Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dagang Tetap Jalan, Ongkos Internet Berkurang

Kab. Demak
3 min read
Dagang Tetap Jalan, Ongkos Internet Berkurang
Seorang pelanggan menunggu Rivachul Wahidah (Iva) memproses pengisian saldo dompet digital di Warung Al Barokah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Selain menjual kebutuhan sehari-hari, Iva menyediakan layanan transfer uang dan pengisian saldo dompet digital sebagai bagian dari usaha kelontongnya. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Rivachul Wahidah, pemilik Warung Al Barokah di Demak, melayani 5–10 transaksi digital per hari sebagai sumber pemasukan tambahan sejak lima tahun terakhir.

  • Setelah memakai Internet Rakyat, biaya internet bulanan Iva turun dari Rp250.000 menjadi Rp150.000, menghemat Rp100.000 atau 40 persen untuk perputaran modal usaha.

  • Akses IRA di Desa Batursari didukung penataan frekuensi 1,4 GHz oleh Komdigi dan dihadirkan PT Telemedia Komunikasi Pratama untuk memperluas internet terjangkau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beralih ke layanan Internet Rakyat (IRA), pengeluaran internet bulanan Rivachul Wahidah (33) turun hingga 40 persen. Dari sebuah warung kelontong di Demak, dampak nyata kebijakan konektivitas Kementerian Komdigi mewujud dalam efisiensi biaya operasional usaha kecil.

Demak, IDN Times — Tidak semua kebutuhan pelanggan di Warung Al Barokah tersedia di rak etalase. Di sela-sela rentengan jajanan, minuman kemasan, dan barang kebutuhan pokok, Rivachul Wahidah (33) sibuk mengutak-atik layar ponsel cerdasnya. Jemarinya lincah melayani pelanggan yang hendak mentransfer uang atau sekadar mengisi saldo dompet digital.

Bagi perempuan yang akrab disapa Iva ini, warungnya yang berlokasi di Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, tidak sekadar tempat berjualan barang fisik. Layanan transaksi digital yang ia rintis sejak lima tahun terakhir sudah menjadi urat nadi tambahan bagi kelangsungan usahanya.

Dalam sehari, Rivachul bisa melayani lima hingga sepuluh transaksi digital. Dengan mematok biaya jasa yang ramah di kantong—berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per transaksi—pemasukan tambahannya terbilang stabil. Kendati layanan tersebut sudah berjalan sejak lama, ada satu perubahan signifikan yang belakangan membuat napas usahanya makin lega: ongkos internet yang kini jauh lebih terjangkau berkat kehadiran Internet Rakyat (IRA).

"Dulu, setiap bulan saya bisa habis Rp250.000 hanya untuk kebutuhan internet," ungkapnya kepada IDN Times, Jumat (16/10/2026).

Namun, setelah beralih menggunakan sambungan IRA, beban pengeluaran itu menyusut drastis menjadi Rp150.000 per bulan. Angka itu terbagi untuk biaya langganan IRA sebesar Rp100.000 dan paket data seluler cadangan untuk keperluan mobilitas di luar rumah Rp50.000.

Selisih Rp100.000 tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi pelaku usaha kecil seperti Iva, angka itu merepresentasikan pemangkasan pengeluaran rutin hingga 40 persen. Meski bukan berupa tambahan omzet, uang yang berhasil dihemat itu sangat berarti untuk menopang perputaran modal dagangannya.

Tersedianya internet ramah kantong di Desa Batursari ini tidak lepas dari intervensi struktural pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Melalui Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2025 tentang penataan pita frekuensi 1,4 GHz, pemerintah berupaya keras memperluas akses internet broadband yang terjangkau hingga ke akar rumput.

Kebijakan di atas kertas itu kemudian dieksekusi di lapangan oleh PT Telemedia Komunikasi Pratama. Sebagai pemenang seleksi pengguna frekuensi untuk wilayah Regional I, perusahaan ini menghadirkan IRA sebagai layanan internet komersial yang menjangkau masyarakat bawah.

