Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Unnes Rangkul Gapoktan Ngudi Makmur Demi Memacu Produksi Beras Organik
Sejumlah pegawai slepan beras sedang sibuk mengemasi beras ke dalam karung di Kabupaten Magelang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Universitas Negeri Semarang (Unnes) sedang getol membantu peningkatan produksi beras organik di Kabupaten Magelang. Tim pengabdian Unnes pun memutuskan mendampingi para petani anggota Gapoktan Ngudi Makmur di Kecamatan Dukun.

Pendampingan dimanfaatkan untuk memperkuat sistem produksi pangan sehat berbasis komunitas. Ini merupakan tridarma perguruan tinggi yang selaras dengan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals).

Dari keterangan Tim Pendampingan Unnes, mereka secara resmi meluncurkan produk beras sehat alami menuju organik dengan merek NesRice sebagai bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).

1. Unnes kelola kemitraan akademik dan petani yang berkelanjutan

Tim Pendampingan Unnes memantau produksi beras organik di lokasi Gapoktan Ngudi Makmur Magelang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menurut Ketua Tim Pengabdian Unnes, Dr Eka Yuli Astuti, dengan meningkatkan daya saing petani kecil nantinya mampu membangun kemitraan akademik dan petani yang berkelanjutan.

“Fokus utama kami penguatan kelembagaan gapoktan sebagai prasyarat keberlanjutan usaha organik. Tanpa kelembagaan yang solid, sertifikasi tidak dapat dipertahankan dan akses pasar akan terputus,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (20/2/2026).

2. Unnes dampingi pembentukan unit usaha pemasaran dan restrukturisasi manajemen kelembagaan

Para emak-emak melakukan pengayakan menggunakan tampah untuk membersihkan kotoran yang ada pada beras. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Eka menjelaskan bahwa program telah mencapai sekitar 80 persen pelaksanaan dengan sejumlah capaian strategis. 

Capaian program meliputi pembentukan unit usaha pemasaran beras organik, restrukturisasi manajemen kelembagaan, pengembangan merek dan kemasan premium, serta peningkatan kapasitas produksi melalui implementasi teknologi tepat guna. 

Selain itu, tim pendamping menyusun kembali sistem Internal Control System (ICS) yang menjadi fondasi pengajuan ulang sertifikasi organik.

“Terputusnya sertifikasi organik sebelumnya menjadi bottleneck utama dalam rantai nilai. Oleh karena itu, pendampingan difokuskan pada penyusunan dokumen ICS secara komprehensif, mulai dari SOP budidaya organik, pemetaan lahan, pencatatan budidaya, audit internal, hingga penguatan tata kelola kelembagaan,” jelas Eka.

Melalui model pemberdayaan, pihaknya berusaha membangun ekosistem pertanian organik berbasis kelembagaan yang kuat, transparan, dan berdaya saing. Reaktivasi sertifikasi organik bukan sekadar capaian administratif, melainkan langkah strategis menuju kemandirian ekonomi petani, keberlanjutan produksi, dan kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

3. Beras organik berpeluang terintegrasi dengan pelaksanaan MBG

Kemasan berisi beras organik NesRice. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Sedangkan, Ketua Gapoktan Ngudi Makmur, menyampaikan bahwa pendampingan Unnes memberikan dampak nyata. 

“Kami tidak hanya dibantu dari sisi produksi, tetapi juga dibenahi sistem administrasi dan manajemennya. Dalam enam bulan terakhir, penjualan beras meningkat sekitar 45 persen. Kami kini lebih siap untuk kembali mengajukan sertifikasi organik resmi,” akunya.

Untuk peluncuran merek NesRice, katanya menjadi simbol transformasi kelembagaan tersebut. Produk beras  NesRice diposisikan sebagai beras sehat alami menuju organik dengan standar mutu yang terdokumentasi dan terkontrol. 

Strategi branding dan kemasan premium dirancang untuk memperluas akses ke pasar ritel modern, konsumen institusi, serta peluang integrasi dalam program pangan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Editorial Team