4 Pola Asuh yang Bisa Bikin Anak Takut Mengekspresikan Diri, Hindari!

- Anak pendiam bisa memiliki ide brilian, tapi pola asuh yang salah bisa mematikan keberaniannya untuk mengekspresikan diri.
- Kalimat meremehkan saat anak bercerita bisa membuat mereka malas terbuka dan meragukan perasaan mereka sendiri.
- Larangan tanpa penjelasan yang jelas dapat membuat anak takut mencoba hal baru dan tumbuh dengan rasa takut gagal.
Setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing. Ada yang suka bercerita, ada yang cerewetnya luar biasa, dan ada juga yang kalem tapi penuh ide. Tapi sayangnya, gak semua anak bisa tumbuh jadi pribadi yang berani menyuarakan isi hatinya. Bukan karena mereka gak mampu, tapi karena sejak kecil sudah terbiasa "dibungkam" dengan pola asuh yang salah.
Sebagai orangtua atau orang dewasa di sekeliling anak, penting banget untuk peka. Bisa jadi tanpa sadar, kamu pernah melakukan hal-hal yang bikin anak jadi takut buat jujur atau mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Nah, supaya gak keterusan, yuk kenali beberapa pola asuh yang diam-diam bisa mematikan keberanian anak untuk mengekspresikan dirinya.
1. Sering menghakimi atau meremehkan perasaan anak

Setiap kali anak cerita, kamu langsung jawab dengan, “Ah, gitu doang kok nangis?” atau “Kamu tuh lebay deh.” Hati-hati, kalimat-kalimat kayak gini bisa banget bikin anak jadi malas terbuka. Lama-lama, mereka berpikir, “Ngapain juga cerita, nanti ujung-ujungnya diremehin.” Akhirnya, anak pun memilih untuk memendam semuanya sendiri.
Anak-anak itu sebenarnya cuma butuh didengarkan tanpa dihakimi. Mereka belum tentu butuh solusi, kadang cuma mau didengar dan dipeluk. Tapi kalau setiap perasaan mereka dianggap sepele, mereka jadi bingung apakah yang mereka rasakan itu valid atau enggak. Akibatnya? Anak bisa tumbuh jadi pribadi yang ragu-ragu dan gak percaya diri saat menyampaikan pendapat atau perasaannya.
2. Terlalu sering melarang tanpa penjelasan yang masuk akal

“Jangan lari-lari!”
“Jangan gambar-gambar di tembok!”
“Pokoknya gak boleh!”
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa aja, tapi kalau terlalu sering dilontarkan tanpa alasan yang jelas, anak bisa jadi takut untuk mencoba hal baru. Apalagi kalau setiap larangan disampaikan dengan nada tinggi atau ancaman.
Anak bukan robot yang bisa otomatis tahu mana yang boleh dan gak boleh. Mereka butuh penjelasan yang bikin mereka paham, bukan sekadar perintah kosong. Kalau gak dikasih ruang buat eksplorasi dan bertanya, anak jadi enggan berinisiatif. Mereka akan tumbuh dengan rasa takut gagal dan takut dimarahi, padahal ekspresi diri itu penting banget buat perkembangan kreativitas dan kepercayaan diri mereka.
3. Memaksakan standar tinggi dan menuntut anak harus sempurna

Tiap kali anak dapat nilai 90, kamu malah tanya, “Lho, kenapa gak 100?” atau tiap mereka tampil di depan umum, kamu malah sibuk bilang, “Tadi kurang tegas suaranya.” Sekilas mungkin niatnya baik, supaya anak termotivasi. Tapi kalau ini jadi kebiasaan, bisa-bisa anak tumbuh dengan rasa bahwa dirinya gak pernah cukup.
Anak jadi takut berpendapat karena takut salah. Mereka enggan menunjukkan diri apa adanya karena khawatir gak sesuai harapan orangtua. Ekspresi diri itu butuh ruang aman, bukan tekanan terus-menerus. Kalau anak terlalu sering merasa gagal memenuhi ekspektasi, bisa-bisa mereka malah berhenti mencoba sama sekali. Dan yang lebih parah, mereka belajar untuk hanya menampilkan apa yang orang lain suka, bukan apa yang mereka inginkan.
4. Tidak memberi contoh dalam mengekspresikan diri secara sehat

Orangtua sering bilang, “Jangan marah-marah,” tapi tiap hari ngomel di rumah. Atau bilang, “Harus berani ngomong,” tapi mereka sendiri enggan berdiskusi atau mendengarkan opini anak. Gimana anak mau belajar mengekspresikan diri kalau mereka gak pernah lihat contoh nyata dari orang terdekatnya?
Anak belajar lewat observasi. Kalau orangtua terbuka, jujur tentang perasaan, dan bisa komunikasi dengan baik, anak pun akan meniru hal yang sama. Tapi kalau sebaliknya, anak akan tumbuh dalam suasana yang dingin, penuh ketakutan, dan serba menahan diri. Mereka gak tahu harus mulai dari mana untuk menyampaikan isi hati, karena selama ini mereka hanya diajarkan untuk diam dan nurut.
Anak-anak bukan hanya butuh makan dan tidur yang cukup. Mereka juga butuh lingkungan yang aman buat mengekspresikan diri. Pola asuh yang penuh tekanan dan minim empati bisa bikin anak merasa kecil di dunia yang harusnya jadi tempat mereka tumbuh dengan percaya diri.
Yuk, mulai dari sekarang kamu lebih sadar dan bijak dalam bersikap. Dengarkan anak, validasi perasaannya, dan kasih ruang buat mereka jadi dirinya sendiri. Karena anak yang berani mengekspresikan diri sejak kecil, akan tumbuh jadi pribadi yang kuat dan tahu apa yang mereka inginkan.