Kebakaran Hutan Gunung Lawu Meluas 10 Hektare, Api Dipadamkan Manual

Kebakaran hutan lindung Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Karanganyar, melanda Petak 28, 32, dan 62C pada 15 Oktober 2026, dengan perkiraan area terdampak sekitar 10 hektare.
Tim gabungan dari BPBD, Perhutani, TNI, polisi, relawan, dan warga memadamkan api secara manual serta membuat sekat bakar karena medan lereng terjal tak dapat dijangkau kendaraan.
Angin kencang dan dedaunan kering mempercepat penyebaran api; jalur pendakian ditutup sementara, patroli diperketat, sementara penyebab kebakaran masih diselidiki.
Karanganyar, IDN Times — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan hutan lindung Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Kamis (15/10/2026). Amukan si jago merah membakar vegetasi rimba, tanaman pinus, hingga rumput kering di Petak 28, Petak 32, dan Petak 62C RPH Blumbang, BKPH Lawu Utara.
Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh warga sekitar pukul 10.00 WIB usai melihat gumpalan asap pekat membumbung tinggi dari area lereng gunung. Berdasarkan perkiraan awal, luas area yang terdampak musibah kebakaran ini telah mencapai sekitar 10 hektare.
1. Petugas Gabungan Berjibaku Padamkan Api Secara Manual

ilustrasi karhutla (pexels.com/Eclipse Chasers) Merespons laporan masyarakat, tim gabungan yang terdiri dari personel Polsek Tawangmangu, BPBD Kabupaten Karanganyar, Perhutani, TNI, relawan, hingga warga setempat langsung dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penanganan darurat.
Namun, sulitnya medan lereng yang terjal membuat armada mobil pemadam kebakaran maupun mobil tangki air tidak dapat menjangkau titik api. Tim di lapangan terpaksa mengandalkan teknik pemadaman manual serta pembuat sekat bakar (ilaran).
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharjo, membenarkan kendala teknis penanganan kebakaran di medan perbukitan tersebut.
"Kamis jam 11.00 kami mendapat informasi bahwa di hutan lindung Lawu, tepatnya di Petak 28, 32, dan 62C di Desa Gondosuli, telah terjadi kebakaran hutan. Saat itu juga relawan serta Perhutani menuju tempat titik api dan berusaha memadamkan api. Karena angin cukup kencang, api dari ketiga titik tersebut sampai saat ini belum padam," ungkap Sugiharjo saat dikonfirmasi, Kamis (15/10/2026).
Sugiharjo menambahkan, fokus utama personel di lapangan saat ini adalah mengisolasi pergerakan api agar tidak menjalar lebih jauh ke area hutan lindung lainnya.
"Pemadamannya karena posisinya ada di lereng itu ya secara manual bisanya, kita buat ilaran dan sebagainya. Jadi untuk mobil pemadam ataupun tangki kita tidak bisa naik ke atas. Manual, ada yang pakai gebyok, kemudian kita buat ilaran di sekitarnya biar tidak merambat terluas, dan ada pompa-pompa tangan," jelasnya.
2. Hembusan Angin Kencang Jadi Kendala Utama

ilustrasi karhutla di Indonesia (pexels.com/Vladyslav Dukhin) Selain faktor topografi yang curam, kencangnya terpaan angin dan banyaknya tumpukan dedaunan kering menjadi pemicu utama cepatnya sebaran api di sepanjang lereng Gunung Lawu.
Kapolsek Tawangmangu, AKP Eling Adi Utomo, S.H., menyampaikan bahwa seluruh personel gabungan bertindak ekstra hati-hati selama proses pemadaman demi mengutamakan keselamatan.
“Kami bersama petugas Perhutani, relawan, dan masyarakat terus berupaya melakukan pemadaman. Kondisi angin yang cukup kencang menjadi salah satu kendala di lapangan sehingga penanganan harus dilakukan dengan penuh kewaspadaan. Kami juga terus memantau perkembangan situasi agar api tidak semakin meluas,” tegas AKP Eling Adi Utomo.
AKP Eling juga mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menjaga kawasan hutan di tengah kondisi cuaca yang rentan memicu kebakaran.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Apabila melihat titik api atau mengetahui adanya kebakaran, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani secepat mungkin,” imbaunya.
3. Jalur Pendakian Ditutup Sementara

ilustrasi karhutla (Pexels.com/Saravanan Narayanan) Sebagai langkah antisipasi dan demi keselamatan, jalur pendakian Gunung Lawu ditutup sementara waktu. Pihak Perhutani bersama para relawan juga mengintensifkan patroli berkala di sepanjang jalur hutan guna memantau kemunculan titik api baru.
"Untuk patroli secara periodik dilakukan oleh Perhutani dan juga relawan. Karena anginnya cukup kencang, kita mengutamakan keselamatan, kita lokalisir, kita berupaya semaksimal mungkin. Jalur pendakian masih ditutup sementara karena dedaunan kering mudah sekali terjadi bencana," tutup Sugiharjo.
Hingga saat ini, penyebab pasti memuncaknya titik api masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang. Tim gabungan terus bersiaga di lokasi untuk melokalisasi kobaran api.























