Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB ketika seluruh Kampung Sambiroto Kecamatan Tembalang Semarang diguyur hujan deras.
Derasnya hujan membasahi kampung-kampung, jalan setapak hingga pekarangan rumah.
IDN Times yang menyusuri Kampung Sambiroto melihat suasana tampak lengang. Tak ada aktivitas yang berarti kecuali seorang tukang elpiji yang tergopoh-gopoh mendatangi rumah Eka di lingkungan RT 06/RW I, Kampung Sambiroto I.
Beberapa kali tangannya mengetuk pintu. Si empunya rumah yang beringsut dari peraduan langsung membuka pintunya untuk menerima tabung elpiji.
Bila dilihat seksama, rumah Eka berbeda dari tetangganya. Tepat di terasnya terdapat sebongkah makam Bong China. Keberadaan makam Bong China di teras rumah Eka jadi pemandangan langka lantaran selama bertahun-tahun lamanya mayoritas warga memilih membongkar Bong China.
"Sejak saya lahir tahun 75'an, makam Bong China sudah ada di sini. Kalau diperkirakan, Bong China di depan rumah saya sudah berumur puluhan tahun," kata perempuan bernama lengkap Eka Nurvitawati ketika membuka obrolan dengan IDN Times, Senin (2/2/2026).
Eka bilang Bong China di teras rumahnya masih terawat dengan baik. Sebab sesekali ia membersihkan kotoran dan rumput yang menumpuk di gundukan makam.
Tak cuma itu saja, Eka juga kerap menjadikan Bong China sebagai tempat merenung. Menenangkan hati. Maupun sekedar tempat bersantai saat malam hari.
Ia senantiasa merawat Bong China untuk menunjukkan nilai-nilai kerahmatan dengan tetap menjaga makam selayaknya rumah sendiri.
Bong China yang ada di teras rumahnya merupakan makam seorang peranakan Thionghoa asal Semarang. Para ahli warisnya setahun sekali rutin datang ke rumah Eka untuk menggelar ritual chengbeng di depan Bong China.
Ahli waris yang ia maksud merupakan para cucu almarhum. "Cucu-cucunya domisilinya di Jakarta sama Singapura. Tapi kalau pas sehari jelang Imlek pasti kemari. Niatnya emang buat berdoa di depan makam. Pasang hio, pasang menyan, pasang sajen buah-buahan komplit sama kue moho. Kami sekeluarga kenal baik sama mereka," kata ibu dua anak ini.
Dari pengakuan sang ahli waris, Eka mendapat informasi jika jenazah yang ada di dalam Bong China tersebut merupakan kakeknya. "Jadi, di dalam Bong China itu ada jenazah engkongnya. Cucu-cucu almarhum kalau pas berdoa di depan makam pasti mampir ke rumah saya. Ninggali angpau lumayan banyak," tuturnya.
Kendati selama bertahun-tahun berhubungan baik dengan ahli waris Bong China, Eka mengakui perasaannya belakangan gundah gulana. Keresahannya muncul karena dirinya hendak berniat membangun satu kamar lagi di teras rumahnya.
Lantaran ada niatan tersebut, ia beberapa kali mengontak ahli waris Bong China untuk membujuk mereka agar memindahkan makam kakeknya ke tempat lain.
Saat berkomunikasi, ahli waris mengatakan bahwa sewa lahan Bong China sudah habis tahun 2026. "Ya gimana lagi, wong saya mau bikin satu kamar lagi di teras sama warung kecil gitu. Mau ndak mau Bong China-nya musti dibongkar atau dipindahkan ke tempat lain tho," akunya.
Rupanya Bong China di teras rumah Eka bukan satu-satunya yang terancam hilang. Hanya selemparan baru juga terdapat Bong China yang berubah jadi tempat pembuangan sampah karena tidak terurus.
Bong China yang tak terurus itu letaknya di samping rumah Eka. Satu Bong China dipenuhi semak-semak. Sedangkan satunya nyaris tidak berbentuk lantaran telah tertimbun tumpukan sampah rumah tangga.
Menurut pengakuan sejumlah warga, alih fungsi Bong China sudah lumrah terjadi di Kampung Sambiroto. Pasalnya banyak perantau yang membeli lahan Bong China kemudian diubah menjadi bangunan rumah.
"Kalau di Sambiroto I sama Sambiroto II sudah banyak yang jadi rumah-rumah. Soalnya rata-rata Bong China yang jadi satu sama lahan warga akhirnya dibongkar buat dijadikan rumah, Mas. Jumlahnya sudah banyak," kata seorang warga kepada IDN Times.
