Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wilayah Rawan Kekeringan di Semarang Jadi Prioritas Distribusi Air
Petugas saat melakukan droping air bersih. IDN Times/ istimewa
  • BMKG memprediksi awal musim kemarau terjadi Mei 2026, dengan pola cuaca ekstrem akibat meningkatnya suhu dan perubahan mendadak antara panas serta hujan disertai angin kencang di Semarang.
  • BPBD Kota Semarang menyiapkan satu juta liter air bersih untuk didistribusikan sesuai permintaan warga, dengan Rowosari sebagai prioritas utama karena sulit dijangkau jaringan air PDAM.
  • Pendistribusian air juga difokuskan ke Wonosari, Ngaliyan, dan Gunungpati guna meminimalkan dampak kekeringan, sambil mengimbau masyarakat berhemat air dan menjaga lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau diperkirakan terjadi di bulan Mei 2026. Untuk memitigasi potensi bencana kekeringan, BPBD Kota Semarang akan melakukan upaya dengan mendistribusikan air bersih yang diprioritaskan di wilayah rawan kekeringan.

1. Pola cuaca tahun 2026 lebih ekstrem

Matahari, udara kering, uap air, dan suhu air laut memainkan peran peting dalam suhu dingin pada musim kemarau. (commons.wikimedia.org/sylvia duckworth)

Fenomena meningkatnya suhu panas ini terjadi karena posisi matahari yang mendekati garis khatulistiwa serta berkurangnya tutupan awan, sehingga paparan panas menjadi lebih intens di wilayah Semarang.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono mengatakan, pola cuaca pada tahun 2026 dinilai lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan suhu yang drastis hingga hujan tiba-tiba disertai angin kencang disebut menjadi fenomena yang perlu diwaspadai.

“Kalau dibandingkan dengan 2025, tahun 2026 ini relatif fenomenal sekali. Ini cuaca panas, tiba-tiba nanti menjelang siang atau sore hujan deras disertai dengan angin kencang,” katanya, Jumat (10/4/2026).

2. Distribusi air bersih sesuai permintaan warga

Ilustrasi droping air di wilayah rawan kekeringan. (dok. BPBD Kota Semarang)

Sebagai langkah konkret, BPBD Kota Semarang telah menyiapkan cadangan air bersih sebanyak satu juta liter yang akan didistribusikan sesuai permintaan warga di wilayah terdampak.

“Kapanpun permintaan warga, di manapun nanti akan kami kirim sesuai permintaan warga,” ujar Endro.

Adapun berdasarkan pemetaan kawasan rawan bencana (KRB), wilayah Rowosarj disebut masih menjadi prioritas utama dalam penanganan kekeringan. Kondisi geografis yang sulit dijangkau jaringan air bersih menjadi kendala utama.

‘’Rowosari masih menjadi prioritas pertama. Kendalanya di sana PDAM belum bisa masuk. Bahkan, pengeboran sumur dalam di wilayah tersebut tidak menghasilkan air bersih, melainkan gas, sehingga distribusi air tangki menjadi solusi utama,” ungkap Endro.

3. Minimalisasi dampak bencana kekeringan

ilustrasi kekeringan (pexels.com/Pixabay)

Selain Rowosari, beberapa wilayah di Ibu Kota Jawa Tengah yang menjadi prioritas pendistribusian air bersih antara lain Wonosari, Kecamatan Ngaliyan dan sebagian daerah di Gunungpati. Daerah rawan kekeringan tersebut masih membutuhkan droping air bersih, meskipun sebagian telah mulai dijangkau jaringan pipanisasi PDAM.

Upaya mitigasi terus dilakukan untuk meminimalkan dampak bencana kekeringan agar tidak berulang dan meluas. Pemkot Semarang mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga lingkungan serta menghemat penggunaan air.

Dengan kesiapan logistik dan koordinasi lintas sektor, diharapkan dampak El Nino di Kota Semarang dapat ditekan seminimal mungkin, terutama bagi warga di wilayah yang selama ini mengalami kesulitan akses air bersih.

Editorial Team