Comscore Tracker

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan Diburu

Julang emas terancam punah

Semarang, IDN Times - Habitatb burung rangkong julang emas di Gunung Ungaran saat ini semakin merosot drastis. Berdasarkan pengamatan konservasi yang dikerjakan tim Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Universitas Negeri Semarang (Unnes), kini burung bernama latin Rhyticeros undulatus sangat sulit dijumpai di area hutan yang tersebar di Gunung Ungaran.

1. Saat ini jumlah julang emas di Gunung Ungaran tinggal lima ekor

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan Diburujalaksuren.net

Margareta Rahayuningsih, Peneliti Bidang Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati Unnes, mengungkapkan padahal sekitar sembilan tahun silam, julang emas masih banyak berterbangan di kawasan tersebut. 

Ketika ia pertama kali meneliti pada 2010 lalu, spesies julang emas masih mencapai puluhan ekor. 

"Memang dari pengamatan yang kita lakukan sekitar 5 tahun terakhir julang emas di sana tinggal empat sampai lima ekor saja. Kurang lebih populasinya turun hampir 50 persen. Kasus yang sering muncul itu diambil anaknya, terus ada yang ditembak oleh pemburu. Pernah juga hutannya terbakar," kata Eta, sapaan akrabnya saat berbincang dengan IDN Times, Rabu (8/7/2020).

Baca Juga: Salah Satu Fauna Endemik Sulsel, Ini 5 Fakta tentang Burung Julang

2. Pusat Konservasi Unnes: Mungkin karena ada gangguan manusia

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan Diburupexels.com/Pixabay

Pihaknya menjelaskan ada banyak masalah yang menghambat perkembangbiakan julang emas di hutan Gunung Ungaran. 

Ia mensinyalir ada kemungkinan julang emas telah bermigrasi ke sejumlah tempat karena keberadaan sarangnya yang rusak. Daya jelajah julang emas dikenal sangat jauh. Seekor julang bisa bermigtasi sampai ke daratan Sumatera maupun ke Pulau Bali. 

Dugaan lainnya muncul dari ulah manusia yang mengganggu kawanan julang emas. 

"Sepertinya ada banyak kemungkinan yang membuat julang emas di Gunung Ungaran tinggal sedikit. Bisa karena sarang yang ditempati selama ini sudah gak senyaman kayak dulu. Soalnya dia kan pakai sarangnya dari lubang yang dibuat sama hewan lain. Tapi bisa juga gara-gara gangguan manusia," ujar Dosen Biologi FMIPA Unnes tersebut. 

3. Gunung Ungaran masih ada vegetasi pohon marong, nagasari dan vikus

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan DiburuIlustrasi gunung. Lovebigisland.com

Untuk saat ini, katanya vegetasi yang tumbuh di Gunung Ungaran saat ini cukup baik. Ragam pepohonan masih bisa tumbuh. Mulai pohon marong, pohon beringin hingga pohon nagasari. Pihaknya mengatakan kondisi sarang yang rusak harus ditata ulang lagi untuk mengundang kawanan julang emas kembali ke habitatnya di Gunung Ungaran.

"Kita sudah kerjasama dengan Perhutani dan ketimbang gunung lainnya, kondisi hutan Gunung Ungaran masih tergolong bagus. Sarangnya masih ada dan harus dibenahi dulu. Kita edukasi masyarakat agar jangan lagi melakukan perburuan di sana," terangnya.

"Papan informasi untuk pencegahan sudah dipasang. Hasilnya beberapa titik perburuannya sudah berkurang. Soalnya sudah ada Peraturan Desa (Perdes) yang ngatur soal pelestarian burung," tambahnya.

4. Ada 13 jenis rangkong. Tiga di antaranya spesies asli Jawa

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan Diburuebird.org

Sedangkan menurut Yokyok Hadiprakarsa selaku pendiri Rangkong Indonesia, rangkong merupakan burung paruh besar yang kini sudah mulai langka. Jenis pakannya berupa buah-buahan dan hewan kecil.

Di Indonesia terdapat 13 jenis spesies rangkong. Dan tiga jenis di antaranya merupakan jenis endemik. Untuk sepanjang wilayah Pulau Jawa sejak lama dihuni tiga jenis rangkong antara lain julang emas, enggang cula dan kangkareng perut putih.

"Rangkong dikenal sebagai burung yang setia. Dia juga sering menjaga anaknya selama masa bertelur hingga anaknya bisa terbang. Durasi waktunya berlangsung empat sampai enam bulan tergantung jenisnya," paparnya.

Baca Juga: Kijang Hingga Lutung Jawa Muncul di Gunung Ungaran Selama Pandemik

5. Lembaga Rangkong Indonesia libatkan mahasiswa untuk lestarikan rangkong

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan Diburulausannetravel.com

Pihaknya menyebutkan selama tahun 2013 terdapat 6.000 ekor rangkong di Kalimantan Barat yang mati akibat perburuan liar. Disisi lain, laju reproduksi rangkong sangat lambat. Hanya 1-2 telur yang ditetaskan saban tahun.  

Ketersediaan sarang berupa lubang pohon besar pun semakin jarang. Ia berpendapat bahwa kegiatan pelestarian rangkong tak bisa dilakukan oleh beberapa pihak saja. Harusnya para peneliti, pemerintah, 
masyarakat, dan akademisi perlu dilibatkan. 

"Kami mulai melibatkan para mahasiswa sebagai agent of chance, agar ikut andil di dalamnya. Dan Unnes jadi salah satu kampus dengan penelitian rangkong terlengkap di Jawa Tengah, terutama untuk julang emas," bebernya.

6. Populasi burung enggang di Jawa tinggal 22 persen

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan DiburuIlustrasi paruh Enggang (correcto.id)

Sementara itu, seorang peneliti rangkong lainnya, Firman Heru Kurniawan menyampaikan habitat burung enggang di Jawa tinggal menyisakan 22 persen.

"Penelitiannya dilakukan selama 50 tahun. Sejak 1970 sampai 2020," jelasnya.

Baca Juga: Gagalkan Penyelundupan 72 Paruh Burung Rangkong, KLHK Amankan 1 Wanita

7. Populasi burung enggang di Papua sudah tidak ada alias 0 persen

Populasi Rangkong Julang Emas di Gunung Ungaran Turun 50 Persen, Diduga Kebakaran dan DiburuPinterest

Kemudian populasi enggang di daerah lainnya macam Kalimantan ada 18 persen, Maluku ada 2 persen, Sulawesi 20 persen, Pulau Sumatera 31 persen, di Sumba hanya ada 5 persen, di Pulau Buton, Halmahera dan Ternate tinggal 1 persen sedangkan di Papua sudah tidak ada lagi.

Baca Juga: 5 Fakta tentang Burung Enggang, Si Paruh Besar yang Terancam Punah

Topic:

  • Fariz Fardianto
  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya