Dari Tanah Payau Tambaklorok, Harapan Pangan Tumbuh dengan Energi Hijau

- Kelompok Wanita Tani Cantik Bahari di Tambaklorok mengembangkan urban farming meski menghadapi tanah payau, lumpur laut, lahan kritis, dan salinitas tinggi.
- Green house, budidaya ikan-lele, serta pengering ikan memanfaatkan tenaga angin dan surya, mendukung perputaran ekonomi mandiri, ketahanan pangan keluarga, dan pengurangan emisi.
- Sebanyak 20 siswa SMPN 25 Semarang mengikuti edukasi Srikandi Movement, mempraktikkan kompos, eco-enzyme, dan penanaman bayam brazil bersama PLN IP serta mitra terkait.
Sinar sang surya yang begitu terik tak melulu dianggap oleh warga Semarang sebagai penanda bencana.
Justru, bagi warga pesisir pantai Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara, suhu udara yang menyengat menjadi berkah yang tak terhingga.
Anugerah dari sang surya dirasakan ibu-ibu anggota kelompok wanita tani Cantik Bahari di RW 15 Tambaklorok yang bertahun-tahun telaten membudidayakan sayur-mayur dengan model pertanian perkotaan alias urban farming.
Tanah di dekat laut bisa diubah menjadi green house

Pelatihan pertanian perkotaan juga mencakup pengolahan kompos untuk penyubur tanaman di Tambaklorok. (IDN Times/Fariz Fardianto) Saat rombongan siswa-siswi SMPN 25 Semarang mengikuti latihan pembuatan lahan pertanian perkotaan di Tambaklorok, rata-rata mereka dibuat terheran-heran.
Banyak siswa yang berpikir bagaimana mungkin tanaman sayuran bisa tumbuh subur. Sedangkan Tambaklorok dikenal punya air payau dengan kontur tanah endapan lumpur laut.
Nabila, seorang siswi Kelas VII SMPN 25 salah satu yang penasaran dengan cara emak-emak menanam sayuran di Tambaklorok.
"Awalnya saya pikir bertani di daerah pesisir yang dekat laut itu mustahil karena tanahnya susah ditanami. Tapi setelah belajar dari ibu-ibu KWT dan kakak-kakak Indonesia Power, ternyata bisa banget disiasati pakai cara urban farming," kata siswa berusia 14 tahun ini.
Memanfaatkan kincir angin dan energi matahari

Srikandi PT PLN Indonesia Power (PLN IP) UBP Semarang bersinergi dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), LPUBTN KAS, Dinas Pertanian Kota Semarang, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari menggelar pelatihan pertanian perkotaan. (IDN Times/Fariz Fardianto) Namun saat mereka diajak keliling melihat operasional green house yang digerakkan oleh kincir angin, serta inovasi alat pengering ikan bertenaga surya, antusiasmenya meningkat.
Di sana, mereka belajar langsung bagaimana siklus penyemaian bibit, hingga budidaya ikan dan lele yang terbukti mampu menciptakan perputaran ekonomi yang mandiri bagi masyarakat sekitar.
"Yang paling seru itu waktu lihat alat pengering ikan dan green housenya pakai tenaga angin dan matahari. Bikin saya jadi makin semangat buat coba bikin kompos dan menanam sayur di rumah," akunya.
Pengalaman belajar di luar ruang kelas ini memberikan kesan mendalam bagi para peserta.
Kunjungan para siswa-siswi SMPN 25 Semarang ini diinisiasi PLN Indonesia Power (PLN IP) UBP Semarang melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), LPUBTN KAS, Dinas Pertanian Kota Semarang, dan kelompok wanita tani Cantik Bahari.
Kegiatan yang diikuti 20 siswa merupakan program unggulan Srikandi Movement yang mengusung tema Srikandi Mengajar dan Srikandi Woman Support Woman.
Kelompok tani berjuang mengubah pola pikir masyarakat pesisir

Sejumlah emak-emak bersama siswa-siswi SMP 25 Semarang mendengarkan penjelasan dari PLN Indonesia Power Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto) Ketua KWT Cantik Bahari RW 15 Kelurahan Tanjung Mas, Sri Wahyuni mengakui memang tak gampang mengubah pola pikir warga pesisir Tambaklorok.
Ia bilang walau harus berjuang di tengah keterbatasan lahan kritis dan bersalinitas tinggi, akan tetapi lambat-laun kelompok taninya sanggup menjadi salah satu pionir pertanian perkotaan.
Ketua Srikandi PLN IP UBP Semarang, Fajar Feqi Nisai, menuturkan bahwa kegiatan bersama siswa SMPN 25 bentuk sinergi memberikan edukasi sejak dini kepada para pelajar mengenai integrasi pertanian dan energi hijau.
“Kegiatan ini merupakan sinergi Srikandi dan TJSL PLN IP UBP Semarang untuk mengedukasi siswa sekolah terkait urban farming yang dipadukan dengan green energy. Langkah ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi melalui pemanfaatan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) sebagai penggerak Green House dan alat pengering ikan yang dikelola KWT,” ujar Fajar, Minggu (11/10/2026).
Fajar juga berharap pengalaman ini bisa menjadi ajang belajar yang menyenangkan bagi siswa.
"Kami berharap semua siswa dapat belajar dengan ceria, serta mampu menerapkan ilmu urban farming berbasis green energy ini di lingkungan sekolah maupun di rumah, sehingga bermanfaat melengkapi materi pembelajaran mereka di sekolah," urainya.
Rangkaian kegiatan tidak hanya sebatas pemaparan teori di dalam ruangan. Setelah mendapatkan materi, para siswa diajak terjun langsung mempraktikkan cara pembuatan pupuk kompos dan cairan serbaguna eco-enzyme, serta mencoba langsung penanaman bayam brazil.
Melalui program Srikandi Mengajar, PLN IP UBP Semarang berharap dapat terus mencetak generasi muda yang peduli akan ketahanan pangan dan peka terhadap pemanfaatan energi bersih demi keberlanjutan lingkungan di masa depan.


























