Comscore Tracker

Salatiga Menuju Kota Kreatif Dunia, Sandiaga Uno Ungkap 3 Cara Ini

Kota Salatiga sedang berbenah menuju Kota Kreatif Dunia

Salatiga, IDN Times - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno mengatakan Kota Salatiga yang sedang berbenah menuju Kota Gastronomi dalam Unesco Creative Cities Network (UCCN) mesti melakukan sebuah perubahan yang menonjolkan tiga cara yang jitu.

Menurutnya ketiga cara yang ia maksud dengan strategi inovasi, adaptasi serta kolaborasi. "Teman-teman di Parekraf akan all out mendukung wilayah Salatiga menuju Kota Gastronomi di UCCN. Apalagi saya lihat sendiri daerah ini terus tumbuh dan berkembang walau di tengah pandemik," ujar Sandiaga dalam keterangan yang diterima IDN Times, Senin (21/6/2021).

1. Sandiaga Uno: Salatiga perlu tonjolkan city of memory

Salatiga Menuju Kota Kreatif Dunia, Sandiaga Uno Ungkap 3 Cara IniMenparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno work from Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Lebih lanjut, ia mengungkapkan Salatiga sebenarnya memiliki potensi yang besar menjadi kota kreatif dunia. Dengan strategi melalui city of memory yang bisa dipadupadankan storynomics tourism alias pendekatan pariwisata yang dikemas dalam cerita atau konten tentang budaya maupun sejarah, pemkot bisa menggali segala keunikan makanan lokal.

Agar makanan unggulan Kota Salatiga bisa mengangkat pariwisata sekaligus menjadi meal experience tourism, lanjutnya, untuk itu perlu meningkatkan kualitas produknya. 

Kualitas pelayanan pun mesti disempurnakan terutama soal kebersihan dan kesehatan. Dan juta suasana yang menyenangkan, harga  yang terjangkau dan ada cerita di balik makanan.

"Itulah strategi inovasi yang harus kita kembangkan dalam customer journey on digital platform. Strategi adaptasi dan kolaborasi harus kita tingkatkan," terangnya.

Baca Juga: Penularan COVID-19 Tinggi, Pasar di Salatiga Ditutup!

2. UNESCO sedang promosikan energi bersih untuk restoran sehat

Salatiga Menuju Kota Kreatif Dunia, Sandiaga Uno Ungkap 3 Cara Initravelandleisure.com

Prof Dr Arief Rachman, Ketua Harian Komite Nasional UNESCO menyebut bahwa gastronomi sebagai seni makanan bisa merujuk gaya memasak dari daerah tertentu yang bisa memgacu pada kearifan makanan lokal. "Tidak hanya makanan sehat tapi juga ada yang berkelanjutan," kata Arief dalam sesi paparannya via YouTube Virtual Conference Gastronomy History.

Ia menjelaskan UNESCO menetapkan tanggal 18 Juni sebagai hari peringatan Sustainable Gastronomy Day. Pihaknya kini berinisiatif mempromosikan energi bersih untuk restoran sehat. Sehingga berarti ada makanan yang memperhitungkan dari mana bahan bahannya berasal, bagaimana makanann itu ditanam.

"Selain itu, bagaimana makanan itu sampai ke pasar dan akhirnya ke piring kita. Ini perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sustainable Gastronomy," jelasnya.

3. Sambal tumpang jadi makanan legendaris yang ada sejak 1814 silam

Salatiga Menuju Kota Kreatif Dunia, Sandiaga Uno Ungkap 3 Cara Iniresepdanmasakan.com

Sementara itu, Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, menyampaikan bahwa pihaknya kini sedang getol mengikuti Kompetisi Jaringan Kota Kreatif Dunia yang diselenggarakan UNESCO. Tujuannya demi memperkenalkan Salatiga, sebuah kota kecil yang kaya nilai sejarah dan kuliner tradisionalnya yang melegenda.

Yuliyanto mengatakan makanan khas Salatiga yang begitu kesohor seantero Jawa Tengah adalah sambal tumpang. Dalam Serat Centhini dinyatakan jika sambal tumpang sudah ada sejak tahun 1814-1823.

"Atas dasar tersebut, dari tujuh sektor yang ada di Kota Kreatif Dunia, Kota Salatiga memutuskan untuk memilih sektor gastronomi tanpa melepaskan dari pengaruh sejarah sebelumnya," imbuhnya.

4. Wali Kota Salatiga sebut ribuan pelaku usaha makanan ada di wilayahnya

Salatiga Menuju Kota Kreatif Dunia, Sandiaga Uno Ungkap 3 Cara Inienting gepuk khas Salatiga. Instagram.com/fasahatsalatiga

Sebagai kota multi etnis, Salatiga punya kuliner beragam. Dari total 14.440 UMKM yang terdaftar di Kota Salatiga, 6.178 diantaranya pelaku usaha kuliner. Kota Salatiga juga didukung dengan adanya beberapa pusat studi terkait gastronomi, diantaranya Pusat Studi Tempe, Pusat Dinamika Usaha Mikro dan Kecil (CEMSED), serta Program Studi Teknologi Pangan.

Dari sisi regulasi, lanjut Yuliyanto, Pemkot Salatiga telah mengeluarkan Keputusan Wali Kota nomor 500/333/2021, yang menetapkan sejumlah daerah maupun spot-spot tertentu untuk mengakomodasi kegiatan yang mempromosikan sebagai kota kuliner kreatif. 

"Hal ini tidak semata-mata untuk mengikuti kompetisi Jaringan Kota Kreatif Dunia, tetapi sebagai pengejawantahan atas apa yang teramanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 dan RPJMD Kota Salatiga, yakni mengenai pengembangan ekonomi kerakyatan dan ekonomi kreatif sebagai sumber kekuatan baru perekonomian Indonesia. 

Baca Juga: Wali Kota Salatiga Kena COVID-19, 11 ASN yang Kontak Erat Dinyatakan Negatif

Topic:

  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya