Ilustrasi aktivitas dan suasana restoran Rice Pepper Scissor (RPS) di kawasan Telaga Bodas, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. (dok. RPS)
Bukan hanya soal makanan, restoran ini mencoba menghadirkan pengalaman makan yang lebih mindful, sehat, sekaligus berdampak bagi lingkungan dan komunitas sekitar.
Pemilik RPS, Ignatius Karmelino mengatakan, bahwa ide tersebut lahir dari keresahan sederhana, yakni masih sedikit restoran di Semarang yang benar-benar menjalankan sustainability sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar kampanye sesaat.
“Kami ingin membangun culture of sustainability di level lokal. Mulainya dari hal kecil, bahkan dari dapur sendiri. Kami percaya setiap hal yang tersisa di dapur masih bisa punya hidup kedua,” ujarnya pada IDN Times, Minggu (17/5/2026).
Prinsip itu terlihat nyata dalam berbagai program yang dijalankan RPS sejak pertengahan 2025. Salah satu yang paling menonjol adalah Waste Management Program. Setiap hari, sampah di restoran dipilah menjadi organik, anorganik, dan residu. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos dan eco enzyme, sementara limbah lain disulap menjadi produk turunan seperti lilin dari minyak jelantah hingga coffee scrub dari ampas kopi.