Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan Keuangan Usia 20-an Ini Bikin Masa Tua Melarat
Ilustrasi fenomena FOMO (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Usia 20-an menjadi periode penting membangun fondasi kekayaan; menghabiskan seluruh pendapatan untuk FOMO dan YOLO dapat mengorbankan keamanan finansial saat produktivitas menurun.

  • Paylater dan pinjaman online untuk kebutuhan tersier berisiko memicu utang berbunga tinggi, sementara ketiadaan dana darurat dapat memaksa pencairan investasi atau berutang saat krisis.

  • Menunda investasi menghilangkan manfaat bunga berbunga; minim literasi finansial, pencatatan arus kas, dan asuransi kesehatan juga dapat menguras tabungan serta aset ketika terjadi sakit atau kecelakaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
usia 20-an

Gaya hidup FOMO dan YOLO, penggunaan paylater, pengabaian dana darurat, penundaan investasi, serta minimnya literasi dan asuransi kesehatan dapat merusak fondasi keuangan.

usia sudah menginjak 30-an

Anggapan bahwa investasi baru perlu dimulai pada usia ini dapat membuat seseorang kehilangan manfaat bunga berbunga.

5 hingga 10 tahun

Menunda investasi selama periode ini membuat kebutuhan modal di masa depan menjadi berkali-kali lipat lebih besar.

masa tua

Kebiasaan finansial buruk yang dibiarkan dapat mengancam kemandirian dan kesejahteraan finansial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima kebiasaan keuangan pada usia 20-an yang berisiko mengganggu keamanan finansial masa tua: gaya hidup FOMO/YOLO, utang konsumtif, tanpa dana darurat, menunda investasi, serta mengabaikan literasi dan asuransi kesehatan.
  • Who?
    Millennials dan orang berusia 20-an yang mengelola pendapatan, pengeluaran, tabungan, investasi, utang digital, serta perlindungan kesehatan secara mandiri.
  • Where?
    Kebiasaan tersebut terjadi dalam pengelolaan keuangan pribadi, termasuk pengeluaran untuk kafe, konser, liburan, gadget, pakaian bermerek, cicilan digital, dan pinjaman online.
  • When?
    Pada usia 20-an, ketika sebagian orang memprioritaskan konsumsi saat ini dan menganggap persiapan pensiun masih jauh.
  • Why?
    Pengeluaran impulsif, bunga utang, ketiadaan cadangan dana, investasi yang terlambat, dan biaya kesehatan tanpa perlindungan dapat mengurangi aset serta pendapatan jangka panjang.
  • How?
    Risiko muncul saat seluruh pendapatan dihabiskan, utang dipakai untuk kebutuhan tersier, aset dicairkan ketika krisis, manfaat bunga berbunga terlewat, atau tabungan terkuras akibat sakit dan kecelakaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang usia 20-an bisa susah saat tua jika uangnya habis buat ikut tren, beli barang dengan utang, dan tidak menabung. Mereka juga perlu punya uang darurat, mulai menanam uang sedikit-sedikit, belajar mengatur uang, dan punya asuransi kesehatan. Kalau sakit atau kehilangan kerja, tabungan tidak cepat habis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Usia 20-an menawarkan ruang berharga untuk membangun fondasi finansial melalui pilihan yang lebih sadar: mengendalikan pengeluaran impulsif, menghindari utang konsumtif, serta mulai menyiapkan dana darurat, investasi, dan perlindungan kesehatan. Kebiasaan sederhana ini dapat menjaga aset dan memperkuat kemandirian finansial ketika menghadapi kebutuhan tak terduga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Merasa gaji bulanan selalu menumpang lewat begitu saja? Buat kamu, kehidupan di usia 20-an kerap dipenuhi godaan untuk menikmati hasil kerja keras secara instan. Karena masa pensiun terasa masih sangat jauh, urusan pengelolaan uang sering kali ditaruh di urutan paling akhir.

Sayangnya, tanpa disadari kebiasaan keuangan yang disepelekan saat ini bisa berakibat fatal di kemudian hari. Jika dibiarkan terus menerus, masa tua yang harusnya tenang justru terancam melarat. Yuk, bedah lima kebiasaan keuangan usia 20-an yang wajib dihindari dari sekarang!

