Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Capaian 1,3 GW PLTS Atap, Awal Visi 100 GW Energi Surya Nasional

Capaian 1,3 GW PLTS Atap, Awal Visi 100 GW Energi Surya Nasional
Ilustrasi warga membersihkan panel PLTS atap SuperSUN PLN. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Intinya Sih
  • Indonesia mencapai kapasitas PLTS Atap 1,3 GW hasil kolaborasi ESDM, PLN, dan AESI, menjadi langkah awal menuju target pengembangan energi surya nasional sebesar 100 GW.
  • Pertumbuhan PLTS Atap hampir sepuluh kali lipat mendukung RUPTL PLN 2025–2034, memperluas akses energi bersih hingga pelosok, serta memperkuat daya saing industri rendah emisi.
  • Pemerintah menargetkan 80–100 GW energi surya dengan potensi 760 ribu lapangan kerja baru, sementara AESI membentuk empat tim kerja untuk mengawal visi Surya 100 GW hingga 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Indonesia mencatat tonggak penting dalam transisi energi nasional melalui pencapaian kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap sebesar 1,3 Gigawatt (GW). Pencapaian itu merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI).

Peluncuran capaian tersebut menjadi fondasi awal menuju visi pengembangan 100 GW energi surya nasional pada masa depan. Inisiatif itu masuk dalam rangkaian Road to IndoSolar 2026, sebuah platform kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, dan mitra internasional, Selasa (21/4/2026).

1. Agenda strategis dan pertumbuhan PLTS Atap

IMG-20251106-WA0128.jpg
Fasilitas sarana PLTS atap di pabrik Coca-Cola Ungaran. (IDN Times/Dok Humas CCEP)

Kapasitas PLTS Atap nasional tumbuh nyaris sepuluh kali lipat dalam kurun waktu singkat, bermula dari sekitar 146 Megawatt (MW) pada 2024 menjadi 1,3 GW pada 2026. Pertumbuhan tersebut membuka potensi raksasa ekosistem surya Indonesia.

Berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) tahun 2025, potensinya mencapai 165,9 GW untuk PLTS darat dan 38,13 GW untuk PLTS Terapung.

Inisiatif perluasan PLTS Atap itu sejalan dengan prioritas pembangunan nasional. Langkah tersebut secara langsung mendukung implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 dan peningkatan bauran energi baru terbarukan.

Selain itu, perluasan akses energi bersih kelak menjangkau wilayah pelosok melalui inisiatif berbasis desa dan koperasi.

Pada skala makro, kehadiran PLTS Atap berfungsi untuk memperkuat daya saing industri melalui pemakaian energi yang efisien dan rendah emisi, sekaligus menyiapkan fondasi ekonomi masa depan lewat perluasan industri hijau dan pusat data hijau (green data center).

Adapun, langkah tersebut diyakini mampu mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain utama transisi energi di kawasan ASEAN.

2. Dukungan pemerintah dan inovasi layanan

PLTS Atap di Perumahan.    Debbie Sutrisno/IDN Times
PLTS Atap di Perumahan. Debbie Sutrisno/IDN Times

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi memaparkan target ambisius energi surya nasional sebesar 80 hingga 100 GW. Target tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas dan penciptaan permintaan pasar (demand creation).

"Realisasi program PLTS tidak hanya mendukung bauran energi bersih, tetapi juga membuka potensi penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar. Kami menghitung setidaknya ada 760 ribu pekerjaan baru yang bisa tercipta," jelas Eniya.

Pemerintah juga berencana memperluas area pemasangan panel fotovoltaik ke fasilitas darat (ground mounted) di sekitar fasilitas umum seperti koperasi desa dan puskesmas, serta mendukung akselerasi kendaraan listrik.

Dari sisi layanan, Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto menyatakan komitmen perusahaannya dalam mendukung pemanfaatan energi surya.

PLN sendiri sudah merilis fitur perizinan PLTS Atap pada aplikasi PLN Mobile agar proses permohonan berjalan lebih transparan, cepat, dan mudah bagi pelanggan. Langkah itu merupakan bentuk pelaksanaan amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024.

3. AESI dan Forum Transisi Energi Nasional

Sejumlah pabrik di Jawa Tengah mulai memakai PLTS Atap untuk mengurangi pemanasan global. (IDN Times/bt)
Sejumlah pabrik di Jawa Tengah mulai memakai PLTS Atap untuk mengurangi pemanasan global. (IDN Times/bt)

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari menilai, energi surya kini bergeser dari sekadar potensi menjadi kebutuhan strategis nasional. Mengantongi 135 anggota dari berbagai elemen ekosistem industri surya, AESI siap menjadi mitra strategis pemerintah.

Sebagai langkah konkret, AESI mengadakan National Solar Transition Forum 2026 pada 21–22 April 2026 di Jakarta. Forum itu mengkaji praktik regional dari India, Pakistan, dan Thailand. Selain itu, asosiasi secara resmi membentuk empat kelompok kerja utama untuk mengawal program strategis sepanjang tahun 2026.

Fokus pengawalan itu terbagi ke dalam tim Visi Surya 100 GW (100 GW Solar Vision), tim Produsen Listrik Swasta (Independent Power Producer/IPP), tim khusus PLTS Atap (Rooftop Solar), serta tim perluasan Tenaga Kerja Hijau (Green Workforce).

Melalui kolaborasi lintas sektor yang konsisten, Mada berharap Indonesia bisa menargetkan percepatan transisi menuju netralitas karbon (Net Zero Emission) 2060, sekaligus menjadikan energi surya sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi hijau.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More