Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Alasan Kenapa Sejarah Cheng Ho Bisa Relate Sama Dompet Digital

Kota Semarang
3 min read
4 Alasan Kenapa Sejarah Cheng Ho Bisa Relate Sama Dompet Digital
Salah satu bangunan di Sam Poo Kong Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Semangat pelayaran di masa lalu kini berevolusi menjadi kemudahan transaksi digital lintas negara, salah satunya melalui terobosan QRIS Antarnegara.

  • Literasi keuangan dan digitalisasi ternyata bisa dipelajari dengan asyik lewat pendekatan budaya dan experience-based education, bukan sekadar teori kaku.

  • Adopsi pembayaran digital di Indonesia makin tak terbendung, terbukti dari meroketnya transaksi lokal hingga diraihnya penghargaan tingkat global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah nggak sih, kamu ngerasa kalau ngomongin soal sistem pembayaran digital, inflasi, atau kebijakan keuangan itu rasanya kaku dan bikin ngantuk? Padahal, itu adalah urusan yang nempel banget sama keseharian kita. Apalagi kalau kamu tipe yang hobi traveling, jajan produk luar negeri, atau sering pusing ngatur cashflow bulanan.

Untungnya, ada cara yang berbeda buat memahami itu semua tanpa harus ngerut dahi. Lewat semangat perhelatan Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026, kita diajak melihat gimana sejarah masa lalu ternyata punya benang merah sama canggihnya teknologi dompet digital kita sekarang. Penasaran apa hubungannya? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

  1. 1. Dari Jalur Laut Beralih ke Konektivitas Tanpa Batas

    2C3A9477.JPG
    Pertunjukan wayang potehi saat acara Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026 Two Shores, One Story, One Connection yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Bank Indonesia)

    Kalau dulu Laksamana Cheng Ho harus menempuh ombak lautan untuk menjalin hubungan perdagangan dan budaya antara China dan Jawa, sekarang wujud konektivitas itu sudah berevolusi. Lautan tidak lagi jadi satu-satunya jalur penghubung, melainkan digantikan oleh teknologi digital yang super cepat.

    Lewat layanan QRIS Antarnegara Indonesia-China, masyarakat kini bisa melakukan pembayaran lintas negara dengan mudah. Pesan sejarah itu divisualisasikan dengan epik oleh Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong, Kota Semarang lewat pertunjukan Dance Spectacle bertajuk "Two Shores, One Story, One Connection", Sabtu (26/9/2026).

    "Sejarah tidak hanya ditampilkan sebagai masa lalu, tetapi menjadi jembatan untuk memahami bagaimana hubungan antarbangsa terus berkembang melalui inovasi teknologi," kata Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah, Anggis Rakhmi.

  2. 2. Belajar Keuangan Nggak Harus Duduk di Kelas

    Edukasi QRIS di acara Two Shores, One Story, One Connection yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong Semarang, Sabt
    Edukasi QRIS di acara Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026 Two Shores, One Story, One Connection yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Bank Indonesia)

    Edukasi soal uang bakal cepat nguap kalau cuma dijejali teori. Menyadari hal itu, BI menggunakan metode experience-based education alias praktik langsung yang menyenangkan.

    Masyarakat diajak mencoba langsung kemudahan transaksi nirsentuh lewat QRIS Challenge. Selain itu, ada juga kegiatan seru seperti Galang Uang Logam (GAUL) dan storytelling Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah. Hal itu membuktikan kalau literasi sistem pembayaran digital bakal lebih nempel kalau dikemas lewat aktivitas sehari-hari yang relatable.

  3. 3. Ketahanan Pangan dan Dukungan Penuh untuk UMKM

    Pembayaran QRIS saat acara Two Shores, One Story, One Connection yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong Semarang,
    Pembayaran QRIS saat acara Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026 Two Shores, One Story, One Connection yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Bank Indonesia)

    Urusan perut dan roda ekonomi lokal juga nggak ketinggalan. Acara berbasis budaya seperti itu sering kali menjadi wadah emas bagi UMKM unggulan Jawa Tengah untuk unjuk gigi. Mulai dari pameran wastra pesisir, produk kerajinan daur ulang, hingga kuliner khas akulturasi Semarang-Cina.

    Menariknya, ada juga sisipan edukasi pengendalian inflasi pangan. Caranya gampang banget dipahami warga: lewat kegiatan tebus murah komoditas pangan strategis. Langkah taktis ini secara nggak langsung mengenalkan pentingnya hilirisasi dan diversifikasi pangan buat ketahanan dapur kita sendiri.

  4. 4. Bukti Nyata Transaksi Digital Indonesia Diakui Dunia

    2C3A9365.JPG
    Edukasi pembayaran QRIS saat acara Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026 Two Shores, One Story, One Connection yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Bank Indonesia)

    Transformasi dompet digital di Indonesia nggak cuma jago kandang, lho! Bukti nyatanya, inovasi QRIS Antarnegara sukses menyabet penghargaan bergengsi 50-in5 Awards 2026 di kancah internasional. Sistem kita diakui secara global karena sifatnya yang inklusif dan interoperable.

    Di tingkat regional pun angkanya bikin melongo. Hingga Juli 2026, pencapaian QRIS Jawa Tengah sukses tembus 870,01 juta transaksi dengan nilai putaran uang mencapai Rp73,45 Triliun. Pemerataan digitalisasi tersebut juga terus didorong ke sektor pemerintahan melalui apresiasi Transaksi Non Tunai (TNT) Awards, demi menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).

    Singkatnya, sejarah, kekayaan budaya, dan kecanggihan teknologi bukanlah hal yang saling bertolak belakang. Ketiganya justru bisa dirajut menjadi solusi cerdas untuk memajukan ekonomi kita hari ini.

    Nah, setelah melihat suksesnya kolaborasi budaya dan teknologi di atas, menurut kamu fitur aplikasi perbankan atau dompet digital apa lagi sih yang butuh sentuhan budaya lokal biar makin gampang dipakai, termasuk juga oleh orang tua kita? Share pendapatmu di kolom komentar, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More