Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)
Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)

Intinya sih...

  • Bukti percakapan di WA membenarkan unggahan status WhatsApp korban beberapa hari sebelum insiden tragis tersebut terjadi.

  • Kasus tersebut sempat memicu rumor liar di media sosial yang menuding sang ibu sebagai pelaku pembunuhan.

  • Hasil visum dari dokter forensik memperkuat kesimpulan polisi karena ditemukan luka lecet gantung pada leher dan tanda-tanda mati lemas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Demak, IDN Times – Sebuah peristiwa memilukan menimpa seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berusia 13 tahun berinisial SA di Kabupaten Demak. Korban ditemukan tewas gantung diri di dalam rumahnya pada Kamis (12/2/2026) petang.

Kejadian itu menjadi sorotan publik lantaran sebelum kejadian, korban sempat mengunggah tangkapan layar (screenshot) percakapan WhatsApp yang berisi makian kasar dari ibunya ke media sosial.

1. Bukti percakapan di WA

ilustrasi aplikasi WhatsApp (pexels.com/Anton)

Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono membenarkan adanya unggahan status WhatsApp korban beberapa hari sebelum insiden tragis tersebut terjadi.

Menyertai tangkapan layar makian tersebut, SA menuliskan sebuah kalimat keputusasaan: "Di balik tawa gua, disisi lain aku juga cape."

Meski demikian, polisi menegaskan, motif di balik keputusan korban mengakhiri hidupnya tidak dapat disimpulkan secara tunggal hanya dari percakapan tersebut.

2. Sang ibu teriak histeris

ilustrasi kamera CCTV (pexels.com/scottwebb)

Kasus tersebut sempat memicu rumor liar di media sosial yang menuding sang ibu sebagai pelaku pembunuhan. Namun polisi membantah spekulasi tersebut berdasarkan bukti ilmiah dan rekaman Closed Circuit Television (CCTV) di lokasi kejadian.

Berdasarkan analisis CCTV, ibu korban baru tiba di rumah dengan mengendarai mobil pada pukul 18.01 WIB. Saat itu, ia masuk sambil menggendong anak keduanya. Hanya berselang sekitar dua menit, tepatnya pukul 18.03 WIB, sang ibu keluar rumah dalam kondisi histeris berteriak meminta tolong.

Sesaat setelah ditemukan dalam kondisi tergantung, korban sempat dilarikan oleh tetangga ke RSUD Wongsonegoro (RSWN) Semarang. Sayangnya, nyawa SA tidak dapat diselamatkan.

3. Orangtua harus peka pada anak

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Hasil visum dari dokter forensik memperkuat kesimpulan polisi karena ditemukan luka lecet gantung pada leher dan tanda-tanda mati lemas. Diperkirakan, waktu kematian terjadi sekitar 2--6 jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan.

Selain itu, tidak ada indikasi kekerasan atau penganiayaan lain pada tubuh korban. Lantaran tidak ditemukan unsur tindak pidana, keluarga meminta agar penyelidikan dihentikan dan jenazah langsung dimakamkan di Karangawen.

Menyikapi insiden itu, Plt. Kasi Humas Polres Demak, Iptu Said Nu’man Murod, mengimbau para orangtua untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak.

"Kami mengajak para orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera mencari bantuan jika menemukan tanda-tanda gangguan psikologis. Jangan ragu berkonsultasi dengan pihak sekolah maupun tenaga profesional," pesannya dilansir laman resmi Polres Demak.

IDN Times mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mental, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan atau kehilangan. Dukungan emosional dan kesehatan jiwa sangat penting untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa.

Bunuh diri merupakan masalah kesehatan jiwa serius yang sering diabaikan masyarakat. Jika kamu membutuhkan pertolongan atau mengenal seseorang yang membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungi layanan konseling pencegahan bunuh diri, di nomor telepon gawat darurat (emergency) hotline (021) 500–454 atau 119, bebas pulsa.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, saat ini sudah terdapat lebih dari 3.000 Puskesmas yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Kamu bisa menghubungi atau langsung mendatangi Puskesmas terdekat untuk mengetahui apakah mereka melayani kesehatan jiwa.

Bagi pemegang BPJS Kesehatan, konsultasi kejiwaan di Puskesmas tidak dikenakan biaya alias gratis. Jika belum memiliki BPJS, kamu tetap bisa berkonsultasi dengan biaya administrasi sebesar Rp5.000. Selain itu, Kemenkes RI juga menyiapkan 5 RS jiwa rujukan yang dilengkapi dengan layanan konseling kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri.

RS jiwa tersebut ialah:

  • RSJ Amino Gondohutomo Semarang, nomor telepon (024) 6722565

  • RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, nomor telepon (0251) 8324024, 8324025, 8320467

  • RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta, nomor telepon (021) 5682841

  • RSJ Prof Dr Soerojo Magelang, nomor telepon (0293) 363601

  • RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang, nomor telepon (0341) 423444

  • Kementrian Kesehatan Indonesia telp: (021) 500454.

Editorial Team