Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Ciri Fisik dan Mental Anak yang Menahan Stres Akibat Dibully
Mahasiswa KKN UIN Walisongo mengadakan Program SAHABAT untuk mengedukasi anak-anak Desa Jatirejo mengenai pencegahan perundungan dan bijak berdigital (Dok. Istimewa/KKN UIN Walisongo)
  • Anak yang menahan stres akibat perundungan dapat mengalami keluhan fisik berulang, seperti sakit perut, pusing, mual, lemas, memar, atau barang pribadi rusak tanpa penyebab jelas.

  • Perundungan dapat memicu perubahan drastis pada tidur dan makan, termasuk insomnia, mimpi buruk, nafsu makan menurun, berat badan turun, atau makan berlebihan saat cemas.

  • Orang tua perlu mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan anak, berkoordinasi dengan sekolah, dan mencari bantuan profesional bila kecemasan anak makin berat.

  • Anak yang menahan stres akibat perundungan dapat mengalami keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis jelas, termasuk sakit perut, pusing, memar, atau barang pribadi rusak maupun hilang.

  • Perundungan bisa mengubah pola tidur dan makan, serta memicu penurunan prestasi, hilangnya minat hobi, menarik diri dari pertemanan, hingga keengganan bersekolah.

  • Orang tua perlu menyediakan ruang aman, memvalidasi perasaan anak, berkoordinasi dengan sekolah, dan mencari bantuan psikolog atau psikiater bila kecemasan semakin berat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Empat ciri fisik dan mental dapat muncul pada anak yang menahan stres akibat perundungan, meliputi keluhan fisik, gangguan tidur dan makan, penurunan aktivitas, serta perubahan emosi.
  • Who?
    Anak korban perundungan, orang tua, pendidik, guru, pihak sekolah, serta psikolog atau psikiater anak dapat terlibat dalam penanganan kondisi tersebut.
  • Where?
    Perundungan dapat terjadi di lingkungan pertemanan anak, termasuk di sekolah dan saat anak berinteraksi dengan kelompok teman sebayanya.
  • When?
    Tanda dapat terlihat berulang, terutama sebelum anak berangkat sekolah atau hendak bertemu kelompok pertemanannya. Waktu terjadinya perundungan pada tiap anak per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Anak dapat memendam stres karena takut, malu, atau mendapat ancaman dari pelaku perundungan. Tekanan emosional yang berlanjut dapat memengaruhi kondisi fisik, perilaku, dan kesehatan jiwa.
  • How?
    Orang tua didorong menyediakan ruang aman, mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan anak, berkoordinasi dengan sekolah, dan berkonsultasi kepada profesional bila kecemasan anak makin berat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak yang dibully kadang diam karena takut atau malu. Mereka bisa sakit perut, pusing, susah tidur, mimpi buruk, atau tidak mau makan. Nilai sekolah bisa turun dan mereka tidak mau bermain. Anak juga bisa mudah menangis atau marah. Orang tua perlu mendengar, bilang itu bukan salah anak, lalu bicara dengan guru atau psikolog.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mengenali perubahan fisik, emosi, pola tidur, prestasi, dan perilaku sosial anak dapat menjadi pintu awal bagi orang tua untuk memberi dukungan yang lebih tepat. Dengan ruang aman, validasi tanpa menghakimi, komunikasi dengan sekolah, serta bantuan profesional saat diperlukan, anak memiliki kesempatan untuk tidak menghadapi tekanan perundungan sendirian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Kasus perundungan (bullying) di lingkungan pertemanan anak kerap terjadi tanpa disadari oleh orang tua maupun pendidik. Anak-anak yang menjadi korban perundungan sering kali memilih untuk memendam perasaan dan menahan stres sendirian karena rasa takut, malu, atau diancam oleh pelaku.

Padahal, stres akibat perundungan yang dibiarkan terus-menerus dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang serta kesehatan jiwanya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak. Berikut empat ciri fisik dan mental anak yang sedang menahan stres akibat dibully:

1. Keluhan Fisik Berulang Tanpa Penyebab Medis Jelas

Sejumlah anak terlihat murung, menggambarkan tekanan psikologis yang kerap dialami anak-anak ketika orang tua mereka terseret persoalan hukum, termasuk stigma dan perundungan di lingkungan sekitar, Jumat (30/1/2026).(IDN Times/Foto: Ilustrasi/freepik.com)

Stres dan tekanan emosional yang ditahan anak sering kali bertransformasi menjadi gejala somatik atau keluhan fisik nyata.

Ciri yang muncul diantaranya yakni anak sering mengeluh sakit perut, pusing, mual, atau merasa lemas tiba-tiba, terutama pada pagi hari sebelum berangkat sekolah atau saat hendak bertemu kelompok pertemanannya.

Tanda lain juga muncul luka memar, goresan, atau pakaian dan barang pribadi yang sering rusak/hilang tanpa alasan yang masuk akal.

2. Perubahan Pola Tidur dan Makan yang Drastis

Ilustrasi anak-anak menyerukan penghentian perundungan di lingkungan sekolah. (Ilustrasi)

Beban pikiran akibat perundungan mengganggu hormon tubuh yang mengatur pola tidur dan nafsu makan anak.

Ciri yang muncul yaitu anak mengalami insomnia, sering terbangun di malam hari, atau mengalami mimpi buruk berulang.

Tanda lain diantaranya nafsu makan menurun drastis hingga berat badan turun, atau sebaliknya, anak menjadi emotional eating (makan berlebihan saat merasa cemas).

3. Penurunan Prestasi dan Enggan Beraktivitas Sosial

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia, Natalius Pigai dan Rektor Unud, I Ketut Sudarsana memegang poster stop perundungan. (IDN Times/Yuko Utami)

Kecemasan akibat perundungan membuat konsentrasi anak terpecah sehingga fokus belajarnya menurun tajam.

Ciri yang muncul biasanya nilai akademis mendadak anjlok, sering melamun di kelas, dan kehilangan minat pada hobi atau kegiatan kegemarannya.

Tanda lain yaitu anak mulai menarik diri dari lingkungan pertemanan, enggan keluar rumah, serta sering mencari alasan untuk bolos sekolah.

4. Perubahan Emosi drastis dan Sensitif

ilustrasi pendampingan korban perundungan (pexels.com/August de Richelieu)

Tekanan emosional yang dipendam secara terus-menerus membuat kondisi psikologis anak menjadi sangat tidak stabil.

Ciri yang muncul yaitu anak menjadi sangat sensitif, mudah menangis, atau justru sering meledak-ledak (marah) untuk meluapkan kekesalannya.

Tanda lain yakni muncul perilaku regresif (seperti kembali mengompol pada anak kecil) atau mengutarakan kalimat yang menunjukkan rasa putus asa dan rendah diri secara berulang.

Langkah yang Harus Didorong Orang Tua

Ciptakan Ruang Aman: Dengarkan cerita anak tanpa menghakimi atau meremehkan perasaannya.

Validasi Emosional: Yakinkan anak bahwa peristiwa perundungan tersebut bukan kesalahannya.

Koordinasi Pihak Sekolah: Jalin komunikasi intensif dengan guru atau pihak sekolah untuk menyelesaikan masalah perundungan secara tegas.

Konsultasi Profesional: Jika gangguan kecemasan anak terlihat makin berat, segera bawa anak ke psikolog atau psikiater anak untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article