Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alasan Kenapa Kamu Sering Menangis Pas Pulang Kerja dan Begini Solusinya

Kota Semarang
3 min read
Alasan Kenapa Kamu Sering Menangis Pas Pulang Kerja dan Begini Solusinya
ilustrasi wanita sedang menangis (pexels.com/Ron Lach)
  • Menangis saat perjalanan pulang kerja dapat terjadi ketika tubuh keluar dari mode survival setelah seharian menahan emosi dan tekanan profesional.

  • Perjalanan pulang menjadi ruang aman yang membuat pertahanan mental menurun, sehingga emosi tertahan selama bekerja dapat meluap sebagai air mata.

  • Untuk meredakan luapan emosi, biarkan tangisan keluar, lakukan napas 4-7-8 atau butterfly hug, lalu istirahat dan tunda keputusan besar di rumah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu mendadak meneteskan air mata saat duduk di atas ojek online, dalam gerbong kereta, atau di dalam mobil sewaktu perjalanan pulang kerja? Padahal, kalau diingat-ingat, hari itu tidak ada kejadian yang terlampau buruk atau teguran keras dari atasan.

Tiba-tiba dada terasa sesak dan air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan. Fenomena crying on the commute home ini sama sekali bukan menandakan kamu cengeng. Secara psikologis dan neurosains, ini adalah bukti nyata bahwa tubuhmu sedang berada di titik jenuh mode survival (fight-or-flight). Yuk, bedah alasan biologis di baliknya serta cara penanganan daruratnya!

  1. 1. Pelepasan Beban Emosional Lewat Safe Space Effect

    Hal Kecil yang Diam-diam Bikin Pria Terlihat Lebih Dewasa
    ilustrasi pria menangis (unsplash.com/Masjid MABA)

    Sepanjang delapan jam atau lebih di kantor, otakmu dipaksa terus mengaktifkan korteks prefrontal—bagian otak yang bertugas mengatur logika, profesionalisme, serta topeng sosial. Kamu berjuang menahan emosi saat dikritik, tetap tersenyum di tengah rasa lelah, dan bersikap tenang di bawah tekanan kerja.

    Saat melangkah keluar dari area kantor dan duduk di kendaraan, otak bawah sadar menangkap sinyal bahwa ancaman hari ini telah usai. Momen transisi ini menciptakan efek ruang aman (safe space effect). Pertahanan mental yang kamu bangun seharian mendadak runtuh, membuat seluruh emosi yang tertahan akhirnya keluar meluap dalam bentuk air mata.

  2. 2. Izinkan Air Mata Keluar dan Terapkan Pernapasan 4-7-8

    ilustrasi perempuan menangis
    ilustrasi perempuan menangis (pexels.com/Timur Weber)

    Langkah pertolongan pertama emosional yang paling krusial adalah tidak menahan air mata tersebut. Menahan tangisan saat tubuh sudah mencapai batas mode survival justru akan meningkatkan tekanan darah dan membuat dada semakin terasa menghimpit.

    Jika detak jantung terasa terlalu kencang, lakukan teknik pernapasan 4-7-8. Tarik napas melalui hidung selama 4 detik, tahan selama 7 detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut selama 8 detik. Metode ilmiah ini ampuh memaksa sistem saraf keluar dari kondisi fight-or-flight.

  3. 3. Berikan Sentuhan Fisik Mandiri Lewat Butterfly Hug

    ilustrasi perempuan menangis
    ilustrasi perempuan menangis (freepik.com/freepik)

    Saat gelombang emosi meluap di perjalanan, cobalah berikan rasa tenang pada dirimu sendiri melalui sentuhan fisik sederhana. Kamu bisa mengelus dada secara perlahan atau menyilangkan kedua tangan di dada untuk melakukan butterfly hug (merangkul bahu sendiri).

    Tindakan sederhana ini secara biologis mengirimkan sinyal keamanan ke otak. Cara ini membantu menenangkan amigdala dan memberi tahu tubuhmu bahwa kamu sedang berada dalam perlindungan yang aman.

  4. 4. Tunda Keputusan Besar dan Segera Istirahatkan Pikiran

    Seorang perempuan menangis.
    ilustrasi seorang perempuan menangis (pexels.com/RDNE Stock project)

    Saat energi emosional habis terkuras, kondisi otakmu sedang tidak berada dalam performa terbaik untuk berpikir jernih atau mengambil keputusan krusial.

    Setibanya di rumah, segera mandi dengan air hangat, kenakan pakaian yang paling nyaman, dan alokasikan waktu untuk beristirahat. Tunda dulu membahas urusan pekerjaan atau masalah hidup yang berat, karena kesehatan mentalmu malam ini adalah prioritas utama.

    Menangis di perjalanan pulang adalah cara alami tubuh untuk melepaskan beban dan berteriak bahwa kamu butuh istirahat setelah berjuang keras seharian.

    Apakah kamu juga pernah mengalami momen emosional dan mendadak menangis di jalan saat pulang kerja belakangan ini? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More