Semarang, IDN Times – Universitas Diponegoro (Undip) memperkuat hilirisasi riset agar hasil penelitian kampus bisa menjawab persoalan masyarakat. Sejumlah inovasi yang dikembangkan telah dimanfaatkan, mulai dari teknologi pengolahan air laut menjadi air siap minum hingga pendampingan usaha nelayan yang berhasil membuka akses ekspor.
Dies Natalis ke-69, Undip Semarang Pamerkan Riset yang Jawab Masalah Masyarakat

Take a Deeper Read
1. Undip berupaya perluas penerapan riset
Komitmen tersebut disampaikan Rektor Undip, Suharnomo, dalam Sidang Terbuka Senat Akademik untuk memperingati Dies Natalis ke-69 Undip di Muladi Dome, Kampus Tembalang, Semarang, Kamis (15/10/2026).
Menurut Suharnomo, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar reputasi akademik, jumlah publikasi ilmiah, atau pemeringkatan internasional. Kampus juga harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Di tengah tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global, Undip berupaya memperluas penerapan riset agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
2. Teknologi air bersih hingga pemberdayaan nelayan
Salah satu inovasi Undip adalah teknologi desalinasi yang mengolah air laut menjadi air siap minum. Teknologi tersebut telah dimanfaatkan di 11 titik, termasuk wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa, Maluku, dan Nusakambangan. Inovasi ini juga digunakan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Di sektor ekonomi pesisir, pendampingan usaha ikan teri turut membuka akses ekspor ke Jepang, Singapura, dan Sri Lanka. Program tersebut melibatkan sekitar 1.200 nelayan dan membuka lapangan kerja bagi 200 perempuan.
Undip juga mengembangkan teknologi pengering rumput laut berbasis tenaga surya dan biomassa. Sementara di bidang pangan dan lingkungan, inovasi yang dikembangkan mencakup pencegahan stunting serta pengolahan limbah menjadi kompos, budidaya maggot, dan teknologi pirolisis.
Berbagai program tersebut memperlihatkan potensi riset perguruan tinggi untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
3. Riset kampus didorong menjawab masalah daerah
Pentingnya penerapan hasil penelitian juga menjadi sorotan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, dalam orasi ilmiahnya.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran lebih luas daripada mencetak lulusan berkualitas. Kampus juga perlu menjadi penggerak produktivitas, sumber inovasi, penghubung kerja sama global, dan bagian dari penyelesaian persoalan sosial, ekonomi, serta lingkungan.
Pungkas mendorong perguruan tinggi mengembangkan pendekatan living laboratory, yakni pemanfaatan wilayah dan persoalan nyata sebagai ruang penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, keunggulan Undip dalam bidang kebumian, lingkungan, peternakan, kelautan, dan ekonomi berpotensi menjawab berbagai persoalan di daerah, termasuk abrasi, banjir rob di Pantura, ketahanan pangan, dan pengembangan usaha masyarakat pesisir.
Salah satu praktik yang disorot adalah pengembangan Desa Bedono, Kabupaten Demak, melalui rehabilitasi mangrove, kolaborasi penelitian internasional, dan pemberdayaan ekonomi warga.
Pendekatan tersebut membutuhkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pengukuran dampak juga diperlukan agar manfaat program dapat berkelanjutan dan berpotensi diterapkan di wilayah lain.
4. Dampak riset jadi ukuran keunggulan kampus
Perspektif serupa disampaikan Prof. Datuk ChM. Ts. Dr. Taufiq Yap Yun Hin dari Universiti Putra Malaysia melalui orasi ilmiah bertajuk From Research Excellence to Global Impact: Building a World-Class University.
Ia menilai jumlah publikasi, pendanaan penelitian, dan reputasi ilmiah tetap penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan sebuah universitas. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana ilmu pengetahuan dan hasil penelitian mampu membawa perubahan bagi kehidupan manusia.
Taufiq juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia, kualitas pembelajaran, jejaring penelitian internasional, dan ekosistem inovasi untuk memperkuat daya saing perguruan tinggi.
Dalam peringatan Dies Natalis ke-69 ini, Undip turut memberikan apresiasi kepada tujuh akademisinya yang masuk daftar 2 persen ilmuwan terbaik dunia versi Elsevier 2026. Acara juga diisi dengan peluncuran Learning Management System (LMS) DELTA serta pemberian penghargaan kepada dosen, doktor baru, dan tenaga kependidikan berprestasi.
Melalui momentum Dies Natalis ke-69, Undip menegaskan komitmen memperkuat sinergi dan inovasi dengan mendorong hasil penelitian keluar dari ruang akademik agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Curated For You
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- Undip Hub Pembina Wirausaha Jateng, Lulusan Didorong Jadi Job Creator08 Oct 2026, 19:00 WIB
- Mengendus Harumnya Bisnis Nilam Indonesia yang Terbang ke Luar Negeri03 Oct 2026, 10:00 WIB
- Undip Semarang Ranking Kedua Kampus Berkelanjutan Nasional, Bertahan 7 Tahun17 Sep 2026, 21:00 WIB