Sejumlah emak-emak bersama siswa-siswi SMP 25 Semarang mendengarkan penjelasan dari PLN Indonesia Power Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Ketua KWT Cantik Bahari RW 15 Kelurahan Tanjung Mas, Sri Wahyuni mengakui memang tak gampang mengubah pola pikir warga pesisir Tambaklorok.
Ia bilang walau harus berjuang di tengah keterbatasan lahan kritis dan bersalinitas tinggi, akan tetapi lambat-laun kelompok taninya sanggup menjadi salah satu pionir pertanian perkotaan.
Ketua Srikandi PLN IP UBP Semarang, Fajar Feqi Nisai, menuturkan bahwa kegiatan bersama siswa SMPN 25 bentuk sinergi memberikan edukasi sejak dini kepada para pelajar mengenai integrasi pertanian dan energi hijau.
“Kegiatan ini merupakan sinergi Srikandi dan TJSL PLN IP UBP Semarang untuk mengedukasi siswa sekolah terkait urban farming yang dipadukan dengan green energy. Langkah ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi melalui pemanfaatan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) sebagai penggerak Green House dan alat pengering ikan yang dikelola KWT,” ujar Fajar, Minggu (11/10/2026).
Fajar juga berharap pengalaman ini bisa menjadi ajang belajar yang menyenangkan bagi siswa.
"Kami berharap semua siswa dapat belajar dengan ceria, serta mampu menerapkan ilmu urban farming berbasis green energy ini di lingkungan sekolah maupun di rumah, sehingga bermanfaat melengkapi materi pembelajaran mereka di sekolah," urainya.
Rangkaian kegiatan tidak hanya sebatas pemaparan teori di dalam ruangan. Setelah mendapatkan materi, para siswa diajak terjun langsung mempraktikkan cara pembuatan pupuk kompos dan cairan serbaguna eco-enzyme, serta mencoba langsung penanaman bayam brazil.
Melalui program Srikandi Mengajar, PLN IP UBP Semarang berharap dapat terus mencetak generasi muda yang peduli akan ketahanan pangan dan peka terhadap pemanfaatan energi bersih demi keberlanjutan lingkungan di masa depan.