Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Indahnya Toleransi Beragama dalam Momen Paskah di Banyumas

Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E, akademisi dan cendekiawan Muslim dari UIN Saizu Purwokerto dengan latar belakang lukisan tolerasni beragama, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Safrudin Azizi)
Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E, akademisi dan cendekiawan Muslim dari UIN Saizu Purwokerto dengan latar belakang lukisan tolerasni beragama, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Safrudin Azizi)

Banyumas, IDN Times - Momen peringatan Jumat Agung dan Paskah yang dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan nilai-nilai toleransi antarumat beragama, khususnya antara Islam dan Kristen. Dalam diskursus lintas iman, sosok Isa Al-Masih menjadi titik temu penting sekaligus ruang bagi dialog yang membangun.

Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E, akademisi dan cendekiawan Muslim dari UIN Saizu Purwokerto, menyampaikan pandangannya bahwa meski terdapat perbedaan naratif dan teologis, umat Islam tetap menaruh hormat kepada Isa sebagai nabi agung yang diutus Allah. “Dalam Islam, Isa bukan hanya tokoh sejarah, melainkan nabi yang dimuliakan dan diimani,” ungkap Dr. Shiddiqy kepada IDN Times, Jumat (18/4/2025).

Dalam Al-Qur’an, tepatnya Surat An-Nisa ayat 157, disebutkan bahwa Nabi Isa tidaklah disalib ataupun dibunuh, melainkan yang disalib adalah sosok yang diserupakan dengannya. Pandangan ini menjadi pembeda utama antara ajaran Islam dan Kristen mengenai peristiwa penyaliban. Namun, Dr. Shiddiqy menekankan bahwa perbedaan itu justru membuka ruang saling pengertian, bukan pertentangan

1. Momen Paskah dinilai dapat menjadi refleksi sosial

Momen paskah yang disebutnya mampu meningkatkan refleksi sosial, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)
Momen paskah yang disebutnya mampu meningkatkan refleksi sosial, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Di sisi lain, sebagian ulama memiliki penafsiran beragam terhadap ayat-ayat yang menyebutkan "wafat" dan "diangkat"-nya Nabi Isa. Tokoh-tokoh seperti Buya Hamka dan Mahmud Syaltut menafsirkan bahwa Isa telah wafat, sedangkan ulama seperti Ibnu Katsir menegaskan bahwa beliau masih hidup dan akan turun kembali menjelang kiamat. “Perbedaan ini menunjukkan bahwa bahkan dalam Islam sendiri ada ragam pendapat. Ini bukan pelemahan, justru kekayaan dalam berfikir,” tambahnya.

Lebih jauh, momen Paskah dinilai dapat menjadi refleksi sosial untuk memperkuat kehidupan beragama yang damai dan penuh penghormatan. Menurut Dr. Shiddiqy, toleransi tidak berarti mengaburkan akidah, melainkan menghargai keyakinan orang lain selama tidak mencederai prinsip dasar agama masing-masing.

Mengutip sikap para ulama besar seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi dan pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), disebutkan bahwa memberikan ucapan selamat dalam perayaan umat lain diperbolehkan, selama tidak mengandung pengakuan teologis. “Kita bisa menghormati Paskah sebagai bentuk penghormatan atas tradisi saudara kita umat Kristiani, tanpa harus mengadopsi kepercayaannya,” jelasnya.

2. Salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani

Dalam Islam, Isa Al-Masih dikenal sebagai Nabi Isa ’alaihis salam, salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)
Dalam Islam, Isa Al-Masih dikenal sebagai Nabi Isa ’alaihis salam, salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Dr. Shiddiqy mengajak masyarakat Indonesia khususnya Banyumas yang majemuk secara keyakinan dan budaya untuk menjadikan peringatan keagamaan sebagai titik perjumpaan kemanusiaan. “Kita belajar dari para nabi bukan hanya ajaran mereka, tapi juga bagaimana mereka memperlakukan sesama dengan rahmat dan adil, termasuk mereka yang berbeda keyakinan,” pungkasnya.

"Sebagai bangsa yang besar dan beragam, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat toleransi. Figur Isa Al-Masih menjadi contoh bahwa dari sejarah yang sama, bisa lahir pandangan berbeda namun bukan untuk menjauh, justru untuk saling mendekat dalam kedamaian,"katanya.

Dalam Islam, Isa Al-Masih dikenal sebagai Nabi Isa ’alaihis salam, salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan utusan Allah yang membawa risalah suci. Oleh karena itu, perbincangan seputar Isa, termasuk peristiwa penyaliban, bukan hanya menjadi milik umat Kristiani semata, melainkan juga bagian dari diskursus teologis umat Islam.

3. Toleransi yang mencerahkan hidup dalam damai

Toleransi yang mencerahkan, kita diajak untuk belajar hidup berdampingan dalam damai, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)
Toleransi yang mencerahkan, kita diajak untuk belajar hidup berdampingan dalam damai, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Perbedaan antara Islam dan Kristen dalam memaknai Isa Al-Masih adalah realitas sejarah dan teologis yang tidak bisa dihapus. Namun justru dari perbedaan inilah kita diajak untuk belajar hidup berdampingan dalam damai.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam di dunia dan di akhirat, karena tidak ada nabi antara aku dan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Paskah bukan hanya sebagai peringatan keagamaan bagi saudara-saudara Kristiani, tetapi juga sebagai momen refleksi lintas iman. Momen untuk meneguhkan nilai-nilai rahmat, kasih, dan keadilan yang diajarkan oleh semua nabi, termasuk Isa ’alaihis salam Karena pada akhirnya, kemuliaan umat bukan semata dari keyakinan yang dipegang, tetapi dari kemampuannya untuk memanusiakan sesama manusia termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
Cokie Sutrisno
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us