Kisah Penyintas Kanker, Ingatkan Wanita Jangan Takut Periksa Payudara

Fara Anggarani menjalani USG Mammae pertama kali untuk memastikan kondisi kesehatan, meski tanpa keluhan dan riwayat kanker payudara di keluarga.
Penyintas Indahjanti Sutanto menunda pemeriksaan benjolan selama sekitar lima tahun karena takut, hingga akhirnya didiagnosis kanker payudara dan menjalani pengobatan.
Mal Ciputra Semarang menyediakan USG Mammae gratis bagi 50 perempuan, disertai edukasi nutrisi dan aktivitas fisik untuk mendorong deteksi serta gaya hidup sehat.
Take a Deeper Reads

Semarang, IDN Times - Fara Anggarani tidak datang ke Mal Ciputra Semarang karena merasakan keluhan tertentu. Perempuan berusia 33 tahun itu justru datang karena satu alasan sederhana, yakni ingin memastikan dirinya sehat.
1. Periksa payudadra bentuk sayang pada diri sendiri

Ilustrasi pemeriksaan atau deteksi dini kanker payudara dengan USG Mamae. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Untuk kali pertama, Fara mengikuti pemeriksaan USG Mammae yang diselenggarakan Mal Ciputra Semarang melalui program CSR “Be Aware, Take Action” dalam rangka Breast Cancer Awareness Month 2026, Selasa (6/10/2026). Ia mengaku selama ini belum pernah secara khusus memeriksakan kondisi payudaranya.
“Saya pertama kali periksa payudara, pengen aware soal kesehatan. Memastikan saja kalau kita sehat,” ujarnya saat ditemui, Selasa (6/10/2026).
Hasil pemeriksaannya pun baik. Tidak ditemukan masalah dari pemeriksaan USG Mammae yang dijalaninya. Fara mengaku, di keluarganya juga tidak ada riwayat penderita kanker payudara. Namun, ia memilih tidak menjadikan hal itu alasan untuk abai.
Menurutnya, perkembangan berbagai penyakit membuat seseorang tetap perlu mengenali dan memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri.
“Lebih sayang ke diri sendiri. Kalau ada yang aneh pada diri kita gercep saja. Jangan takut, pikiran jangan ke mana-mana. Aware saja, mencintai diri sendiri itu penting,” katanya.
2. Indah sadari ada benjolan tapi memilih diam

Penyintas kanker payudara, Indahjanti Sutanto menceritakan kisahnya mengidap penyakit kanker payudara di acara program CSR Mal Ciputra Semarang bertajuk Be Aware, Take Action dalam rangka Breast Cancer Awareness Month 2026, Selasa (6/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Kesadaran untuk memeriksakan diri menjadi semakin penting ketika mendengar pengalaman seorang penyintas kanker payudara seperti Indahjanti Sutanto .
Perempuan yang bekerja sebagai terapis anak berkebutuhan khusus itu pertama kali didiagnosis kanker pada 2015. Saat itu usianya 52 tahun. Dalam pengakuannya, Indah sebenarnya sudah menyadari adanya benjolan di payudaranya sejak sekitar lima tahun sebelumnya.
Namun, ia memilih diam. Bukan karena tidak menyadarinya, melainkan karena takut.
“Saya menyadari kalau ada benjolan sudah lama, sekitar lima tahun sebelum memeriksakannya. Tapi saya takut sama jarum,” tuturnya.
Sampai suatu ketika ia mengantar saudaranya menjalani biopsi. Melihat proses tersebut, Indah kembali teringat pada benjolan yang ada di tubuhnya. Namun, pemeriksaan itu tetap ditundanya. Ia bahkan sempat berharap penyakit tersebut hilang dengan sendirinya.
“Saya berdoa agar penyakit atau benjolan saya hilang,” katanya.
3. Menerima kondisi menjalani proses pengobatan

Para perempuan mengikuti pemeriksaan payudara melalui USG Mammae di Mal Ciputra Semarang, Selasa (6/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Hingga sebuah fase penuh tekanan membuatnya akhirnya mendatangi dokter. Setelah menjalani pemeriksaan, kekhawatiran yang selama ini dihindarinya menjadi kenyataan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia positif kanker payudara. Sebagai manusia, Indah mengaku takut. Namun, ia kemudian memilih menerima kondisi tersebut dan menjalani proses pengobatan.
“Saya bilang ke keluarga kalau memang operasi ya sudah, melewati itu semua,” ujarnya.
Pengalaman panjang menghadapi kanker payudara membuat Indah melihat penyakit tersebut bukan hanya sebagai persoalan medis. Ada proses menerima keadaan, menghadapi ketakutan hingga berdamai dengan berbagai hal dalam kehidupan.
“Ketika divonis kita harus menerima dulu,” katanya.
Ia juga memilih melepaskan berbagai perasaan negatif yang selama ini mungkin membebani dirinya.
“Kalau ada rasa yang tidak baik, saya minta ampun. Saya melepas orang-orang yang menyakiti saya,” ujarnya.
4. Penambahan usia dan perubahan tubuh perlu jadi perhatian

