Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejarah Nama Ngapak Banyumas, Erat dengan Pasukan Mataram

Sejarah Nama Ngapak Banyumas, Erat dengan Pasukan Mataram
Calung lengger banyumasan yang merupakan representasi masyarakat Banyumas.(IDN Times/Foto : @rumahlengger)
Intinya Sih
  • Istilah 'Ngapak' muncul dari julukan prajurit Mataram Islam saat ekspedisi ke Batavia abad ke-17, yang menemukan perbedaan pelafalan mencolok di wilayah Banyumas.
  • Julukan itu berasal dari bunyi onomatope 'apak-apak' yang terdengar dari cara masyarakat Banyumas melafalkan huruf vokal dan konsonan secara tegas serta lugas.
  • Dialek Ngapak dianggap mempertahankan bentuk Jawa kuno dan menjadi simbol budaya egaliter masyarakat Banyumas yang menolak sistem bahasa berjenjang ala feodalisme Mataram.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Banyumas, IDN Times — Dialek Ngapak atau bahasa Jawa Banyumasan selama ini dikenal luas masyarakat karena keunikan intonasi dan cara pelafalannya yang blak-blakan. Namun, di balik keunikan tersebut, penamaan istilah "Ngapak" ternyata memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan pergerakan pasukan Kerajaan Mataram Islam di masa lampau.

Berdasarkan catatan sejarah dalam Babad Banyumas serta kajian literatur dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Banyumas, istilah "Ngapak" sebenarnya tidak muncul dari dalam masyarakat Banyumas sendiri. Sebutan ini merupakan julukan yang disematkan oleh orang luar daerah, khususnya para prajurit dari pusat Kesultanan Mataram Islam (Yogyakarta-Surakarta).

1. Berawal dari Mobilisasi Prajurit Sultan Agung ke Batavia

Ario Bayu sebagai Sultan Agung. (instagram.com/bayu_ario)
Ario Bayu sebagai Sultan Agung. (instagram.com/bayu_ario)

Keterkaitan istilah ini bermula ketika terjadi mobilisasi besar-besaran pasukan Kerajaan Mataram Islam menuju wilayah barat Pulau Jawa, salah satunya saat misi penyerangan ke Batavia pada abad ke-17 di bawah pemerintahan Sultan Agung. Dalam perjalanan ekspedisi militer tersebut, wilayah eks-Keresidenan Banyumas menjadi salah satu jalur utama transmigrasi sekaligus basis logistik prajurit Mataram.

Peneliti dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa saat berinteraksi dengan penduduk lokal di kawasan lereng Gunung Slamet tersebut, para prajurit Mataram menemukan adanya perbedaan fonologi atau pelafalan bahasa yang sangat mencolok. Masyarakat Banyumas berbicara menggunakan bahasa Jawa asli yang dinilai lebih lugas dan meledak-ledak dibandingkan dengan bahasa Jawa standar keraton yang telah mengalami pembagian tingkatan sosial (unggah-ungguh).

2. Makna Onomatope dari Bunyi "Apak-Apak"

Tari Lengger pada Peken Banyumasan
Tari Lengger pada Peken Banyumasan

Budayawan kawakan asal Banyumas, Ahmad Tohari, dalam berbagai kajian budayanya menjelaskan bahwa julukan "Ngapak" didasarkan pada fenomena onomatope (tiruan bunyi) dari cara pelafalan vokal masyarakat setempat yang didengar oleh telinga orang luar.

Berbeda dengan bahasa Jawa Mataraman yang mengubah pelafalan vokal 'a' menjadi 'o' (seperti kata sega diucapkan sego), masyarakat Banyumas tetap melafalkannya secara murni sebagai 'a' (sega).

Selain itu, setiap kata yang berakhiran huruf 'k', seperti kata bapak, gandeng, atau manak, diucapkan secara penuh dan tegas (glottal stop). Di telinga prajurit Mataram kala itu, percakapan harian penduduk lokal terdengar berulang-ulang seperti bunyi "apak... apak... apak", yang kemudian melahirkan kata kerja "ngapak" atau berbicara dengan gaya "apak".

3. Simbol Eksistensi Budaya yang Egaliter

Kethoprak banyumasan mapag mangsal bakal meramaikan festival bisik serayu 2024.( IDN Times/@riantords
Kethoprak banyumasan mapag mangsal bakal meramaikan festival bisik serayu 2024.( IDN Times/@riantords

Dokumen pemetaan bahasa dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengategorikan bahasa Jawa Banyumasan sebagai dialek asli bahasa Jawa yang justru mempertahankan bentuk kuno (Jawa Dwipa) sebelum era feodalisme Mataram abad ke-17.

Sistem bahasa di pusat Mataram sengaja diubah dengan menciptakan tingkatan bahasa (Ngoko, Krama Madya, Krama Inggil) sebagai alat kontrol sosial pihak kerajaan. Sementara itu, wilayah Banyumas yang geografisnya terpisah oleh pegunungan, tidak terpengaruh oleh budaya feodal tersebut.

Bertahannya dialek Ngapak hingga saat ini mencerminkan karakter masyarakat Banyumas yang egalitarian, jujur, dan menolak sekat-sekat kelas sosial. Istilah Ngapak yang awalnya merupakan sebutan dari pasukan Mataram kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi identitas budaya yang dibanggakan oleh masyarakat Banyumas Raya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More