Semarang, IDN Times – Kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Kota Semarang. Dalam enam tahun terakhir, jumlah kasus yang terdeteksi terus meningkat dan kini mencapai ratusan kasus setiap tahunnya.
Hasil CKG di Semarang: Penyakit Kanker Payudara Tertinggi, Kasus Naik 2 Kali Lipat

- Kanker payudara menjadi kasus kanker terbanyak di Semarang, dengan temuan naik dari 459 kasus pada 2020 menjadi 812 pada 2025; hingga pertengahan 2026 tercatat 767 kasus.
- Kanker serviks berada di urutan kedua dan kembali meningkat sejak 2023; Dinkes menyebut perluasan skrining HPV/DNA turut membuat kelainan terdeteksi lebih akurat.
- Skrining kanker gratis 10–12 Agustus menemukan benjolan payudara dan kelainan leher rahim yang ditindaklanjuti; program CKG telah menjangkau 707.382 warga, atau 40,74 persen sasaran.
Semarang, IDN Times – Kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Kota Semarang. Dalam enam tahun terakhir, jumlah kasus yang terdeteksi terus meningkat dan kini mencapai ratusan kasus setiap tahunnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, kanker payudara menempati urutan pertama kasus kanker di Kota Semarang, disusul kanker serviks atau kanker leher rahim di posisi kedua.
“Jadi dua besar kanker yang ada di Kota Semarang ini nomor satu kanker payudara, nomor dua kanker serviks,” ungkapnya saat dikonfirmasi Kamis (13/8/2026).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, kanker payudara menempati urutan pertama kasus kanker di Kota Semarang, disusul kanker serviks atau kanker leher rahim di posisi kedua.
“Jadi dua besar kanker yang ada di Kota Semarang ini nomor satu kanker payudara, nomor dua kanker serviks,” ungkapnya saat dikonfirmasi Kamis (13/8/2026).
1. Kasus kanker payudara naik hampir dua kali lipat dalam enam tahun
Data Dinkes Kota Semarang menunjukkan tren peningkatan temuan kanker payudara dari tahun ke tahun. Pada 2020 tercatat 459 kasus berdasarkan pemeriksaan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis), kemudian naik menjadi 512 kasus pada 2021, 590 kasus pada 2022, 690 kasus pada 2023, 768 kasus pada 2024, dan mencapai 812 kasus pada 2025.
Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kasus yang telah ditemukan mencapai 767 kasus dan masih berpotensi bertambah hingga akhir tahun.
‘’Jika dihitung secara tahunan, rata-rata kenaikan temuan kasus kanker payudara di Kota Semarang mencapai sekitar 12,2 persen per tahun,’’ kata Hakam.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena kanker payudara merupakan salah satu penyakit dengan risiko kematian tinggi apabila terlambat ditangani.
2. Kanker serviks ikut meningkat

ilustrasi kanker serviks (freepik.com/freepik) Selain kanker payudara, kanker serviks juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2020 ditemukan 130 kasus kanker serviks. Angka tersebut sempat turun menjadi 117 kasus pada 2021 dan 103 kasus pada 2022. Namun, sejak 2023 jumlah temuan kembali meningkat menjadi 131 kasus, lalu 156 kasus pada 2024 dan 170 kasus pada 2025.
Sepanjang 2026, Dinkes mencatat sudah ada 112 kasus kanker serviks yang teridentifikasi.
Menurut Dinkes, kenaikan temuan kasus sejak 2023 tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan kejadian penyakit. Salah satu faktor utamanya adalah berkembangnya metode skrining.
Untuk diketahui, jika sebelumnya deteksi dini hanya mengandalkan metode IVA, kini pemeriksaan juga menggunakan teknologi HPV/DNA yang mampu menemukan lebih banyak kelainan secara lebih akurat.
‘’Artinya, peningkatan angka temuan juga menunjukkan bahwa cakupan dan kualitas deteksi dini kanker serviks di Kota Semarang semakin baik,’’ ujar Hakam.
3. Skrining gratis temukan benjolan payudara dan kelainan serviks

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Temuan kasus kanker menjadi salah satu alasan Pemkot Semarang menggelar program skrining kanker gratis selama tiga hari di Balai Kota Semarang pada 10–12 Agustus 2026.
Program tersebut menyediakan pemeriksaan payudara, skrining kanker leher rahim, foto rontgen dada, pemeriksaan darah, hingga konsultasi dengan dokter spesialis bedah, obgyn, dan radiologi.
Dari hasil pemeriksaan awal, Dinkes menemukan peserta dengan benjolan pada payudara maupun hasil skrining leher rahim yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
“Kalau ada hasil positif, ada benjolan atau ada hasil pemeriksaan leher rahim yang memerlukan tindak lanjut, pasti langsung dilakukan tata laksana. Kalau tidak bisa di puskesmas akan dirujuk ke rumah sakit,” tegasnya.
4. CKG Semarang sudah menjangkau lebih dari 707 ribu warga

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Hakam menilai deteksi dini menjadi kunci untuk menekan angka kesakitan sekaligus mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Menurutnya, banyak kasus kanker baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut sehingga membutuhkan biaya pengobatan jauh lebih besar.
“Nah kalau dilakukan skrining, ketahuan lebih dini, nanti diobati jangan sampai kemudian jadi penyakit kronik,” katanya.
Hingga 12 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Semarang telah mencapai 707.382 peserta atau 40,74 persen dari total sasaran 1.389.028 warga.
Angka tersebut masih jauh dari target nasional yang ditetapkan sebesar 80 persen penduduk. Karena itu, Dinkes terus mendorong masyarakat memanfaatkan layanan skrining kesehatan gratis, terutama untuk penyakit yang berisiko tinggi seperti kanker payudara dan kanker serviks.
Namun, menurut Hakam, meningkatnya temuan kasus justru menunjukkan semakin banyak warga yang berhasil dideteksi lebih awal sebelum penyakit berkembang ke stadium yang lebih berat.
“Semakin cepat ditemukan, peluang pengobatan dan kesembuhan tentu akan semakin besar,” pungkasnya.




















