Semarang, IDN Times - Beban para pasien kanker tidak sekadar aspek medis dengan menjalani pengobatan. Mereka juga menghadapi berbagai tantangan lain sehingga membutuhkan sistem dukungan dari lingkungannya.
Rumah Singgah YKI Semarang Jadi Tempat Ringankan Beban Pejuang Kanker

Intinya sih...
Rumah Singgah YKI Semarang memberikan tempat bagi pejuang kanker untuk ringankan beban selama pengobatan.
Para pasien kanker membutuhkan dukungan sistem dari lingkungan sekitar dalam menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pengobatan.
Beban para pasien kanker tidak hanya dari segi medis, tetapi juga dari aspek lainnya yang perlu diatasi.
1. Pasien kanker butuh tempat tinggal
Hal itu dijawab Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Semarang dengan menyediakan Rumah Singgah YKI bagi pejuang kanker yang berlokasi di Jl Puri Anjasmoro Blok O No.15, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat.
Ketua YKI Cabang Semarang, Dr. dokter. Eko Adhi Pangarsa, SpPD-KHOM, FINASIM mengatakan, selama ini sebagian besar pasien kanker memang telah mendapatkan layanan pengobatan melalui sistem jaminan kesehatan. Namun, tantangan yang dihadapi mereka tidak berhenti pada aspek medis semata.
“Dampak kanker itu tidak cukup hanya dengan pengobatan. Pasien kanker membutuhkan tempat tinggal selama menjalani terapi, mereka harus antre, menunggu, dan menjalani proses panjang sebelum bisa kembali ke rumah. Beban ini sering kali tidak terlihat, tapi sangat berat bagi pasien dan keluarga,” katanya, Rabu (28/1/2026).
2. Rumah Singgah YKI jadi support system
Kondisi itu melatarbelakangi hadirnya Rumah Singgah YKI Semarang untuk menjadi support system yang krusial bagi pasien kanker.
“Rumah singgah ini kami tujukan bagi penderita kanker yang tidak mampu, khususnya yang berasal dari luar kota dan menjalani pengobatan di Semarang. Kehadiran rumah singgah diharapkan bisa meringankan beban mereka selama proses pengobatan,” ujar Eko.
Saat ini, Rumah Singgah YKI Semarang memiliki daya tampung sekitar 18 kamar. Sebelum pandemik COVID-19, satu kamar dapat diisi oleh dua pasien. Namun, pasca pandemik dan penerapan prinsip kesehatan, kamar didedikasikan untuk satu pasien atau pendamping yang menunggu.
Rumah Singgah YKI Semarang membuka pintu bagi pejuang kanker untuk tinggal di sana. Adapun, kriteria penghuni rumah singgah antara lain pasien berasal dari luar kota dan menjalani pengobatan di rumah sakit di Kota Semarang, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta, seperti RSUP Dr. Kariadi, RS Tugu, RSWN, dan lainnya.
3. Jalankan program edukasi dan pendampingan
Eko menuturkan, selain penyediaan rumah singgah, pihaknya juga menjalankan berbagai program edukasi dan pendampingan.
“Perhatian kepada penderita kanker tidak hanya soal pencegahan dan deteksi dini, yang faktanya masih kurang. Banyak pasien datang pada fase kanker yang sudah sulit sembuh. Ketika itu terjadi, pengobatan menjadi panjang dan berat, baik secara fisik maupun ekonomi,” jelasnya.
Maka itu, YKI Semarang secara aktif melakukan edukasi ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar SMA hingga ibu-ibu, untuk meningkatkan kesadaran akan kanker. Di sisi lain, yayasan juga memperkuat dukungan psikologis melalui pendampingan pasien dan keluarga.
4. Ajak masyarakat sadari isu kanker
“Kami berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, tidak hanya dalam sistem pelayanan pengobatan, tetapi juga di luar itu—melalui rumah singgah, pendampingan keluarga, hingga dukungan psikologis,” terang Eko.
Menjelang peringatan Hari Kanker Sedunia pada bulan Februari mendatang, YKI mengajak masyarakat untuk menyadari terhadap isu kanker. Sebab, hal itu menjadi persoalan bersama yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Jumlah penderita kanker akan terus bertambah, dan itu ada di sekitar kita. Maka itu, kita harus hadir bersama-sama, terutama dalam upaya pencegahan dan mendukung mereka yang sedang berjuang,” tandasnya.