Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Virus Nipah. (flickr.com/NIAID)
Virus Nipah. (flickr.com/NIAID)

Intinya sih...

  • Dinkes Kota Semarang: Belum ada kasus Virus Nipah di Semarang, tetapi masyarakat diminta waspada.

  • Masyarakat diimbau untuk mengenali gejala Virus Nipah dan melakukan langkah pencegahan.

  • Penyebaran informasi dan edukasi kepada masyarakat menjadi fokus dalam mencegah penularan Virus Nipah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menerangkan bahwa belum ditemukan kasus Virus Nipah di Ibu Kota Jawa Tengah. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk waspada dengan mencegah dan mengenali gejalanya. 

1. Virus menyebar dari kelelawar buah

ilustrasi kelewalar reservoir alami virus nipah (freepik.com/wirestock)

Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, pihaknya mengimbau agar masyarakat lebih waspada terkait penyebaran Virus Nipah. Sebab, risiko kematian akibat virus tersebut sangat tinggi. 

“Virus nipah ini sejatinya adalah virus dari famili dari Paramyxoviridae. Virus ini hidup di kelelawar buah. Jadi reservoir-nya adalah kelelawar buah. Nah dari kelelawar, virus ini bisa hidup tapi tidak memberikan gejala pada kelelawar buahnya itu," jelas Hakam, Selasa (3/2/2026). 

Menurut dia, penularan Virus Nipah dapat terjadi ketika ada interaksi antara kelelawar buah dengan hewan lain, terutama babi dan ternak, yang kemudian menjadi perantara penularan ke manusia.

“Kemudian, virus juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi, seperti buah-buahan yang telah digigit kelelawar, serta penularan dari manusia ke manusia, khususnya melalui kontak erat di fasilitas kesehatan,” jelasnya.

2. Belum tersedia obat antivirus atau vaksin

ilustrasi diagnosis virus Nipah (pexels.com/Artem Podrez)

Untuk diketahui, Virus Nipah sudah ada sejak tahun 1998 dari Malaysia dan India. Di sana terjadi peningkatan kasus yang sangat luar biasa. 

“Maka, kenapa ini menjadi perhatian? Karena angka ini atau orang yang terinfeksi virus nipah ini ternyata mortality-nya lumayan cukup tinggi sekitar 50 sampai 75 persen," terang Hakam.

Gejala Virus Nipah yang paling ringan seperti orang terkena flu, demam, nyeri otot, kemudian linu-linu, lalu mual-muntah. Lalu, gejala yang paling berat bisa menyerang otak, seperti radang otak, penderita mengalami kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran hingga koma.

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk Virus Nipah. Maka itu, masyarakat diimbau hati-hati. 

3. Cegah dengan terapkan PHBS

ilustrasi gejala virus Nipah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Adapun upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker ketika bepergian, serta menghindari konsumsi makanan yang tidak higienis, terutama buah yang tidak utuh atau diduga terkontaminasi.

Masyarakat juga diimbau menghindari area peternakan yang berpotensi terpapar serta membatasi perjalanan ke daerah yang sedang melaporkan kasus virus nipah.

“Meski belum ada kasus di Kota Semarang, kami terus melakukan sosialisasi dan kesiapsiagaan dalam menangani Virus Nipah,” tandas Hakam.

Editorial Team