DIAN)--pada 1991. Lembaga tersebut bukan sekadar forum, melainkan aktor sekaligus provokator damai mewujudkan toleransi antarumat beragama di kalangan bawah, melalui diskusi, pelatihan, workshop, dan penelitian.
Mereka juga mengelola keberagaman dan kerja sama di dalam komunitas agama-agama dan masyarakat secara umum. Seperti membentuk sekolah lintas agama yang dilakukan bersama komunitas kampus di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Universitas Sanata Dharma, dan UIN Sunan Kalijaga selama kurang lebih 12 tahun terakhir.
"Ada tiga komponen partisipan yang menjadi sasaran Interfidei yakni pemimpin agama berbasis komunitas, guru-guru di semua bidang studi, baik di sekolah swasta maupun negeri, serta kaum muda (aktivis LSM, ormas kepemudaan, dan mahasiswa)," katanya yang juga sebagai Direktur Interfidei.
Pegiat toleransi dan keberagaman dari EIN Institute Semarang, Ellen Nugroho. (dok. TEDxMlatiWomen)
Senapas dengan Ega, Ellen Nugroho melalui Esa Insan Indonesia (EIN) Institute berusaha mengenalkan anak-anak dan generasi muda mengenal keberagaman sejak dini, khususnya bagi generasi muda di Kota Semarang. Baginya, untuk mewujudkan kedamaian antarumat beragama tidak cukup hanya bermodalkan pendidikan toleransi semata, melainkan juga harus memahami makna dari pluralisme.
Toleransi dan pluralisme, lanjut Ellen, menjadi dua hal yang berbeda. Toleransi sebatas hidup bersama walaupun berbeda atau hidup berdampingan walau tidak mengenal. Sedangkan, pluralisme hidup bersama dan saling mengenal satu sama lain.
"Pluralisme maknanya lebih dalam. Bukan berarti semua sama saja tapi ada upaya untuk saling mengenal lebih dalam dan jika ada perbedaan perlu diakui,’’ tuturnya kepada IDN Times, Jumat (3/12/2021).
Ellen berusaha memahamkan kedua istilah tersebut dengan bahasa sederhana melalui berbagai kegiatan sehingga generasi muda bisa menerima perbedaan sebagai bagian dari realitas.
Seperti program Pluralism Trail yang mengajak anak-anak muda mahasiswa dari berbagai latar belakang studi jalan-jalan ke suatu tempat yang mana di sana ada teladan pluralisme. Mereka bisa bertemu dengan wajah-wajah yang berbeda tapi terjadi pembauran serta dapat hidup berdampingan secara damai.
Lalu ada juga program Semai atau Anak Semarang Damai, yang melibatkan anak-anak usia kelas 4--6 Sekolah Dasar (SD) dari berbagai agama. Mereka dikumpulkan untuk belajar agama tertentu, terutama agama yang jarang diekspos dan diketahui khalayak. Selain itu, juga diajak berkunjung ke beberapa tempat ibadah agama lain, kayak klenteng, pura, hingga vihara.
Ada lagi program Belajar Kota Tua di Semarang. Pada kegiatan itu, generasi muda diajak mengenal Kota Semarang yang memiliki riwayat keberagaman yang panjang. Misalnya, Kota Lama yang mempunyai wajah Eropa, Pecinan yang sangat kental dengan budaya Tionghoa, dan Pekojan, Kampung Melayu serta Kauman yang kuat dengan tradisi Arab.
Program-program tersebut juga aktif dibagikan melalui Instagram resmi EIN Institute, @ein_institute sehingga para millennial dan generasi-z yang dekat dengan medsos bisa melek literasi mengenai pluralisme.
"Kegiatan dan program yang terus berjalan itu merupakan ikhtiar untuk melestarikan pemikiran Gus Dur dan Tjahjadi Utomo yang meyakini semua manusia itu bersaudara. Sehingga, setiap masalah di masyarakat tak bisa diselesaikan melalui solusi-solusi superfisial. Membumikan pluralisme melalui edukasi ke anak muda tentang keberagaman ini harus terus dilanggengkan. Keberagaman dikemas lebih populer dan gaul, jadi tidak terkesan akademis sekali" imbuh ibu tiga anak itu.
Biksu Dhirapunno (IDN Times/Indah Permata Sari)
Terciptanya toleransi tak lepas dari suri teladan pelaku umat beragama itu sendiri. Itulah yang dilakukan Dhirapunno, yang mendedikasikan diri merawat kemajemukan Indonesia, khususnya di Kota Medan.
Berbekal ilmu agama Buddha dan pengalamannya sebagai Biksu di Wat Thung Pho, Buriram, Thailand, ia tergerak untuk terjun dalam kehidupan lintas iman, terutama di kalangan anak muda melalui kegiatan sosial serta diskusi hal-hal positif.
Pengabdiannya bukan tanpa alasan. Sebab, pria 27 tahun itu sadar, kehidupan di Indonesia sangat multietnis, multikebudayaan, serta multikeimanan. Kondisi itu memantapkan dirinya ikut aktif di lintas iman sejak 2010 sebagai seorang Biksu.
Bagi Dhirapunno, membangun kerukunan antarumat beragama tak selalu harus monoton seperti berada di rumah ibadah. Namun, melalui diskusi dengan anak-anak muda, yang menjadikan mereka sebagai keluarga, sahabat, serta saudara hingga muncul ikatan emosional, maka nilai-nilai toleransi akan lebih mudah dilakukan dan diimplementasikan.
"Saya dari Jawa dari latar belakang Bapak saya Muslim. Keluarga ibu saya Buddhis. Jadi kalau hidup di kalangan yang berbeda agama itu sudah dari kecil maka saya merasakan perbedaan hidup. Di kegiatan (lintas iman) kita ada pendeta muda, pastur muda, ustaz muda juga," ucapnya yang lahir di Pati, Jawa Tengah.
Dhirapunno menyebut, gesekan perbedaan agama (intoleransi) di kalangan masyarakat tak sedikit yang berawal dari persoalan ekonomi dan politik. Oleh karena itu, ia menilai perlu literasi yang mumpuni bagi anak-anak muda sehingga pola pikirnya terbentuk dengan baik.
"Yang saya pelajari itu tentang kedamaian, kebersamaan, cinta kasih dan sebagainya. Kalau mengabdi di kalangan Buddha atau rumah ibadah, saya rasa sudah banyak Bhikkhu yang ada. Tapi dengan terjun langsung di masyarakat, justru lebih bermanfaat dan itu jarang sekali. Religius tanpa sosial itu pincang tetapi sosial tanpa religius itu buta. Jadi, hidup dalam beragama harus diimbangi hidup dalam sosial supaya tidak terlalu ekstrem," jelasnya.
Artikel ini disusun oleh: Ahmad Viqi, Alfi Ramadana, Anggun Puspitoningrum, Dhana Kencana, Fariz Fardianto, Indah Permatasari, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Siti Umaiyah, Tama Wiguna, dan Wayan Antara.