Rivachul Wahidah (tengah) melayani pembeli di Warung Al Barokah, Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (16
Rivachul Wahidah (tengah) melayani pembeli di Warung Al Barokah, Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Selain menjual kebutuhan sehari-hari, Iva menyediakan jasa transfer uang dan pengisian saldo dompet digital sebagai bagian dari kegiatan usahanya. (IDN Times/Dhana Kencana)
Rivachul Wahidah mengambil barang dari deretan produk yang menggantung di Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Makanan
Rivachul Wahidah mengambil barang dari deretan produk yang menggantung di Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Makanan ringan dan kebutuhan rumah tangga memenuhi ruang usaha kelontong yang dikelolanya. (IDN Times/Dhana Kencana)
Rivachul Wahidah mengoperasikan ponsel untuk mengakses transaksi keuangan di Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Sela
Rivachul Wahidah mengoperasikan ponsel untuk mengakses transaksi keuangan di Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Selain untuk berkomunikasi, perangkat tersebut digunakan untuk mendukung layanan transaksi digital yang sudah dijalankannya sejak sebelum berlangganan Internet Rakyat (IRA). (IDN Times/Dhana Kencana)
Rivachul Wahidah mengakes aplikasi layanan keuangan digital melalui ponsel di dekat perangkat jaringan Internet Rakyat (IRA) yang terpasang
Rivachul Wahidah mengakes aplikasi layanan keuangan digital melalui ponsel di dekat perangkat jaringan Internet Rakyat (IRA) yang terpasang di dinding Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Menurut Iva, setelah berlangganan IRA, pengeluaran internet bulanannya turun 40 persen, dari Rp250.000 menjadi Rp150.000, yang terdiri dari biaya IRA Rp100.000 dan paket data seluler Rp50.000. (IDN Times/Dhana Kencana)
Seorang pelanggan menunggu Rivachul Wahidah memproses pengisian saldo dompet digital di Warung Al Barokah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jum
Seorang pelanggan menunggu Rivachul Wahidah memproses pengisian saldo dompet digital di Warung Al Barokah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Selain menjual kebutuhan sehari-hari, Rivachul menyediakan layanan transfer uang dan pengisian saldo dompet digital sebagai bagian dari usaha kelontongnya. (IDN Times/Dhana Kencana)
Uang tunai berpindah tangan di atas etalase Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Selain melayani jual beli barang kebu
Uang tunai berpindah tangan di atas etalase Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Selain melayani jual beli barang kebutuhan sehari-hari, Rivachul Wahidah menyebut, warungnya melayani sekitar lima hingga sepuluh transaksi digital per hari dengan biaya jasa Rp2.000–Rp3.000 per transaksi. (IDN Times/Dhana Kencana)
Rivachul Wahidah menata barang dagangan di etalase Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Di warung tersebut, ia memaduk
Rivachul Wahidah menata barang dagangan di etalase Warung Al Barokah, Demak, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026). Di warung tersebut, ia memadukan penjualan kebutuhan sehari-hari dengan layanan transaksi digital yang kini didukung biaya internet lebih rendah setelah menggunakan IRA. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kisah dari Warung Al Barokah menjadi bukti empiris bahwa keadilan konektivitas tidak melulu diukur dari lahirnya usaha-usaha rintisan baru atau lonjakan pendapatan yang fantastis. Bagi para pedagang kecil yang sudah melek digital, efisiensi biaya operasional merupakan wujud nyata pemberdayaan. Tentu saja, stabilitas jaringan dan kepastian tarif akan terus menjadi kunci agar manfaat pemerataan ini tetap langgeng dirasakan warga.

Hari ini, potret Warung Al Barokah tidak banyak berubah. Rentengan kopi dan sabun masih menggantung di etalase; pembeli datang silih berganti; dan lembaran rupiah masih riuh berpindah tangan. Bedanya, di tengah geliat perdagangan desa yang terus berputar, ada beban biaya yang kini berhasil ditekan.

Dari sebuah warung sederhana di Demak, pemerataan akses digital terbukti bukan sekadar jargon, melainkan urat nadi yang menghidupi usaha rakyat kecil.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More