Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengusaha Bawang Khawatir Jokowi Gak Dapat Informasi Lengkap
Foto hanya ilustrasi bawang putih di pasar (IDN Times/Holy Kartika)

Temanggung, IDN Times - Para pengusaha bawang yang tergabung dalam organisasi Perkumpulan Pengusaha Bawang Nusantara (PPBN) merespon kunjungan Presiden Joko Widodo ke Desa Bansari, Kabupaten Temanggung. Di desa tersebut Jokowi belum lama ini ikut menanam bawang dan menampung keluh kesah para petani bawang yang mengalami kesulitan selama ini.

1. Pengusaha bawang anggap program Kementan gagal

Sejumlah buruh mengangkut bawang merah ke atas truk di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/6/2019). (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Perwakilan PPBN, Mulyadi mengatakan persoalan yang timbul di Temanggung saat ini karena adanya kebijakan program swasembada bawang putih yang didengungkan oleh Kementan sejak 2017-2021.

Namun, menurutnya fakta di lapangan memperlihatkan upaya yang dilakukan Kementan justru gagal. Ketersediaan bawang putih juga belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Karena program swasembada bawang putih mulai tahun 2017 hingga 2021 adalah program swasembada bibit. Sehingga seluruh hasil panen dari petani itu dialokasikan untuk bibit bawang putih. Namun program dari Kementerian Pertanian itu gagal. Sehingga mau tidak mau harus impor," ungkapnya dalam keterangan yang diterima IDN Times, Senin (20/12/2021).

2. Sentra penghasil bawang putih hanya di lima daerah

pixabay.com/stevepb

Lebih lanjut, ia menuturkan pemicu lonjakan kiriman bawang impor yaitu lantaran daerah yang menjadi sentra produksi bawang putih hanya Temanggung, Cianjur, Lombok Timur, Magelang, Karanganyar. Sedangkan daerah lain hanya potensi. 

Di sisi lain, ketersedian lahan saat ini 14 ribu dari total kebutuhan lahan 70 ribu hektar. Mulyadi bilang impor bawang putih memang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mencapai 509.621 ton per tahun.

Untuk bawang merah, Mulyadi berkata bahwa sejak 2016, pelaku usaha tidak melakukan impor. "Karena pemerintah sudah menerapkan pembatasan untuk impor bawang merah," jelasnya.

3. Pengusaha bawang takut Jokowi tidak dapat info lengkap soal masalah holtikultura

Presiden Jokowi bersama dengan Istrinya Ibu Iriana (Dok. IDN Times/Biro Pers Kepresidenan)

Selain itu, kewajiban tanam bawang putih 5 persen dari jumlah kouta impor yang diperoleh pelaku usaha, walaupun kenyatannya tetap gagal. Kemudian masuknya rekomendasi impor bibit Great Black Leaf (GBL) dari Taiwan yang volumenya sekitar 1.685 ton. 

"Kami mengapresiasi respon Presiden yang begitu cepat. Tapi kami khawatir presiden belum mendapatkan informasi yang lengkap tentang problem hortikuktura ini. Sehingga kami berharap presiden lebih bijaksana dalam merespon keluhan petani, serta mendengar masukan dari para pelaku usaha," terangnya.

4. Biaya tanam bawang habiskan uang ratusan juta

Ilustrasi petani memanen dan memotong (IDN Times/Dhana Kencana)

Mulyadi menambahkan, harga bawang putih dalam negeri lebih mahal dibanding bawang putih impor. Bawang putih dalam negeri, selain harganya kisaran Rp35 sampai Rp60 ribu per kilogram. Sedangkan bawang impor hanya Rp18 ribu sampai Rp20 ribu. Saat ini malah Rp17,5 ribu.

"Biaya wajib taman bawang putih mencapai Rp70-Rp100 juta, dan produktivitasnya harus menghasilkan 6 ton per hektar," kata Mulyadi.

Sehingga, katanya peristiwa di Temanggung menyisakan pekerjaan rumah bagi pemerintah yang tidak kunjung selesai sejak diberlakukan sistem kuota. Di mana pemerintah ingin memenuhi harapan petani, tapi di sisi lain konsumen dan masyarakat akan dirugikan, karena membeli bawang putih dalam negeri dengan harga mahal.

"Akibat peristiwa Temanggung, harga bawang putih sudah mulau naik, kasihan konsumen sekarang kena imbasnya," ujarnya.

Editorial Team