Pemasangan tag satelit berbasis drone pada seekor paus biru kerdil di perairan Laut Sawu oleh tim peneliti dalam Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025. (Dok. Konservasi Indonesia)
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia sekaligus pemimpin ekspedisi, Iqbal Herwata mengatakan, keberhasilan pemasangan satu dari empat tag satelit membuktikan keandalan metode pelacakan satwa kelautan berbasis drone.
“Metode ini lebih minim risiko dibanding pendekatan konvensional,” kata Iqbal dilansir keterangan resminya, Minggu (15/2/2026).
Peneliti Elasmobranch Institute Indonesia, Edy Setyawan menjelaskan, instrumen pelacak berjenis LIMPET tersebut dirancang agar berdampak minimal bagi anatomi paus. Alat ini memiliki dua anak panah sepanjang sekitar tujuh sentimeter yang akan menancap di bawah kulit satwa saat ditembakkan.
Menurut Edy, tantangan utama riset itu adalah presisi dan sempitnya jendela waktu. Area pemasangan ideal hanya terekspos maksimal dua detik di atas permukaan air, di mana pelacak harus menancap tepat di belakang lubang napas (blowhole) dan di depan sirip punggung (dorsal fin).