Di balik deru mesin Putaran Final Pertamax Turbo MotoPrix 2026 Region B di Semarang, para pembalap cilik menapaki tangga regenerasi nasional. Lewat langkah Hanin Dhiya Humaira (10), kerja kru mekanik di paddock, hingga dukungan ekosistem PT Pertamina Patra Niaga, sirkuit balap menjelma menjadi ruang tumbuh kolektif bagi generasi baru atlet otomotif Indonesia.
Semarang, IDN Times — Hanin Dhiya Humaira menoleh ke arah kamera sambil memegang setang sepeda motor balap berkelir biru di area paddock Sirkuit Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah. Rambutnya dikepang rapi di balik baju balap (wearpack) yang melekat di tubuhnya. Pembalap cilik asal Bandung, Jawa Barat, itu tersenyum lepas—jauh dari kesan tegang sesaat sebelum turun memacu kendaraan di lintasan, Minggu (27/9/2026).
Usianya baru 10 tahun, tetapi lintasan aspal bukan hal baru baginya. Dua tahun setelah mengantongi dua gelar juara umum kejuaraan Pocket Bike LENKA Shaquille Cup Prix 2024, gadis yang akrab disapa Cinonk ini naik jenjang ke kelas Mini Moto Sport 160 cc usia 8–12 tahun (MP7) pada Putaran Final Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pertamax Turbo MotoPrix 2026 Region B, 26–27 September 2026.
Di tengah kepungan pembalap muda lintas provinsi dari wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Hanin sukses menuntaskan dua sesi balapan (Race 1 dan Race 2) di podium ketiga. Namun, angka tiga pada papan skor itu hanya merekam sebagian kecil dari perjalanannya di Mijen.
Sebelum melesat di lintasan sepanjang 1,2 kilomete, Hanin tidak bergerak sendiri. Di bawah tenda tim hingga ke garis tunggu, belasan pasang tangan bekerja menyiapkan langkahnya—mulai dari pendamping yang menjaga kesiapan mentalnya, hingga kru mekanik yang memegang kendali motor, memeriksa tekanan ban, dan menyetel mesin.
Bagi pembalap usia dini seperti Hanin, tantangan terbesar setelah lulus dari balap motor mini (pocket bike) adalah ketersediaan panggung resmi untuk naik kelas. Tanpa kompetisi berjenjang yang terjaga, banyak bakat belia daerah terhenti di level hobi. Di titik itu, kolaborasi Ikatan Motor Indonesia (IMI) bersama PT Pertamina Patra Niaga—melalui kehadiran Pertamax Turbo sebagai sponsor utama sekaligus mitra bahan bakar resmi (Official Fuel Partner)—menjadi penopang utama rantai pembinaan nasional.
Kebermanfaatan ekosistem itu bekerja nyata di dalam sirkuit. Di satu sisi, konsistensi guliran MotoPrix memastikan piramida pembinaan tidak terputus: anak usia 5–7 tahun di kelas pendukung Pocket Bike dan usia 8–12 tahun di kelas MP7 bisa belajar langsung satu lintasan dengan para senior di kelas Beginner (MP4), Rookie (MP3), Novice (MP2), Expert (MP1) 150 cc, hingga kelas Wanita (MP6).
Di sisi lain, penyeragaman bahan bakar Pertamax Turbo beroktan 98 (RON 98) di kelas utama tidak sekadar menguji ketangguhan energi dalam negeri mencegah ketukan mesin (engine knocking) pada suhu ekstrem, melainkan juga menyetarakan standar riset antartim daerah tanpa harus bergantung pada bahan bakar balap impor berbiaya tinggi.
Dampak rantai kompetisi itu mengalir hingga ke luar lintasan. Setiap seri kejurnas menghidupkan bengkel-bengkel riset daerah, menyerap tenaga kerja mekanik, menggerakkan ekonomi pedagang di sekitar Sirkuit Mijen, sekaligus menghadirkan kanalisasi prestasi yang aman bagi anak-anak muda setiap akhir pekan.
Ketika bendera finis dikibarkan, pelukan erat pembalap remaja Renaldy Junior (15) dengan pendampingnya serta senyum lepas pembalap cilik Ariendra Pandhu saat mengangkat trofi Pocket Bike menegaskan satu hal yang tak tertulis di lembar statistik. Di atas sepeda motor, setiap pembalap memang harus mengendalikan kendaraannya sendiri. Namun, untuk tumbuh menjadi juara, mereka tidak pernah berjalan sendirian.
![[FOTO] Tak Sendirian di Lintasan](https://image.idntimes.com/post/20261023/ajp-2026-motoprix-1_53e8d2d4-76dc-4cea-a3c0-13d759c01cf0.jpg)