Selama triwulan I 2026, tren kunjungan wisatawan wilayah Jawa Tengah bergerak naik. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) menyatakan selama periode Januari-Maret 2026, kunjungan wisatawan keseluruhan melonjak 18,72 persen.
Pengaruh 4 Daerah, Kunjungan Wisatawan di Jateng Melonjak 18,72 Persen

1. Wisatawan gak usah ragu melancong ke Jawa Tengah
Kepala Disparekraf Jateng, AR Hanung Triyono mengungkapkan, capaian kinerja triwulan I 2026 mencerminkan tren pemulihan dan ekspansi pasar domestik yang kuat.
Akan tetapi pihaknya menegaskan sekarang membutuhkan strategi lanjutan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih merata dan berkelanjutan.
"Jateng semakin ke sini akan semakin menarik. Wisatawan tidak perlu ragu-ragu untuk melancong ke berbagai destinasi wisata," ujar Hanung, Jumat (24/4/2026).
2. Pariwisata Solo dan Klaten tahun ini laris manis
Berdasarkan data Disbudparekraf, Kabupaten Klaten menjadi destinasi dengan kunjungan tertinggi di Jawa Tengah dengan pertumbuhan mencapai 30,5 persen. Dari pendataan sementara menunjukkan kalau performa pariwisata di Klaten tergolong dominan ketimbang kabupaten/kota lainnya.
Kabid Pemasaran Pariwisata Disparekraf Jateng, Linda Widiastuti menuturkan, Kota Solo mengalami peningkatan kinerja cukup kuat dan berhasil naik peringkat dari empat pada tahun 2025 menjadi peringkat tiga di tahun 2026.
Kemudian pariwisata Kabupaten Kebumen juga moncer tahun ini. Sebab, ada kenaikan dari peringkat ke-12 pada tahun 2025 menjadi peringkat ke-6 di 2026, menggeser posisi Kabupaten Semarang.
“Pergeseran peringkat itu memperlihatkan efektivitas penguatan wisata berbasis budaya dan event,” jelasnya.
3. Wisata Kota Semarang stagnan
Untuk Kota Semarang kondisinya justru cenderung stagnan. Pihaknya mendorong adanya inovasi produk dan strategi untuk menghindari kejenuhan pasar di Kota Lunpia.
Sedangkan tren wisata Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Wonosobo muncul sebagai destinasi yang berkembang pesat. Yakni masing-masing mencatatkan pertumbuhan sebesar 161,81 persen dan 74,39 persen.
Linda berkata di Kebumen dan Wonosobo menandakan adanya potensi besar dari daerah non-utama apabila didukung dengan strategi promosi dan aktivasi yang tepat.
Ia melihat beberapa daerah ada pergeseran pola dan minat wisatawan yang membuat wilayah dengan destinasi alam ramai dikunjungi. Ia optimis tingkat kunjungan akan terus meningkat dari tahun ke tahun seiring evaluasi dan pembenahan di masing-masing tempat wisata.
Hasil evaluasinya, wisata alam dan heritage, makin digemari karena konsepnya lebih hangat untuk tema keluargaan atau rombongan, sehingga wisatawan tak hanya disuguhi keindahan visual, namun juga bisa interaksi di dalam objek wisata.
“Karena wisatawan tak hanya foto-foto, tetapi juga bisa bermain wahana bareng rombongan. Di sisi lain banyak keaneragaman yang bisa dieksplore," pungkasnya.