Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata Baru

Jadi model percontohan pembangunan pariwisata berkelanjutan

Jepara, IDN Times - Karimun Jawa menjadi salah satu destinasi wisata andalan menikmati wisata air.

Di tempat tersebut, para pelancong bisa menikmati surga keindahan bawah laut. Namun kini kondisi bawah laut Karimun Jawa semakin memprihatinkan.

Baca Juga: 7 Destinasi Wisata Terindah di Karimun Jawa Ini Bikin Kamu Gagal Move On!

1. Minimnya pengetahuan mengancam keberadaan terumbu karang

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Terumbu karang di Karimun Jawa terancam mengalami kerusakan. Hal itu dikarenakan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung, tidak diimbangi dengan pengetahuan mereka saat snorkeling (selam permukaan) dan diving (selam dangkal).

“Sudah terlalu banyak wisatawan yang datang dan mengganggu ekosistem terumbu karang di Karimun Jawa. Wisatawan yang awam dan minim pengetahuan menyelam biasanya menendang-nendang, duduk, berdiri, sehingga terumbu karang rusak,” kata pegiat lingkungan Karimun Jawa, Haryo Farras Raditya Hutama saat ditemui IDN Times. 

Beberapa perilaku wisatawan yang dapat mengakibatkan rusaknya terumbu karang diantaranya fins kick (fins yang terkena terumbu karang), slitting (membuat sedimen menjadi teraduk hingga berpotensi menutup terumbu karang), hand touch (menyentuh terumbu karang), serta body brush (bagian tubuh yang tidak sengaja mengenai terumbu karang).

2. Fungsi terumbu karang sangat penting untuk kehidupan dan lingkungan

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro Semarang, keterkaitan kegiatan pariwisata di Karimun Jawa terhadap kerusakan terumbu karang sangat kuat, mencapai 93,5 persen. Kondisi tersebut mempengaruhi perubahan luasan tutupan lahan yang terus berkurang.

Salah satunya di perairan Tanjung Gelam Karimun Jawa. Pada penelitian yang sama, diketahui bahwa luasan terumbu karang di wilayah itu mengalami penurunan mencapai 4,22 hektare selama kurun waktu dua tahun, 2015-2017.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa masih sedikit diantara kita yang mengetahui bahwa terumbu karang berfungsi dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi, baik untuk manusia maupun biota laut.

Melansir dari Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) terumbu karang berfungsi sebagai penyeimbang alam karena mampu menyerap gas karbon dioksida (CO2) yang ada di atmosfer. Karena daya serap karbon dioksida dari terumbu karang lebih tinggi dibandingkan penyerapan karbon dioksida hutan yang ada di darat. Dengan kemampuan tersebut, terumbu karang bahkan diyakini mampu menyelamatkan nyawa manusia dan makhluk hidup lainnya dari dampak pemanasan global.

3. Pertamina dan HDI inisiasi penyelamatan terumbu karang

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Beragam upaya terus dilakukan agar ekosistem terumbu karang di Karimun Jawa tetap terjaga kelestariannya. Salah satunya melalui program taman bawah laut, yang diinisiasi oleh PT Pertamina (Persero) bersama para relawan pegiat lingkungan dari Yayasan Bina Lingkungan HDI, dan masyarakat setempat.

Tujuan utama program taman bawah laut adalah kegiatan transplantasi dan restorasi terumbu karang, dimana jangka panjangnya bakal menjadi sebuah spot menarik dan aman untuk snorkeling dan diving bagi wisatawan.

Transplantasi yang dilakukan pada program itu menggunakan metode biorock. Metode tersebut diyakini mempunyai kemampuan lebih cepat saat proses transplantasi terumbu karang, sebab menggunakan aliran listik.

4. Transplantasi terumbu karang menggunakan biorock lebih cepat

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Secara hasil, transplantasi terumbu karang dengan biorock pertumbuhannya lebih cepat dan kualitasnya lebih bagus. Sebagai perbandingan, jika transplantasi dengan metode pada umumnya, pertumbuhan terumbu karang mencapai 3-5 sentimeter per tahun. Dengan memakai biorock, terumbu karang dapat tumbuh 3-5 sentimeter dalam kurun waktu empat bulan.

"Karena dengan anoda (dari aliran listrik) itu, terumbu karang bisa cepat tumbuh. Anoda (di biorock) akan berubah menjadi kapur. Nah, subtansi tumbuhnya terumbu karang itu adalah adanya kapur atau kalsit. Itu bagus untuk pertumbuhan dan lebih cepat tahapannya, juga tahan terhadap lingkungan yang ekstrem," jelas Haryo yang juga pendiri HDI Foundation.

5. Taman bawah laut menjadi spot asyik untuk snorkeling dan diving masa depan

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Taman bawah laut dipasang di perairan Tanjung Gelam pada kedalaman 7 sampai 7,5 meter saat pasang atau 5 sampai 5-6 meter saat kondisi surut. Perairan tersebut dipilih karena pertimbangan hamparan dan dataran perairannya yang baik. Juga parameter lingkungan lainnya yang mendukung, seperti suhu dan kandungan oksigennya dalam kondisi normal.

