Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tuk panjang, pasar imlek semawis
Tuk Panjang atau makan bersama di meja panjang membuka Pasar Imlek Semawis 2026 di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (13/2/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Intinya sih...

  • Pasar Imlek Semawis 2026 resmi dibuka di Pecinan Semarang, 13 Februari 2026.

  • Perayaan berlangsung selama tiga hari untuk menyambut Tahun Baru Imlek.

  • Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) ingin mempersatukan keberagaman di Jawa Tengah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Pasar Imlek Semawis 2026 resmi dibuka di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (13/2/2026) malam. Perayaan tersebut digelar selama tiga hari, 13-15 Februari 2026 untuk menyambut Tahun Baru Imlek.

Pada acara yang diselenggarakan Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) itu tidak hanya untuk masyarakat Tionghoa, tetapi juga wadah mempersatukan keberagaman di Ibu Kota Jawa Tengah.

1. Makan bersama hidangan khas Xinjiang di meja panjang

Pembukaan Pasar Imlek Semawis di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (13/2/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Salah satu tradisi yang tidak pernah ketinggalan pada setiap tahun penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis, yaitu Tuk Panjang. Tradisi makan bersama di meja panjang ini menjadi magnet berkumpulnya berbagai kalangan mulai pejabat, tokoh masyarakat, hingga warga Pecinan Semarang.

Meja makan dengan berbagai hidangan yang kaya simbol dan filosofis itu bak perekat keberagaman yang ada di Kota Semarang dan wujud kerukunan tanpa memandang suku, agama, etnis, dan jabatan. Pada Pasar Imlek Semawis kali ini hidangan khas Muslim Tionghoa dari Xinjiang disajikan kepada ratusan tamu yang datang.

Adapun, menu hidangan yang tersaji di meja panjang di antaranya kue moho, salad mentimun khas Tiongkok, pai huang gua, kebab kambing khas Xinjiang, claypot sapi khas Xinjiang, paha kambing bakar khas Xinjiang, dan minuman ginger peppermint.

Setiap menu makanan itu memiliki arti dan simbol kebaikan sebagai pengharapan di tahun baru. Mulai dari hidangan pembuka Kue Moho, melambangkan rezeki yang merekah. Penganan dari tepung terigu dengan tekstur padat itu membawa pesan agar sebagai manusia harus memiliki pendirian teguh.

2. Kebab kambing hingga minuman ginger peppermint

Tuk Panjang atau makan bersama di meja panjang membuka Pasar Imlek Semawis 2026 di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (13/2/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Kemudian, salad mentimun khas Tiongkok, Pai Huang Gua, menjadi simbol kesegaran dan kejernihan pikiran. Hidangan ini mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan sekadar kemewahan, tetapi keseimbangan hidup.

Sebagai makanan utama, disajikan kebab kambing khas Xinjiang. Daging kambing yang ditusuk ditusuk rapat menggambarkan kebersamaan yang tak tergoyahkan, sedangkan bumbu taburan jintan dan cabai mengingatkan agar hidup dijalani penuh gairah. Hidangan berbahan daging kambing ini juga melambangkan semangat membara dan persatuan keluarga.

Hidangan selanjutnya adalah claypot sapi khas Xinjiang. Nasi yang dimasak di wadah tanah liat dengan bara api itu memiliki menjadi simbol ketahanan dan kesabaran sekaligus melambangkan doa agar rezeki dan kebahagiaan tidak cepat menguap.

Sementara, minuman ginger peppermint yang hadir untuk melegakan tenggorokan itu memiliki arti keseimbangan antara kerja keras yang progresif dan pikiran yang tetap tenang.

3. Pertunjukkan budaya lintas etnis ikut meramaikan

Pembukaan Pasar Imlek Semawis di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (13/2/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Ketua Kopi Semawis, Harjanto Halim mengatakan, Tuk Panjang adalah tradisi utama dari perayaan Tahun Baru Imlek, yang memiliki makna kebersamaan dan kekeluargaan.

"Orang sering mengira Imlek itu soal angpao. Itu salah. Imlek itu adalah menjalin kekeluargaan, yang penting itu makan bersama," ungkapnya.

Maka itu, Tuk Panjang tidak pernah terlewatkan pada setiap penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis sebagai simbol kebersamaan dari keberagaman yang ada di Kota Semarang.

Sementara, sesuatu yang menarik lainnya dari perayaan tersebut adalah pertunjukan budaya lintas etnis, mulai dari wayang orang dengan tokoh Hanoman, Gatotkaca, hingga Cakil, legenda Tiongkok seperti Sun Go Kong, hingga cosplay karakter modern.

Kemudian, para tamu undangan yang hadir mengenakan kebaya dan kain nusantara bagi kaum perempuan, sedangkan yang laki-laki mengenakan sarung.

Editorial Team