1. Menormalisasi Gaya Hidup FOMO dan YOLO Tanpa Batas

Ilustrasi hidup YOLO(pexel.com/Марина Вотинцева)

Prinsip You Only Live Once (YOLO) dan rasa takut ketinggalan tren (Fear of Missing Out atau FOMO) sering dijadikan pembenaran untuk terus nongkrong di kafe mahal, berburu tiket konser, hingga liburan impulsif demi validasi sosial.

Menghabiskan 100% pendapatan saat ini tanpa menyisakan ruang untuk masa depan adalah tindakan yang berbahaya. Kesenangan instan di usia 20-an ini harus dibayar mahal dengan hilangnya keamanan finansial ketika fisik tidak lagi produktif bekerja.

2. Terjebak Konsumerisme Paylater dan Pinjaman Online

ilustrasi menggunakan paylater (magnific.com/benzoix)

Menggunakan fitur cicilan digital (paylater) atau pinjaman online (pinjol) bukan untuk kebutuhan mendesak, melainkan demi memuaskan keinginan tersier seperti gadget terbaru atau pakaian bermerek.

Kebiasaan ini sama saja dengan "membeli masa depan dengan utang". Bunga pinjol yang tinggi dan menumpuk akan terus menggerus pendapatan bulanan, membuat kamu terjebak dalam lingkaran setan gali lubang tutup lubang (debt trap).

3. Mengabaikan Pembentukan Dana Darurat (Emergency Fund)

Mencatat semua pengeluaran menjadi dasar menentukan target dana darurat. (Foto: Jakub Żerdzicki/unsplash)

Banyak yang menganggap tabungan biasa sudah cukup, sehingga enggan mengalokasikan dana khusus yang terpisah sebagai jaring pengaman finansial.

Saat terjadi hantaman ekonomi—seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), masalah kesehatan, atau kecelakaan—kamu tidak memiliki cadangan uang tunai. Akibatnya, kamu terpaksa mencairkan aset investasi secara prematur atau terjerat utang berbunga tinggi.

4. Menunda Investasi dengan Alasan Gaji Masih Kecil

ilustrasi investasi saham (pexels.com/AlphaTradeZone)

Berpikir bahwa investasi hanya bisa dilakukan oleh orang kaya atau saat usia sudah menginjak 30-an adalah kekeliruan besar.

Dengan menunda investasi, kamu kehilangan kekuatan paling magis dalam dunia keuangan, yaitu efek bunga berbunga (compound interest). Menunda investasi selama 5 hingga 10 tahun membuat kamu harus menyisihkan modal berkali-kali lipat lebih besar di masa depan hanya untuk mengejar hasil orang yang mulai berinvestasi sejak usia 20-an.

5. Buta Finansial dan Mengabaikan Asuransi Kesehatan

Ilustrasi asuransi kesehatan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Enggan mempelajari pengelolaan aset, malas mencatat arus kas, serta menolak membeli asuransi kesehatan mandiri karena merasa tubuh masih selalu sehat adalah kombinasi yang sangat berisiko.

Satu penyakit kritis atau musibah kecelakaan tanpa proteksi asuransi sanggup menghabiskan seluruh tabungan dan aset finansial yang dikumpulkan bertahun-tahun hanya dalam waktu semalam.

Dampak Kebiasaan Buruk Finansial Usia 20-an

Kebiasaan Finansial

Risiko Utama

Dampak Jangka Panjang

Gaya Hidup FOMO/YOLO

Pendapatan habis tanpa sisa

Kehilangan keamanan finansial saat pensiun

Konsumerisme Paylater & Pinjol

Bunga menumpuk & debt trap

Pendapatan tergerus untuk bayar utang

Tanpa Dana Darurat

Tidak ada jaring pengaman krisis

Terpaksa jual aset atau utang saat PHK

Menunda Investasi

Kehilangan compound interest

Harus menyisihkan modal jauh lebih besar kelak

Tanpa Asuransi Kesehatan

Biaya medis tak terduga

Tabungan & aset amblas dalam semalam

Memperbaiki kebiasaan keuangan di usia 20-an adalah langkah paling cerdas untuk menjamin kemandirian finansial di masa depan. Selalu ingat bahwa gaya hidup yang bijak hari ini adalah investasi terbaik untuk masa tua yang tenang dan sejahtera.

Dari lima kebiasaan di atas, mana nih yang paling sering tanpa sadar masih kamu lakukan? Tulis pengalamanmu di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke teman-temanmu, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article