Alasan Dekan Ilmu Sosial se-Indonesia Perbarui Materi Kuliah untuk Mahasiswa

Fordekiis mengembangkan materi kuliah bersama yang dapat diakses dan diadaptasi sekitar 76 fakultas PTN dan UIN, untuk memperkuat kualitas pendidikan serta mengurangi kesenjangan pembelajaran.
Materi mencakup transformasi digital, AI beretika, perubahan iklim, SDGs, kemampuan menulis, public speaking, dan kewirausahaan sosial; fakultas bebas menerapkannya sebagai mata kuliah atau substansi tambahan.
Dalam Pertemuan Nasional 2026 di Undip, Prof Hamidah Nayati Utami terpilih sebagai ketua dan Prof Teguh Yuwono wakil ketua Fordekiis periode 2026-2027.
Semarang, IDN Times – Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial (Fordekiis) perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia mengembangkan materi perkuliahan bersama yang dapat diakses dan diadaptasi oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus memperkecil kesenjangan pembelajaran antar perguruan tinggi.
1. Fordekiis kembangkan materi perkuliahan bagi mahasiswa

Ketua Fordekiis periode 2025-2026 sekaligus Dekan FISIPOL UGM Yogyakarta, Dr Wawan Mas'udi, S.IP., MPA., Ph.D. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Pembahasan tersebut menjadi salah satu agenda Pertemuan Nasional Fordekiis 2026 yang berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jumat-Minggu (23-25/10/2026). Forum ini mempertemukan para dekan fakultas ilmu sosial dari PTN di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi maupun Kementerian Agama, termasuk universitas Islam negeri (UIN).
Ketua Fordekiis periode 2025-2026, Dr Wawan Mas'udi, S.IP., MPA., Ph.D., mengatakan, pihaknya ingin mendorong kolaborasi yang lebih konkret melalui pengembangan materi yang relevan bagi mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik di berbagai daerah.
Menurutnya, materi bersama tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh mahasiswa dari sekitar 76 fakultas perguruan tinggi negeri, termasuk fakultas di lingkungan UIN.
“Yang pasti kita akan mengembangkan pool of resources. Jadi, yang bersama-sama nanti kita taruh dalam platform Fordekis, yang nanti masing-masing akan memiliki kebebasan untuk mengakses sekaligus mengadaptasi,” ujarnya.
2. Transformasi digital hingga etika AI diusulkan di materi kuliah

Ilustrasi transformasi digital (Dok. Pertamina) Materi tersebut nantinya dapat digunakan sebagai mata kuliah tersendiri maupun disisipkan sebagai substansi dalam mata kuliah yang sudah berjalan. Setiap fakultas tetap memiliki keleluasaan menyesuaikan materi dengan karakter dan kebutuhan kampus masing-masing.
Adapun, sejumlah tema yang diusulkan untuk dikembangkan menjadi materi pembelajaran bersama antara lain transformasi digital dan dampaknya terhadap kehidupan sosial, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemudian, perubahan iklim, adaptasi iklim, pembangunan berkelanjutan, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Selain itu, forum juga membahas penguatan keterampilan dasar mahasiswa, seperti kemampuan menulis (writing skill), berbicara di depan publik (public speaking), hingga pengembangan socio-entrepreneurship atau kewirausahaan sosial.
Selanjutnya, penggunaan AI di lingkungan pendidikan juga menjadi perhatian dalam pembahasan Fordekiis. Teknologi ini dinilai dapat membantu mempercepat proses pembelajaran, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan prinsip etika dan tanggung jawab.
‘’Maka itu, pengembangan materi terkait AI juga akan mempertimbangkan aspek etika. Mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar lebih efektif tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri,’’ terang Dekan FISIPOL Universitas Gadjah Mada itu.
3. Prof Hamidah dan Prof Teguh pimpin Fordekiis antar waktu

Ketua Fordekiis periode 2025-2026, Dr Wawan Mas'udi, S.IP., MPA., Ph.D. menyerahkan jabatan kepada Prof Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si sebagai Ketua Fordekiis periode 2026-2027 dan Prof Teguh Yuwono, M.Pol.Admin sebagai Wakil Ketua Fordekiis periode 2026-2027, Sabtu (24/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Melalui pengembangan materi bersama, Fordekis berharap perguruan tinggi dapat saling belajar dan memperkuat kualitas pembelajaran. Kolaborasi antarkampus juga diharapkan membantu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan sekaligus mendorong perguruan tinggi Indonesia lebih kompetitif di tingkat global.
Sementara itu, pada pertemuan tersebut juga dilakukan pemilihan pengurus Fordekiis antarwaktu periode 2026-27. Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, Prof Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si terpilih sebagai Ketua Fordekiis. Sedangkan, Dekan FISIP Undip, Prof Teguh Yuwono, M.Pol.Admin terpilih sebagai Wakil Ketua Fordekiis.
Pada kesempatan itu, Hamidah menyampaikan, forum tersebut menjadi sarana bagi perguruan tinggi untuk berbagi visi, pengalaman, serta strategi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Ia menyebut setiap perguruan tinggi memiliki karakteristik dan tantangan berbeda. Dengan demikian, komunikasi dan koordinasi antarfakultas diperlukan agar berbagai program peningkatan mutu dapat dijalankan melalui kerja sama.
“Dengan kita bersama-sama sharing dan bekerja sama, misalnya terkait dengan indikator kinerja utama (IKU) yang nanti bisa kita kolaborasikan, maka akan kita kolaborasikan,” katanya.
4. Kolaborasi antar perguruan tinggi penting

Puluhan pimpinan fakultas ilmu sosial dari perguruan tinggi negeri Se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial (Fordekiis) berkumpul di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang untuk membahas pengembangan materi perkuliahan, Sabtu (24/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Sementara, Wakil Ketua Fordekiis, Teguh Yuwono menambahkan, kolaborasi antar perguruan tinggi menjadi penting untuk memperkuat daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat global.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berkompetisi satu sama lain. Kampus yang memiliki sumber daya dan pengalaman lebih kuat dapat berbagi pengetahuan serta mendukung perguruan tinggi lain yang masih membutuhkan pengembangan.
“Yang terjadi hari ini adalah kita bergandengan tangan, kita berkolaborasi membangun berkelas dunia. Jadi, kompetisi kita bukan di antara sesama PTN, tetapi PTN itu saling membangun,” imbuhnya.
Adapun, Pertemuan Nasional Fordekiis 2026 di FISIP Undip dihadiri oleh 64 dekan dan pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dari berbagai PTN di Indonesia.









.jpg)











