Semarang, IDN Times – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah untuk mendorong pembayaran Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Program bertemakan “Ramadhan Manis Pakai QRIS” itu ditargetkan menyasar 105 masjid di seluruh Jawa Tengah dan berlangsung sejak bulan Ramadan hingga Zulhijah 1447 H/2026 M.
Pengguna Naik, BI Jateng Genjot Bayar Zakat via QRIS di 105 Masjid

1. QRIS merambah masjid di desa
Deputi Kepala Perwakilan BI Jateng, Nita Rachmenia mengatakan, inisiatif itu merupakan langkah strategis untuk mempercepat akseptasi sistem pembayaran digital yang aman, lancar, dan andal di tengah masyarakat.
Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, menurutnya perluasan program pada tahun 2026 tidak hanya terfokus di masjid agung, melainkan merambah hingga masjid besar dan masjid jami di tingkat kecamatan dan desa.
“Target ada 105 masjid yang dibuka untuk pendaftaran. Kami ingin men-trigger penggunaan QRIS di masyarakat, termasuk untuk pembayaran ZIS. Secara psikologis, pembayaran digital seringkali membuat nominal donasi menjadi lebih optimal,” katanya di Semarang, Rabu (25/2/2026).
2. Gencar sosialisasi untuk tekan angka kejahatan
Sebagai bentuk apresiasi, BI dan DMI akan mencatat dan mengevaluasi penerimaan ZIS digital selama periode tersebut. Nita menyatakan, masjid yang berhasil mencatatkan penerimaan ZIS tertinggi melalui QRIS akan menerima penghargaan berupa hewan kurban.
Untuk mencegah tindak kejahatan pemalsuan barcode oleh pihak tidak bertanggung jawab, BI Jateng rutin memberikan sosialisasi kepada pengurus masjid agar selalu memperbarui dan menempatkan kode QRIS di lokasi yang mudah dipantau secara langsung.
3. Capaian positif transaksi digital di Jawa Tengah
Upaya digitalisasi rumah ibadah itu sejalan dengan tren positif penggunaan QRIS di wilayah Jawa Tengah. Kepala Perwakilan BI Jateng, Muhammad Noor Nugroho mengungkapkan, hingga Januari 2026, jumlah pengguna QRIS di Jawa Tengah tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan, dengan penambahan sekitar 800 ribu pengguna baru.
“Kurang lebih ada tambahan 800 ribu pengguna baru sampai Januari 2026. Untuk volume transaksi kita tiga terbaik di Indonesia, dan merchant QRIS kita keempat terbaik nasional,” ujarnya saat konferensi pers terkait Strategi Menjaga Stabilitas Ekonomi dan Pengelolaan Uang Rupiah Periode Ramadan dan Idul Fitri 1447 H.
Nugroho menambahkan, lebih dari 72 persen merchant QRIS di Jawa Tengah didominasi oleh segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dari jumlah itu, membuktikan jika ekosistem keuangan digital di daerah makin inklusif dan mampu menjangkau pelaku usaha kecil.
Selain optimalisasi di sektor rumah ibadah, BI Jateng juga memperluas akseptasi QRIS ke sektor pedagang kaki lima (PKL) di area Car Free Day (CFD) yang sudah diuji coba sejak 1 Februari 2026.
Lebih lanjut, BI ikut bersinergi dengan pemerintah kabupaten/kota guna memperkuat elektronifikasi transaksi (proses digitalisasi) keuangan daerah, didukung dengan implementasi Kartu Kredit Indonesia (KKI) untuk menunjang penerimaan pajak, retribusi, serta belanja daerah secara digital.