Pengujung di Solo Safari saat libur Lebaran 2026. (IDN Times/Larasati Rey)
Dalam sesi diskusi, Dosen Ekologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D., membahas karakteristik orangutan, mulai dari persebaran hingga kedekatan genetik dan kemampuan kognitifnya dengan manusia.
Ia menjelaskan bahwa orangutan memiliki kemiripan genetik yang tinggi dengan manusia. Namun, perbedaan genetik tetap menjadi pembeda antara kedua spesies tersebut.
“Dia memiliki struktur genetik yang 97 persen mirip dengan kita (manusia). Tapi jangan khawatir, 3 persen itu kira-kira ada 10 juta kombinasi yang akan membedakan kita dengan mereka,” ungkap Puguh.
Sementara itu, Kepala Seksi KSDA Wilayah I Surakarta, Sudadi, menekankan bahwa lembaga konservasi di luar habitat alami memiliki landasan hukum dan kontribusi dalam pelestarian satwa langka, termasuk orangutan.
Ia menilai keberadaan fasilitas konservasi memungkinkan satwa memperoleh perawatan sekaligus kesempatan berkembang biak dalam pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Di situ (Solo Safari) dia (orangutan) tidak hidup sendiri, tidak merana, tidak jomblo. Ada pasangannya dan bisa melahirkan. Artinya tidak kalah seperti yang di in situ atau di alamnya,” jelas Sudadi.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Huaso Mulia. Kegiatan berlangsung interaktif dengan partisipasi mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum yang menyampaikan beragam pertanyaan mengenai konservasi orangutan.
Melalui Safari Talk, para peserta diajak memahami bahwa masa depan orangutan tidak hanya bergantung pada lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat, pendidikan, dan perlindungan habitat alami secara berkelanjutan.