Dokter Spesialis Gizi RS Columbia Asia Semarang, dokter Enny Probosari, MSi.Med, Sp.GK, memberikan edukasi kesehatan bagi penderita kanker payudara di Mal Ciputra Semarang, Selasa (6/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Selanjutnya, persoalan kesehatan perempuan kemudian tidak berhenti pada pemeriksaan. Dokter Spesialis Gizi RS Columbia Asia Semarang, dokter Enny Probosari, MSi.Med, Sp.GK, mengingatkan bahwa perubahan tubuh, terutama pada usia 40-50 tahun, perlu menjadi perhatian.
Pada rentang usia tersebut, berbagai perubahan hormon dapat terjadi. Maka itu, menjaga pola makan dan kondisi tubuh menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
Bagi pasien kanker, kebutuhan gizi bahkan memiliki peran yang lebih luas. Nutrisi yang baik membantu menjaga berat badan dan kekuatan otot, mendukung daya tahan tubuh, serta membuat tubuh lebih siap dan toleran terhadap berbagai terapi seperti operasi, kemoterapi maupun radioterapi.
‘’Asupan gizi yang baik juga berperan terhadap kualitas hidup pasien. Maka itu, pola makan sehari-hari perlu diperhatikan, termasuk jenis makanan yang dikonsumsi,’’ ujarnya.
Enny mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu sering mengonsumsi makanan yang dibakar hingga berwarna hitam karena bersifat karsinogenik. Makanan yang mengandung bahan pengawet juga perlu diperhatikan.
‘’Kebiasaan kecil seperti memilih camilan pun dapat diubah. Daripada menjadikan makanan tinggi gula atau makanan olahan sebagai camilan, buah-buahan dapat menjadi pilihan,’’ terangnya.
5. Mal Ciputra hadirkan USG Mammae gratis

Mal Ciputra Semarang menggelar acara edukasi dan pemeriksaan kanker payudara melalui program CSR bertajuk Be Aware, Take Action dalam rangka Breast Cancer Awareness Month 2026, Selasa (6/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Sementara, perjalanan menghadapi kanker juga tidak harus dijalani sendirian. Ketua Komunitas Kanker Semarang CISC Suluh Hati Semarang, Cahyaning Puji Astuti mengatakan, komunitas tersebut menaungi bukan hanya penyintas kanker payudara. Berbagai jenis kanker berkumpul dalam komunitas tersebut.
“Ini bukan hanya milik perempuan. Bahkan, ada pula laki-laki yang mengalami kanker payudara,” kata perempuan yang akrab disapa Naning itu.
Bagi para penyintas dan pejuang kanker, komunitas menjadi ruang untuk saling menguatkan.
“CISC rumah kedua penyintas dan pejuang kanker. Ayo saling menyemangati dan support. Keanggotaan komunitas ini juga terbuka dan tidak dipungut biaya,” ungkapnya.
Pesan mengenai pentingnya deteksi dan menjaga kesehatan itu menjadi bagian dari program CSR Mal Ciputra Semarang bertajuk Be Aware, Take Action dalam rangka Breast Cancer Awareness Month 2026. Berkolaborasi dengan RS Columbia Asia Semarang, Mal Ciputra menghadirkan pemeriksaan USG Mammae gratis bagi 50 perempuan di Atrium Mal Ciputra Semarang, Selasa (6/10/2026).
Program tersebut tidak hanya berisi pemeriksaan. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai nutrisi serta aktivitas fisik bersama personal trainer dari K-Fitness. Pesannya sederhana, yakni menjaga kesehatan tidak harus dimulai dengan perubahan besar.
Olahraga dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing, bahkan melalui aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin.
Mal Manager Mal Ciputra Semarang, Ani Suyatni mengatakan, program Be Aware, Take Action diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi memberikan manfaat yang bisa diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin program ini tidak hanya hadir sebagai agenda tahunan, tetapi juga membawa manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.






















