Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Safari Talk di Solo Bahas Kolaborasi dan Edukasi Konservasi Orangutan
Wakil Walikota Solo Astrid Widayani hadir dalam Safari Talk bertajuk Orangutan dan Masa Depan Konservasi di Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Safari Talk di Solo mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi, dan masyarakat untuk membahas pelestarian orangutan melalui edukasi, kolaborasi, serta konservasi di habitat alami dan luar habitat.
  • Pengelola Solo Safari mengevaluasi pengawasan setelah orangutan Didi keluar area, menekankan fasilitas harus menyesuaikan kecerdasan, perilaku, dan kebutuhan satwa.
  • Pemkot Surakarta mendorong Solo Safari sebagai ruang belajar lingkungan; konservasi ex situ dinilai mendukung perawatan dan perkembangbiakan orangutan, bersamaan dengan perlindungan habitat alami.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
beberapa bulan lalu

Orangutan bernama Didi keluar dari area Solo Safari dan mendatangi warung makan di sekitar kawasan. Kejadian ini menjadi evaluasi untuk meningkatkan pengawasan dan menyesuaikan fasilitas.

22 Oktober 2026

Solopos Media Group dan PT Taman Safari Indonesia menggelar Safari Talk di Surakarta untuk membahas kolaborasi, edukasi, dan konservasi orangutan. Forum menyoroti peran konservasi ex situ, pendidikan masyarakat, serta perlindungan habitat alami.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Safari Talk bertajuk “Orangutan dan Masa Depan Konservasi” membahas kolaborasi, edukasi masyarakat, konservasi ex situ, dan perlindungan habitat alami orangutan.
  • Who?
    Solopos Media Group, PT Taman Safari Indonesia, Pemerintah Kota Surakarta, akademisi UNS, KSDA Wilayah I Surakarta, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum mengikuti kegiatan ini.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Radya Litera Multifunction, Griya Solopos, Surakarta, dengan pembahasan mengenai peran Solo Safari sebagai lembaga konservasi.
  • When?
    Safari Talk diselenggarakan pada Kamis, 22 Oktober 2026.
  • Why?
    Forum digelar untuk membahas tantangan pelestarian orangutan serta pentingnya pendidikan, dukungan masyarakat, pengelolaan konservasi, dan perlindungan lingkungan hidup.
  • How?
    Diskusi mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi konservasi, dan masyarakat; peserta mengikuti pemaparan serta mengajukan pertanyaan tentang konservasi orangutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang-orang di Solo berkumpul untuk bicara cara menjaga orangutan. Dulu orangutan bernama Didi keluar dari Solo Safari dan pergi ke warung, tapi warga tetap tenang. Sekarang Solo Safari mau lebih hati-hati. Anak-anak sekolah juga bisa belajar tentang hewan dan menjaga lingkungan, seperti mengurangi plastik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Safari Talk menunjukkan tumbuhnya ruang bersama bagi pemerintah, akademisi, pengelola konservasi, dan masyarakat untuk memperluas pemahaman tentang orangutan. Ketenangan warga saat menghadapi orangutan serta kerja sama pendidikan dengan Solo Safari mencerminkan modal sosial yang dapat menguatkan pembelajaran lingkungan dan pengelolaan konservasi yang semakin peka terhadap kebutuhan satwa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN TIMES – Pelestarian orangutan tidak cukup hanya dengan melindungi satwa dari ancaman di habitatnya. Edukasi masyarakat, kolaborasi berbagai pihak, hingga pengelolaan lembaga konservasi juga menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan hidup primata yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi tersebut.

Isu ini menjadi salah satu pembahasan dalam Safari Talk bertajuk Orangutan dan Masa Depan Konservasi yang diselenggarakan Solopos Media Group (SMG) bersama PT Taman Safari Indonesia di Radya Litera Multifunction, Griya Solopos, Kamis (22/10/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi konservasi, dan masyarakat untuk membahas tantangan pelestarian orangutan, termasuk peran konservasi di luar habitat alami atau ex situ seperti yang dijalankan Solo Safari.

1. Kecerdasan orangutan jadi tantangan pengelolaan konservasi.

Wakil Walikota Solo Astrid Widayani hadir dalam Safari Talk bertajuk Orangutan dan Masa Depan Konservasi di Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Direktur Utama PT Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menilai kesadaran masyarakat Solo terhadap keberadaan satwa liar menjadi salah satu modal penting dalam mendukung upaya konservasi.

