Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Jargon Korporat Beracun yang Paling Merusak Mental Pekerja Muda

Kota Semarang
3 min read
5 Jargon Korporat Beracun yang Paling Merusak Mental Pekerja Muda
ilustrasi pekerja korporat (freepik.com/freepik)
  • Jargon budaya “keluarga” dapat mengaburkan batas profesional, memicu rasa bersalah saat pekerja menolak lembur, tugas di luar peran, atau ingin mengundurkan diri.

  • Tuntutan “extra mile” dan “sense of ownership” mendorong pekerja melampaui kapasitas serta memikul beban besar tanpa kepastian kompensasi, promosi, atau kenaikan gaji.

  • Label “agile dan dinamis” serta “work hard, play hard” dinilai menutupi perencanaan buruk dan menormalisasi pola kerja-istirahat tidak sehat, yang memicu kecemasan hingga burnout.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa bersalah saat menolak lembur atau mendadak cemas hanya karena bekerja sesuai jam kantor Di dunia kerja modern, istilah-istilah keren berkedok narasi positif sering kali diproduksi untuk memotivasi karyawan.

Namun, alih-alih membangun semangat kerja, istilah halus ini kerap bertindak sebagai alat kontrol psikologis yang manipulatif. Bagi pekerja muda, jargon-jargon ini sering memicu burnout hingga imposter syndrome. Yuk, bedah lima jargon korporat paling beracun dan rahasia terselubung di baliknya!

  1. 1. "Kita di Sini Sudah Seperti Keluarga"

    ilustrasi pekerja muda sedang merenungkan perkembangan kariernya di meja kerja
    ilustrasi pekerja muda sedang merenungkan perkembangan kariernya di meja kerja (pexels.com/ Yan Krukau)

    Ini adalah jargon paling beracun yang paling sering dipakai untuk mengaburkan batasan profesional antara karyawan dan manajemen. Konsep keluarga sengaja dimanfaatkan untuk memicu rasa bersalah (guilt-tripping) saat kamu ingin menetapkan batasan diri.

    Kamu dibuat merasa jahat saat menolak lembur tanpa bayaran, menolak tugas di luar deskripsi pekerjaan, atau saat berniat melayangkan surat pengunduran diri. Jargon ini menuntut loyalitas tanpa syarat, namun tanpa adanya jaminan timbal balik yang setara terkait hak dan kesejahteraanmu.

  2. 2. "Tolong Berikan Extra Mile Ya"

    ilustrasi pekerja muda (pexels.com/mikhail)
    ilustrasi pekerja muda (pexels.com/mikhail)

    Kalimat ini menuntut karyawan untuk terus bekerja melampaui batas kemampuan standar demi membuktikan tingkat dedikasi. Dampak psikologisnya, standar kinerja yang sehat dan normal justru terkesan kurang cukup di mata manajemen.

    Pekerja muda yang menyelesaikan tugas sesuai porsi pekerjaan yang disepakati di awal akan dicap tidak ambisius. Tuntutan untuk selalu memberi lebih ini memicu burnout ekstrem karena target kesuksesan terus digeser secara sepihak tanpa adanya kepastian kenaikan gaji atau promosi.

  3. 3. "Kita Harus Agile dan Dinamis"

    Pekerja Kantor (unsplash.com/Damir Kopezhanov)
    Pekerja Kantor (unsplash.com/Damir Kopezhanov)

    Meskipun istilah agile sebenarnya merujuk pada metode kerja adaptif dan cepat, implementasi di lapangan sering kali melenceng jauh. Jargon ini kerap dijadikan tameng untuk menutupi perencanaan manajemen yang berantakan.

    Perubahan struktur mendadak dan pergantian target harian menciptakan ketidakpastian kronis. Secara psikologis, ketiadaan arah yang stabil ini memaksa otak terus berada di mode survival, yang pada akhirnya memicu munculnya high-functioning anxiety dalam jangka panjang.

  4. 4. "Kamu Harus Punya Sense of Ownership yang Tinggi"

    ilustrasi pekerja muda (pexels.com/mikhail)
    ilustrasi pekerja muda (pexels.com/mikhail)

    Lewat jargon ini, kamu dituntut memiliki rasa tanggung jawab sebesar pemilik saham atau founder perusahaan. Efeknya, kamu dipaksa memikirkan masalah operasional dan target besar kantor hingga ke sela-sela waktu istirahat di rumah.

    Ini adalah bentuk beban mental yang sangat tidak seimbang. Pekerja muda dipaksa menanggung tingkat stres selangit ala jajaran direksi, padahal kompensasi finansial yang diterima tetap berada di level staf.

  5. 5. "Kerja Keras, Main Keras (Work Hard, Play Hard)"

    Perempuan pekerja berjas menatap tumpukan berkas dokumen yang menumpuk di sebelah laptopnya
    ilustrasi pekerja kantor yang kewalahan menghadapi beban kerja berlebih (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Kerap diagungkan oleh perusahaan startup atau agensi kreatif, jargon ini dipakai untuk menarik minat anak muda lewat iming-iming budaya kerja yang terkesan kasual dan seru.

    Sayangnya, slogan ini menormalisasi pola hidup yang tidak sehat. Energi yang diperas habis saat jam kerja (work hard) dipaksa untuk dilampiaskan lewat aktivitas kumpul-kumpul malam (play hard). Kultur ini merampas hak tubuh untuk mendapatkan istirahat berkualitas, yang lama-kelamaan memicu depresi terselubung.

    Mengetahui arti tersembunyi di balik istilah-istilah ini akan membantumu bersikap lebih rasional dan tidak gampang merasa bersalah saat mempertahankan hak profesionalmu.

    Di antara kelima jargon beracun di atas, mana nih yang paling sering kamu dengar dan paling bikin mentalmu terkuras di kantor? Tulis pengalamanmu di kolom komentar, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More