Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ISPA Naik 10 Persen, Anak Sekolah di Jateng Terpapar dari Karhutla

Kota Semarang
2 min read
ISPA Naik 10 Persen, Anak Sekolah di Jateng Terpapar dari Karhutla
Ilustrasi Anak penyakit ISPA. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Kasus ISPA di Jawa Tengah naik 10 persen sejak Agustus hingga awal Oktober 2026 akibat kemarau ekstrem dan siklus El Nino panjang, namun belum berstatus kejadian luar biasa.

  • Paparan debu saat suhu meningkat serta polusi dari kebakaran hutan dan lahan memperbesar risiko ISPA, dengan temuan tertinggi di Semarang, Solo, dan Banyumas.

  • Penderita didominasi anak SD hingga SMA yang sering beraktivitas di luar ruangan, disusul orang dewasa; Dinkes mengimbau cukup minum, vaksin influenza, dan mengurangi aktivitas luar rumah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jawa Tengah mengalami lonjakan hingga 10 persen. 

Berdasarkan pendataan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah, kenaikan jumlah penderita ISPA muncul dua bulan terakhir karena pengaruh kemarau panjang dari siklus gelombang panas El Nino.

"Peningkatan ISPA sekarang ini ada 10 persen. Itu terjadi sejak Agustus sampai sekarang. Tetapi kondisi saat ini belum KLB (kejadian luar biasa). Sebab itu pengaruh pola perubahan cuaca karena saat ini ada kemarau yang ekstrem. Untuk grafiknya masih wajar," ujar Kepala Dinkes Jateng Zulfachmi Wahab kepada IDN Times, Selasa (6/10/2026).

Zul, sapaan akrabnya berkata sebaran penyakit ISPA jenisnya yakni Influenza tipe A dan tipe B. Menurut Zul jumlah penderita ISPA yang cukup banyak karena berbanding lurus dengan jumlah populasi penduduk Jawa Tengah yang juga tinggi.

Pihaknya mendeteksi kenaikan penderita ISPA mulai terjadi Agustus lalu memasuki September sampai awal Oktober 2026.

Kemarau ekstrem yang ditandai dengan peningkatan suhu panas, katanya memang cenderung membuat paparan debu lebih banyak di luar ruangan.

Penderita ISPA juga banyak dirawat ke rumah sakit karena terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Sebenarnya karena ada kebakaran hutan kan menambah polusi di luar rumah. Ini juga dipengaruhi faktor eksternal yaitu perubahan cuaca yang mana siklus El Nino menjadi sangat panjang," ungkap Zul.

Zul mencatat penderita ISPA paling banyak ditemukan di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Temuan ISPA tertinggi ada di Kota Semarang, Kota Solo dan Kabupaten Banyumas.

"Wilayah paling banyak terpapar ISPA di Semarang Solo, Banyumas atau kota lain  dengan penduduk yang padat," terangnya.

Selain itu, penderita ISPA rata-rata didominasi anak sekolah mulai  SD, SMP dan SMA yang cenderung sering beraktivitas di luar rumah. Namun ada juga penderita ISPA dari kalangan orang dewasa yang beraktivitas luar gedung.

"Paling banyak anak anak sekolah. Soalnya kan anak SD SMP kalau sekolah kegiatannya sering di luar rumah. Terus orang dewasa yang kegiatan fisik hariannya di luar rumah juga kadang kena. Maka dari itu kami selalu imbau dengan suhu panas seperti ini sebaiknya kalau beraktivitas harus minum yang banyak. Terus kalau bisa ikut vaksinasi influenza. Namun bisa juga mengurangi aktivitas luar rumah," tutur Zul.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More