Ia mencontohkan peristiwa beberapa bulan lalu ketika orangutan bernama Didi keluar dari area Solo Safari dan mendatangi warung makan di sekitar kawasan tersebut. Menurutnya, respons masyarakat yang tetap tenang dan tidak memperlakukan satwa sebagai ancaman patut diapresiasi.

Meski demikian, kejadian itu menjadi bahan evaluasi bagi pengelola untuk meningkatkan pengawasan serta menyesuaikan fasilitas dengan karakteristik satwa.

“Orangutan memiliki tingkat kecerdasan yang setara dengan anak berusia enam tahun. Karena itu, pengelolaan fasilitas dan pengawasannya harus terus disesuaikan dengan perilaku serta kebutuhan satwa,” ujar Aswin.

Ia menegaskan, konservasi di luar habitat alami tidak dapat dipisahkan dari upaya pelestarian di habitat asli. Keduanya mempunyai peran yang saling melengkapi dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar.

2. Solo Safari didorong menjadi ruang belajar generasi muda.

Acara Safari Talk bertajuk Orangutan dan Masa Depan Konservasi di Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menilai keberadaan Solo Safari tidak hanya mendukung sektor pariwisata, tetapi juga berpotensi memperkuat pendidikan lingkungan bagi masyarakat.

Menurutnya, konsep pariwisata berbasis pengalaman dan pengetahuan sejalan dengan visi Solo sebagai the Center of Knowledge. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak sekadar menikmati wisata, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.

Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Pendidikan juga telah menjalin kerja sama dengan Solo Safari untuk memberikan kesempatan kepada siswa belajar secara langsung di kawasan konservasi.

Astrid mengajak generasi muda berkontribusi melalui kebiasaan sederhana, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai hingga menyebarkan informasi yang benar tentang pelestarian satwa.

“Menjaga satwa tidak cukup hanya dengan menyelamatkan satwa yang akan menghadapi masalah atau tantangan di hutan. Tetapi yang paling penting kita menjaga lingkungan hidup yang menjadi habitatnya,” kata Astrid.

Pesan tersebut menegaskan bahwa konservasi perlu dimulai dari kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan, bukan hanya melalui penanganan satwa yang sudah terancam.

3. Konservasi ex situ dinilai punya peran strategis.

Pengujung di Solo Safari saat libur Lebaran 2026. (IDN Times/Larasati Rey)

Dalam sesi diskusi, Dosen Ekologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D., membahas karakteristik orangutan, mulai dari persebaran hingga kedekatan genetik dan kemampuan kognitifnya dengan manusia.

Ia menjelaskan bahwa orangutan memiliki kemiripan genetik yang tinggi dengan manusia. Namun, perbedaan genetik tetap menjadi pembeda antara kedua spesies tersebut.

“Dia memiliki struktur genetik yang 97 persen mirip dengan kita (manusia). Tapi jangan khawatir, 3 persen itu kira-kira ada 10 juta kombinasi yang akan membedakan kita dengan mereka,” ungkap Puguh.

Sementara itu, Kepala Seksi KSDA Wilayah I Surakarta, Sudadi, menekankan bahwa lembaga konservasi di luar habitat alami memiliki landasan hukum dan kontribusi dalam pelestarian satwa langka, termasuk orangutan.

Ia menilai keberadaan fasilitas konservasi memungkinkan satwa memperoleh perawatan sekaligus kesempatan berkembang biak dalam pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Di situ (Solo Safari) dia (orangutan) tidak hidup sendiri, tidak merana, tidak jomblo. Ada pasangannya dan bisa melahirkan. Artinya tidak kalah seperti yang di in situ atau di alamnya,” jelas Sudadi.

Diskusi tersebut turut menghadirkan Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Huaso Mulia. Kegiatan berlangsung interaktif dengan partisipasi mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum yang menyampaikan beragam pertanyaan mengenai konservasi orangutan.

Melalui Safari Talk, para peserta diajak memahami bahwa masa depan orangutan tidak hanya bergantung pada lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat, pendidikan, dan perlindungan habitat alami secara berkelanjutan.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article