Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
idntimes.com
Salah satu rumah warga di desa Kotayasa, Sumbang, Banyumas yang atapnya porak poranda akibat hempasan angin puting beliung, Jumat (16/1/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Intinya sih...

  • Tak ada korban jiwa, 169 rumah terdampak dengan 3 rumah roboh dan kerusakan atap serta struktur ringan.

  • Tim BPBD akan segera lakukan perbaikan dengan fokus pada pendataan kerusakan, keselamatan warga, dan evakuasi barang-barang penting.

  • Kesaksian warga tentang angin puting beliung yang mengerikan, menyebabkan trauma mendalam bagi dirinya dan keluarganya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Bencana angin puting beliung menerjang Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jumat (16/1/2026) sore. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 17.15 WIB itu berlangsung singkat, namun menimbulkan dampak serius. Puluhan rumah warga mengalami kerusakan, bahkan beberapa di antaranya roboh, sehingga memaksa sejumlah warga mengungsi.

Berdasarkan pantauan IDN Times di lokasi, bencana bermula saat hujan deras mengguyur wilayah Kotayasa selama kurang lebih lima menit. Secara tiba-tiba, hujan tersebut disertai angin kencang berputar yang menyapu permukiman warga, khususnya di wilayah RW 3 serta RT 7 RW 5.

Dalam hitungan menit, angin puting beliung merusak atap rumah, menerbangkan seng, dan merobohkan sejumlah bangunan warga. Warga yang panik berusaha menyelamatkan diri dan barang-barang berharga seadanya. 169 Rumah Terdampak, 3 Rumah Roboh hingga satu keluarga terpaksa harus mengungsi ke rumah saudaranya.

1. Tak ada korban jiwa

Nampak seorang ibu rumah tangga menatap rumahnya yang sebagian atapnya terkena dampak angin puting beliung, Jumat (16/1/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Data sementara yang dihimpun mencatat sedikitnya 169 rumah terdampak akibat bencana tersebut. Rinciannya, 46 rumah berada di enam RT wilayah RW 3, serta 9 rumah di RT 7 RW 5 yang mengalami kerusakan cukup parah.

"Tiga rumah di RW 3 dilaporkan roboh. Sementara di RW 5 terdapat sembilan rumah yang rusak berat. Selebihnya mengalami kerusakan atap dan struktur ringan,"ujar Driyanto, anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Banyumas, dalam laporan tertulis kepada Bupati Banyumas.

Kerusakan yang paling banyak ditemukan adalah pada bagian atap rumah. Seng dan genteng beterbangan akibat terjangan angin kencang, sementara beberapa bangunan tak mampu menahan tekanan angin hingga akhirnya ambruk dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

2. Tim BPBD akan segera lakukan perbaikan

Waluyo, anggota tim BPBD Banyumas yang berada di lokasi angin puting beliung, Kotayasa, Sumbang, Jumat (16/1/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Tak lama setelah kejadian, tim gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat. Tim tersebut terdiri dari BPBD Kabupaten Banyumas, Basarnas, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Kotayasa, PMI, unsur Kecamatan Sumbang, Polsek dan Koramil Sumbang, serta relawan Pramuka Peduli (Pramuli).

Fokus utama penanganan pada malam hari adalah pendataan kerusakan, memastikan keselamatan warga, serta membantu evakuasi barang-barang penting milik warga terdampak.

"Kami datang ke lokasi untuk melakukan pendataan. Hingga malam ini, proses pendataan masih terus berlangsung, rata rata dampak kerusakan terjadi pada atap rumah dan seng yang terlepas akibat hempasan angin,"kata Waluyo, anggota Tim BPBD Banyumas.

Upaya perbaikan darurat direncanakan mulai dilakukan pada Sabtu (17/1/2026). Tahapan awal akan diawali dengan pendataan final tingkat kerusakan rumah, sebelum dilanjutkan dengan penyaluran bantuan dan perbaikan sementara agar rumah warga bisa kembali ditempati.

3. Kesaksian warga, "Anginnya berputar dan mengerikan”

Kinanti, warga Kotayasa, Sumbang mengaku trauma saat peristiwa puting beliung karena melihat angin berputar putar, Jumat (16/1/2026).(IDM Times/Cokie Sutrisno)

Salah satu warga terdampak, Kinanti, mengaku sempat menyaksikan langsung datangnya angin puting beliung dari dalam rumah. Ia awalnya melihat gumpalan hitam berputar di kejauhan yang dikiranya hanya debu atau pasir.

"Awalnya saya kira seperti pasir hitam, tapi kok lama lama kelihatan jelas itu angin besar yang berputar. Warnanya jadi putih-putih dan kelihatannya mengerikan,"kata Kinanti saat ditemui di lokasi.

Tak berselang lama, angin tersebut menghantam permukiman warga. Rumah-rumah bergetar hebat, atap beterbangan, dan sejumlah bangunan roboh. "Rumah saya sampai bergetar. Banyak atap terbang entah ke mana, ada rumah yang ambruk total. Hujannya juga deras, air masuk ke rumah, bikin semua panik,"ujarnya.

Menurut Kinanti, jumlah rumah terdampak cukup banyak dan sulit dihitung karena sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap.

Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam bagi dirinya dan keluarga. Hingga kini, ia mengaku masih merasa takut setiap kali angin bertiup kencang. "Sekarang lihat angin sedikit saja sudah takut,"tuturnya.

Untuk sementara, Kinanti berencana mengungsi ke rumah kerabat sambil menunggu kondisi rumah memungkinkan untuk ditempati kembali. Ia berharap pemerintah segera memberikan bantuan dan kejadian serupa tidak terulang. "Kami cuma berharap yang terbaik, semoga tidak ada bencana seperti ini lagi," pungkasnya.

Editorial Team