Semarang, IDN Times - Perum Bulog Semarang telah menyerap 4-6 ton Gabah Kering Panen (GKP) dari hasil panen raya di Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Dalam pelaksanaan penyerapan, tim jemput pangan Bulog bergerak berdasarkan informasi potensi panen dari lahan seluas sekitar setengah hektare.
Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Semarang, Kurnia Pradipta, menuturkan keberhasilan penyerapan tidak terlepas dari koordinasi intensif dengan para pemangku kepentingan pertanian.
Sejak awal tahun kami sudah melakukan sosialisasi dan membangun koordinasi dengan dinas pertanian, PPL, serta Babinsa. Ketika ada informasi petani akan panen, Tim Jemput Pangan Bulog langsung berkoordinasi dan turun ke lokasi," katanya.
Petani dan Gapoktan berperan memberikan informasi mengenai kesiapan panen, sementara PPL dan Babinsa membantu menghubungkan petani dengan petugas Bulog.
Dukungan dinas pertanian setempat turut memperkuat koordinasi agar proses penyerapan dapat berjalan sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
"Kami menyiapkan armada, petugas pemeriksa kualitas, hingga mekanisme pembayaran agar proses penyerapan dapat berjalan lancar dan memudahkan petani," kata Kurnia dalam keterangan yang diterima IDN Times, Jumat (30/10/2026).
Pihaknya pun memberikan pilihan pembayaran secara tunai maupun transfer sesuai kesepakatan dengan petani. Pembayaran bisa dilakukan pada hari yang sama atau hari berikutnya, bergantung pada waktu panen dan penyelesaian administrasi.
Untuk pembelian GKP di tingkat petani mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram any quality dengan kondisi GKP cukup usia panen sesuai ketentuan pemerintah.
Aturannya menjadi bentuk dukungan untuk memberikan kepastian harga dan menjaga kepercayaan petani terhadap mekanisme penyerapan pemerintah.
"Kalau sudah melewati masa panen raya, biasanya panen tidak berlangsung serentak. Karena itu, informasi dari PPL dan Babinsa sangat membantu kami mengetahui titik-titik yang masih panen. Kami tetap hadir melakukan penyerapan dengan harga sesuai ketentuan pemerintah dan memberikan kemudahan pembayaran kepada petani," ungkap Kurnia.
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan kondisi gabah dan penimbangan untuk memastikan jumlah pembelian, dengan dukungan petugas pemeriksa kualitas Bulog agar proses berlangsung tertib, transparan, dan sesuai prosedur.
"Selain kesiapan petugas dan armada, kepastian harga serta kemudahan pembayaran juga menjadi bagian penting dalam mendukung penyerapan," tuturnya.
Setelah proses pembelian selesai, gabah diangkut menuju Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog Kendal atau Mitra Pengolahan GKP untuk menjalani proses lanjutan pengeringan menjadi Gabah Kering Giling (GKG), sebelum diolah menjadi beras.
Beras hasil pengolahan selanjutnya disimpan di gudang Bulog sebagai bagian dari pengelolaan CBP. Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan penyerapan tidak hanya bergantung pada kegiatan pembelian di sawah, tetapi juga didukung kesiapan petugas, sarana pengangkutan, fasilitas pengolahan, dan pergudangan yang terintegrasi.
Keberhasilan Bulog melampaui target penyerapan nasional menjadi bukti pentingnya sinergi dari hulu hingga hilir dalam memperkuat ketahanan pangan. Peran petani sebagai produsen pangan, dukungan Gapoktan, PPL dan Babinsa dalam koordinasi lapangan, keterlibatan dinas pertanian setempat, serta kesiapan Tim Jemput Pangan dan petugas pemeriksa kualitas menjadi bagian yang saling melengkapi dalam mendukung pencapaian tersebut.
Bulog berkomitmen untuk terus mengoptimalkan penyerapan hasil panen dalam negeri meskipun target tahun 2026 telah terlampaui, guna memberikan kepastian pasar bagi petani, mendukung stabilitas harga di tingkat produsen, dan menjaga ketersediaan cadangan beras nasional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
