Membaca bukan hanya perkara bisa mengeja kata dan memahami arti per kata. Keterampilan tersebut ternyata bisa dipecah dalam beberapa tingkatan kemampuan. Berdasarkan survei Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2012 pada murid berusia 15 tahun di Indonesia, mayoritas masih berada di level relatif rendah. Yakni, level 1a yang berarti mampu memahami makna harfiah bacaan-bacaan pendek.
Pada 2018, PISA kembali melakukan survei serupa dan menyimpulkan bahwa rata-rata skor yang dicapai adalah 371 poin (masih masuk kategori level 1a). Jauh dibanding negara-negara Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) yang rata-ratanya mencapai 487 poin (level 3). OECD sendiri merujuk pada negara-negara demokratis yang menganut sistem ekonomi pasar (minim campur tangan pemerintah). Sejauh ini OECD terdiri dari 38 negara anggota. Mayoritas dari mereka merupakan negara maju di Uni Eropa, Skandinavia, Amerika Utara, Asia Timur, dan Australia & Selandia Baru.
Krisis keterampilan membaca ini sekiranya bisa menjelaskan mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih dianggap rendah. Tentu kita tak bisa berpangku tangan menunggu perbaikan kurikulum dari institusi terkait. Mari mulai dari diri sendiri saja dengan berusaha melatih kemampuan membaca kritis atau analitis. Tidak hanya terbatas pada pelajar dan mahasiswa, siapapun wajib coba tips berikut.