Saat ini, di taman bawah laut terdapat 15 unit sedimen trap. Juga ada kerangka rumah-rumah ikan sebanyak 4 unit. Kemudian tiga unit kerangka terowongan, dengan masing-masing luasnya 6 x 3 meter dan tinggi 1,8 meter. Ada juga kerangka berbentuk mobil berukuran 3,1 x 1,8 meter dengan tinggi 1,5 meter, dan kerangka dome atau setengah lingkaran berdiameter 3,1 meter dan tinggi 1,8 meter.

Selain sebagai sarana untuk transplantasi terumbu karang, taman bawah laut diharapkan nantinya akan menjadi jawaban sebagai tempat alternatif untuk atraksi para wisatawan, mencicipi anggunnya pemandangan bawah laut tanpa takut akan merusak ekosistem yang ada.

"Kita buat ada terowongan-terowongan (di taman bawah laut). Seru, diving dan snorkeling bisa melewati terowongan, di atasnya dan sekelilingnya ada ikan-ikan, seperti ikan Nemo," ungkap pria asli Bekasi Jawa Barat itu.

6. Kemunculan taman bawah laut berhasil memperbaiki perairan setempat

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Keberadaan taman bawah laut kini telah membawa hasil positif dalam pelestarian terumbu karang. Sejak program tersebut dijalankan pada 1 Oktober 2016 lalu, jumlah terumbu karang yang ditanam terus meningkat. Dari jumlah awal yang hanya 40 buah, hingga pengamatan terakhir saat Juli 2019 sudah terdapat 230 terumbu karang. Mereka tersebar di beberapa kerangka yang terpasang di area taman bawah laut.

"Awalnya Tanjung Gelam merupakan lokasi yang jarang-jarang ada terumbu karang. Saat ini lokasi (perairan Tanjung Gelam) itu menjadi tempat bertelur dan memijah ikan-ikan di daerah sekitar. Juga untuk berlindung dan berkembang biak," ungkap Haryo.

Tidak hanya itu, kemunculan taman bawah laut turut berpengaruh pada bertambahnya jumlah ikan serta spesies laut lainnya. Termasuk membaiknya indeks keanekaragaman hayati di sekitar perairan Tanjung Gelam. Tercatat hingga Juli 2019 sudah ada 119 ikan dan 15 spesies laut. 

"Bisa dibilang daerah (perairan Tanjung Gelam) itu kosong. Ikan-ikannya jarang. Dulu kasarnya 0 (nol) spesies. Sekarang sudah banyak ikan dan spesies laut. Diluar itu masih ada biota-biota lain yang muncul. Seperti bentos dan juvenil sotong. Jumlahnya sekitar 15-20 ekor," papar Haryo.

7. Titik awal pengembangan ekowisata di Karimun Jawa

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Dampak taman bawah laut secara langsung belum banyak dirasakan masyarakat setempat karena merupakan program jangka panjang. Namun adanya taman itu, akan menjadi titik awal pengembangan ekowisata dan bertambahnya destinasi wisata baru di Karimun Jawa. Sebab lokasi tersebut digadang-gadang bakal menjadi spot cantik untuk snorkeling dan diving di masa depan.

"Untuk saat ini dampaknya memang belum ada, karena memang belum dibuka untuk umum. Sebab spot snorkeling dan diving di Karimun Jawa hanya itu-itu saja. Adanya taman bawah laut sudah bisa dirasakan, ada perubahan secara fisik, seperti perairan dan terumbu karang membaik. Ada banyak ikan-ikan juga," tutur seorang warga yang tinggal di sekitar perairan Tanjung Gelam, Karimun Jawa, Nurtaman kepada IDN Times.

Meski saat ini belum merasakan manfaatnya, pria berusia 36 tahun itu justru menerima keuntungan lain dari program pemberdayaan masyarakat yang diberikan oleh Pertamina dan Yayasan Bina Lingkungan HDI.

8. Masyarakat merasakan dampak tidak langsung dari taman bawah laut

Restorasi Taman Bawah Laut Karimun Jawa, Bakal Calon Spot Wisata BaruDok. Yayasan Bina Lingkungan HDI

Salah satunya adalah peningkatan kesadaran masyarakat setempat, termasuk para pemandu wisata atau guide terhadap sampah plastik. Yaitu munculnya kebijakan untuk tidak menyediakan minuman kemasan gelas dan botol plastik bagi para wisatawan.

Sebagai gantinya mereka hanya menyediakan galon dan botol isi ulang. Itu dilakukan untuk meminimalisir sampah plastik mencemari taman bawah laut dan kawasan Karimun Jawa pada umumnya.

"Saya bekerja sama dengan agen wisata, agen tour. Kebijakan itu sudah diberlakukan sejak tiga bulan terakhir ini (red: mulai Agustus 2019). Kami (para pemandu) juga mengimbau wisatawan untuk tidak membawa minuman kemasan botol dan gelas plastik. Alhamdulillah malah disambut positif para wisatawan," aku Nurtaman yang sudah menjadi pemandu di Karimun Jawa selama 10 tahun.

Nurtaman berharap, kelak taman bawah laut akan menjadi salah satu model percontohan penyelamatan terumbu karang serta pengembangan ekowisata di Indonesia. Terlebih dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan di Karimun Jawa. Sebab taman bawah laut sukses dalam mewujudkannya, dengan berkelanjutan secara lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.

Baca Juga: Ingin Berlibur ke Karimun Jawa? Perhatikan 5 Tips Berikut Ini

Topik:

  • Dhana Kencana
  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya