13 Tahun Riset Ungkap Daerah Ini Jadi Habitat 268 Hiu Paus Muda

- Penelitian lintas negara ungkap BLKB sebagai habitat kunci hiu paus muda yang terancam punah.
- 268 hiu paus teridentifikasi mayoritas di sekitar bagan apung, menunjukkan interaksi erat dengan aktivitas perikanan.
- Tingkat residensi tinggi di Teluk Cenderawasih, luka akibat aktivitas manusia, dan rekomendasi solusi praktis untuk perlindungan hiu paus.
Semarang, IDN Times - Sebuah penelitian lintas negara yang berlangsung lebih dari satu dekade berhasil mengungkap fakta penting tentang populasi hiu paus (Rhincodon typus) di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) atau Bird Head Seascape (BHS), Papua. Hasil riset yang diterbitkan di Frontiers in Marine Science itu menegaskan jika kawasan BLKB—yang meliputi Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak—merupakan habitat kunci bagi hiu paus muda yang terancam punah.
1. Sebanyak 268 hiu paus terindentifikasi

Riset tersebut dipimpin Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia, berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia, BLUD UPTD Kawasan Konservasi Perairan Kaimana, serta sejumlah universitas internasional. Penelitian dilakukan sejak September 2010 hingga Oktober 2023 dengan metode foto ID, yakni mengidentifikasi individu hiu paus berdasarkan pola totol unik di tubuhnya.
Dari 1.118 pengamatan, tim menemukan 268 individu hiu paus, mayoritas di sekitar bagan apung—alat tangkap tradisional yang sering digunakan nelayan. Tercatat 159 individu di Teluk Cenderawasih dan 95 individu di Kaimana, menunjukkan interaksi erat hiu paus dengan aktivitas perikanan.
Edy menjelaskan temuannya menunjukkan BLKB menjadi habitat penting bagi hiu paus muda untuk makan dan tumbuh sebelum bermigrasi ke laut lepas.
"Di kawasan Indo-Pasifik, populasi hiu paus menurun hingga 63%, sehingga keberadaan BLKB sangat penting untuk pemulihan spesies ini,” katanya dilansir keterangan resmi, Jumat (29/8/2025).
2. Ada yang berukuran sampai 5 meter

Hasil riset menemukan tingkat residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih rata-rata 77 hari, jauh lebih lama dibanding Kaimana (38 hari). Bahkan, ada individu yang tercatat menetap hingga lebih dari 10 tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding lokasi agregasi hiu paus di negara lain.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata menambahkan, dinamika populasi hiu paus di BLKB didominasi jantan muda berukuran 4--5 meter.
"Fakta ini menegaskan fungsi BLKB sebagai nursery ground atau habitat pembesaran hiu paus,” ungkapnya.
3. Luka akibat aktivitas manusia

Sayangnya, riset juga mencatat ancaman serius. Hampir 77 persen hiu paus di BLKB mengalami luka, mulai dari goresan, sirip teramputasi, hingga bekas gigitan. Di Kaimana, angka hiu paus yang terluka mencapai 83,7 persen. Meski hanya 2,4 persen luka disebabkan baling-baling kapal, interaksi dengan bagan dan aktivitas wisata memberi dampak signifikan.
Iqbal menegaskan, pariwisata hiu paus bisa menjadi penggerak ekonomi lokal, tetapi harus dikelola dengan aturan jelas.
"Kami merekomendasikan desain bagan ramah hiu paus, kode etik wisata, dan pengawasan ketat perikanan serta pelayaran,” ucapnya.
Dalam penelitian tersebut tidak hanya menyajikan data ilmiah, tetapi juga solusi praktis. Tim peneliti mendorong penggunaan bagan ramah hiu paus, penguatan kode etik wisata, serta integrasi database foto ID lintas lembaga.
Selain itu, masyarakat lokal, nelayan, hingga wisatawan didorong untuk ikut berperan melalui sains warga. Teknologi modern seperti telemetry satelit dan biologging juga direkomendasikan untuk melacak pola migrasi, struktur populasi, dan penggunaan habitat hiu paus secara lebih detail.
“Konservasi hiu paus adalah tanggung jawab bersama. Mereka bukan hanya aset ekologi, tetapi juga aset ekonomi dan budaya bagi Papua dan Indonesia,” pungkas Iqbal.