4 Ciri Fisik dan Mental Anak yang Menahan Stres Akibat Dibully

Anak yang menahan stres akibat perundungan dapat mengalami keluhan fisik berulang, seperti sakit perut, pusing, mual, lemas, memar, atau barang pribadi rusak tanpa penyebab jelas.
Perundungan dapat memicu perubahan drastis pada tidur dan makan, termasuk insomnia, mimpi buruk, nafsu makan menurun, berat badan turun, atau makan berlebihan saat cemas.
Orang tua perlu mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan anak, berkoordinasi dengan sekolah, dan mencari bantuan profesional bila kecemasan anak makin berat.
Anak yang menahan stres akibat perundungan dapat mengalami keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis jelas, termasuk sakit perut, pusing, memar, atau barang pribadi rusak maupun hilang.
Perundungan bisa mengubah pola tidur dan makan, serta memicu penurunan prestasi, hilangnya minat hobi, menarik diri dari pertemanan, hingga keengganan bersekolah.
Orang tua perlu menyediakan ruang aman, memvalidasi perasaan anak, berkoordinasi dengan sekolah, dan mencari bantuan psikolog atau psikiater bila kecemasan semakin berat.
Semarang, IDN Times - Kasus perundungan (bullying) di lingkungan pertemanan anak kerap terjadi tanpa disadari oleh orang tua maupun pendidik. Anak-anak yang menjadi korban perundungan sering kali memilih untuk memendam perasaan dan menahan stres sendirian karena rasa takut, malu, atau diancam oleh pelaku.
Padahal, stres akibat perundungan yang dibiarkan terus-menerus dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang serta kesehatan jiwanya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak. Berikut empat ciri fisik dan mental anak yang sedang menahan stres akibat dibully:
1. Keluhan Fisik Berulang Tanpa Penyebab Medis Jelas

Sejumlah anak terlihat murung, menggambarkan tekanan psikologis yang kerap dialami anak-anak ketika orang tua mereka terseret persoalan hukum, termasuk stigma dan perundungan di lingkungan sekitar, Jumat (30/1/2026).(IDN Times/Foto: Ilustrasi/freepik.com) Stres dan tekanan emosional yang ditahan anak sering kali bertransformasi menjadi gejala somatik atau keluhan fisik nyata.
Ciri yang muncul diantaranya yakni anak sering mengeluh sakit perut, pusing, mual, atau merasa lemas tiba-tiba, terutama pada pagi hari sebelum berangkat sekolah atau saat hendak bertemu kelompok pertemanannya.
Tanda lain juga muncul luka memar, goresan, atau pakaian dan barang pribadi yang sering rusak/hilang tanpa alasan yang masuk akal.
2. Perubahan Pola Tidur dan Makan yang Drastis

Ilustrasi anak-anak menyerukan penghentian perundungan di lingkungan sekolah. (Ilustrasi) Beban pikiran akibat perundungan mengganggu hormon tubuh yang mengatur pola tidur dan nafsu makan anak.
Ciri yang muncul yaitu anak mengalami insomnia, sering terbangun di malam hari, atau mengalami mimpi buruk berulang.
Tanda lain diantaranya nafsu makan menurun drastis hingga berat badan turun, atau sebaliknya, anak menjadi emotional eating (makan berlebihan saat merasa cemas).
3. Penurunan Prestasi dan Enggan Beraktivitas Sosial

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia, Natalius Pigai dan Rektor Unud, I Ketut Sudarsana memegang poster stop perundungan. (IDN Times/Yuko Utami) Kecemasan akibat perundungan membuat konsentrasi anak terpecah sehingga fokus belajarnya menurun tajam.
Ciri yang muncul biasanya nilai akademis mendadak anjlok, sering melamun di kelas, dan kehilangan minat pada hobi atau kegiatan kegemarannya.
Tanda lain yaitu anak mulai menarik diri dari lingkungan pertemanan, enggan keluar rumah, serta sering mencari alasan untuk bolos sekolah.
4. Perubahan Emosi drastis dan Sensitif

ilustrasi pendampingan korban perundungan (pexels.com/August de Richelieu) Tekanan emosional yang dipendam secara terus-menerus membuat kondisi psikologis anak menjadi sangat tidak stabil.
Ciri yang muncul yaitu anak menjadi sangat sensitif, mudah menangis, atau justru sering meledak-ledak (marah) untuk meluapkan kekesalannya.
Tanda lain yakni muncul perilaku regresif (seperti kembali mengompol pada anak kecil) atau mengutarakan kalimat yang menunjukkan rasa putus asa dan rendah diri secara berulang.
Langkah yang Harus Didorong Orang Tua
Ciptakan Ruang Aman: Dengarkan cerita anak tanpa menghakimi atau meremehkan perasaannya.
Validasi Emosional: Yakinkan anak bahwa peristiwa perundungan tersebut bukan kesalahannya.
Koordinasi Pihak Sekolah: Jalin komunikasi intensif dengan guru atau pihak sekolah untuk menyelesaikan masalah perundungan secara tegas.
Konsultasi Profesional: Jika gangguan kecemasan anak terlihat makin berat, segera bawa anak ke psikolog atau psikiater anak untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.
























